
Suasana siang pada hari ketiga pertemuan Komisi Pendidikan dan Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Regio Sumatera di Wismalat Podomoro, Banyuasin, Kamis (12/3/2026), terasa semakin hangat. Para peserta yang terdiri dari jajaran Komisi Pendidikan Keuskupan, pengurus MPK, perwakilan yayasan-yayasan pendidikan, hingga para pimpinan perguruan tinggi Katolik dari berbagai wilayah di Sumatera diajak mendalami materi yang disampaikan oleh mantan Rektor Soegijapranata Catholic University periode 2021-2025, Ferdinandus Hindiarto.
Dalam pemaparannya, doctor bidang psikologi ini mengajak para peserta merefleksikan langkah-langkah konkret dalam membangun sekolah Katolik yang unggul. Hal ini sejalan dengan tema pertemuan, “Bersinergi Membangun Pendidikan Katolik yang Bermutu, Berkarakter, dan Relevan di Regio Sumatera.”
Modal Intelektual
Menurutnya, membangun sekolah Katolik yang unggul tidak bisa hanya mengandalkan kemegahan bangunan atau kekuatan finansial semata. Kekuatan sejati sebuah lembaga pendidikan justru terletak pada modal intelektual yang sering kali tidak terlihat namun menjadi penentu reputasi jangka panjang. Modal ini mencakup citra sekolah di mata masyarakat, sistem tata kelola yang solid, hingga kualitas relasi sosial antarmanusia di dalamnya. Ketika guru, siswa, dan orang tua membangun hubungan yang harmonis dan saling percaya, citra sekolah akan menguat dengan sendirinya, menciptakan daya tarik alami bagi calon siswa dan masyarakat luas.
Menanamkan Nilai Hidup
Lebih lanjut, Ferdinandus yang pernah menjabat sebagai Psikolog Timnas U-19 (2016-2017) dan Piala AFF 2016 ini mengungkapkan bahwa eksistensi sebuah sekolah diuji dari nilai-nilai yang berhasil dihidupi oleh para siswa dan alumninya. Sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter pribadi yang berintegritas. Namun, nilai-nilai mulia ini tidak akan terwujud tanpa adanya komitmen konsisten dari seluruh ekosistem sekolah. Mulai dari pihak yayasan, pimpinan, hingga staf kependidikan, semuanya harus bergerak dalam satu visi yang sama bukan hanya menjadi slogan tanpa makna.

Fasilitas dan Pendampingan Karakter
Dosen bidang Psikologi yang aktif dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) ini menegaskan bahwa keunggulan sebuah sekolah juga tercermin dari bagaimana ia menyediakan ruang bertumbuh yang ideal bagi siswanya. Kehadiran fasilitas yang memadai bukan sekadar untuk kenyamanan, melainkan untuk menumbuhkan rasa bangga dan mendukung efektivitas belajar. Di sisi lain, pengembangan pribadi melalui kegiatan ekstrakurikuler yang terarah menjadi kunci dalam mengasah bakat dan kemampuan sosial siswa.
Alumni Universitas Gajah Mada ini juga menyampaikan pentingnya pendampingan personal dan kolaborasi dengan orang tua. Menurutnya, melalui pendampingan personal yang mendalam dan profesional, serta kolaborasi erat dengan orang tua, sekolah dapat memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan pembentukan karakter yang utuh dan relevan dengan kebutuhan masa depan.
Dialog Iman dan Nalar
Proses pembelajaran di sekolah Katolik harus mampu menjawab tantangan zaman dengan tetap berakar pada nilai-nilai Injil. Kurikulum yang adaptif perlu dibarengi dengan peran guru sebagai pemantik rasa ingin tahu, sehingga siswa terdorong untuk bereksplorasi lebih jauh daripada sekadar mencari informasi instan di gawai. Pembelajaran yang relevan dengan pengalaman hidup akan mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dan melakukan refleksi mendalam. Tujuan akhirnya adalah transformasi pribadi yang nyata, di mana siswa tumbuh menjadi pribadi yang matang, mampu memahami pengalaman hidupnya, dan siap memberikan dampak positif bagi dunia.

Komunitas Pembelajar Profesional
Untuk menjaga kualitas pendidikan, para pendidik memerlukan wadah untuk terus mengasah profesionalisme mereka, salah satunya melalui Professional Learning Community (PLC). Dalam komunitas ini, para guru secara rutin berefleksi, berbagi pengalaman pedagogis, dan berdiskusi berbasis data mengenai perkembangan siswa. Fokus utama dalam PLC bukan lagi sekadar pada aktivitas mengajar, melainkan pada pemahaman mendalam terhadap proses belajar siswa, termasuk mendiagnosis cara berpikir mereka. Dengan dukungan kebijakan dari yayasan dan kepemimpinan sekolah yang kuat, PLC menjadi sarana efektif untuk menciptakan inovasi pembelajaran yang berdampak langsung pada kemajuan siswa.
**Diakon Bednadetus Aprilyanto
