Ketua Komisi Pendidikan KWI, Romo Antonius Vico Christiawan, SJ, memberikan paparan strategis dalam sesi malam Pertemuan Komisi Pendidikan (Komdik) dan Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Regio Sumatera di Aula Gratia, Wismalat Podomoro, Rabu (11/3/2026). Di hadapan 40 peserta dari perwakilan sekolah, majelis pendidikan dan perguruan tinggi Katolik Regio Sumatera, ia menekankan pentingnya mendesain “Peta Harapan Baru” melalui Evaluasi Diri Sekolah (EDS) yang dipandang sebagai perjalanan spiritual sekaligus profesional.

Bukan Menghakimi, Tapi Refleksi Mendalam
Romo Vico menegaskan bahwa EDS Katolik bukanlah ruang untuk menghakimi kekurangan lembaga, melainkan sebuah “Laboratorium Discernment“. Laboratorium ini menjadi ruang aman bagi para pengelola pendidikan untuk mencermati realitas saat ini demi merancang peta harapan masa depan.
“Tujuan sejatinya adalah menemukan kembali alasan atau dasar keberadaan sekolah Katolik di tengah perubahan zaman yang begitu cepat,” ungkapnya merujuk pada fokus utama evaluasi tersebut.
Enam Pilar dan Karakter Lulusan Kristosentris
Dalam materinya, Romo Vico memaparkan Enam Pilar Evaluasi Diri Sekolah Katolik sebagai instrumen penguatan mutu:
- Pilar Identitas dan Misi Kristosentris: Mengevaluasi sejauh mana Yesus Kristus menjadi batu sendi seluruh upaya pendidikan.
- Pilar Iklim Lingkungan dan Budaya Dialog: Menciptakan semangat kekeluargaan dan perlindungan anak.
- Pilar Pendidik dan Tenaga Kependidikan: Menekankan peran GTK sebagai saksi iman.
- Pilar Kurikulum dan Integrasi Iman-Budaya-Hidup: Bagaimana cahaya iman menerangi setiap mata pelajaran dan edukasi ekologi (Laudato Si’).
- Pilar Kemitraan dan Jejaring: Membangun konstelasi kerja sama yang luas.
- Pilar Tata Kelola dan Manajemen: Pengelolaan yang transparan dan akuntabel.
Keenam pilar tersebut harus dilengkapi dengan instrumen pendukung agar tercipta lingkungan pendidikan yang memadai. Selain itu, sekolah-sekolah katolik juga diharapkan memiliki pedoman perlindungan anak (safe guarding). Ia mengingatkan bahwa setiap dimensi ini adalah bagian integral yang tidak terpisahkan; kekuatan di satu pilar tidak dapat menggantikan kelemahan di pilar lainnya.
Profil Lulusan: Agen Perubahan yang Inklusif
Lebih lanjut, Romo Vico menjabarkan profil lulusan yang diharapkan lahir dari rahim sekolah Katolik. Lulusan ideal bukan sekadar unggul secara akademik, tetapi harus menjadi pribadi yang Kristosentris (berpusat pada Kristus), memiliki ketajaman intelektual, serta menjadi agen dialog dan persaudaraan inklusif.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya lulusan menjadi penggerak solidaritas dan kesejahteraan umum (Common Good) yang menjunjung tinggi martabat manusia. “Lulusan kita harus memiliki keberpihakan pada yang miskin dan menunjukkan integritas hidup yang menempatkan martabat manusia di atas kepentingan materi,” tegasnya.
Menuju Standar Nasional dan Internasional
Menutup paparannya, Romo Vico mengaitkan standar Katolik ini dengan 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) dari Kemendikbudristek, mulai dari standar kompetensi lulusan hingga sarana prasarana. Ia menekankan bahwa sekolah yang unggul harus memiliki tata kelola keuangan yang terencana untuk 3-5 tahun ke depan serta kebijakan pengembangan SDM yang berkelanjutan.
Melalui materi ini, Romo Vico SJ mengajak seluruh peserta untuk kembali ke basis identitas Katolik yang berakar pada nilai-nilai Injil dan Ekaristi sebagai motor penggerak keunggulan pendidikan.
**Diakon Bednadetus Aprilyanto
