Ferdinandus Hindiarto: Menjadikan Sekolah sebagai Perutusan Gereja dan Transformasi Pribadi

Ferdinandus Hindiarto memberikan materi. | Foto: Komsos KAPal

Suasana di Wismalat Podomoro, Banyuasin, pada Jumat (13/3/2026) terasa berbeda. Memasuki hari ketiga pertemuan Komisi Pendidikan (Komdik) dan Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Regio Sumatera, para pengelola pendidikan Katolik se-Sumatera diajak untuk menyatukan visi mengembalikan jati diri sekolah Katolik sebagai garda depan perutusan Gereja, bukan hanya sebagai penyedia jasa pendidikan.

Hadir sebagai narasumber utama, mantan Rektor Soegijapranata Catholic University periode 2021-2025, Ferdinandus Hindiarto. Dalam paparannya ia menekankan bahwa misi pendidikan Katolik melampaui angka-angka akademik. Ini adalah tentang membentuk kedalaman pribadi manusia secara utuh.

Menjadikan Dokumen Gereja sebagai Kompas

Ferdinandus mengingatkan bahwa arah gerak sekolah Katolik sudah digariskan dengan jelas dalam dokumen Gravissimum Educationis. Dokumen ini harus menjadi kompas agar sekolah tidak sekadar menjadi tempat “transfer ilmu”.

Target akhirnya adalah transformasi pribadi. Siswa diharapkan mengalami perubahan karakter yang mendalam. Selain itu, sinergi dengan keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak adalah hal utama. Sekolah tidak bisa berjalan sendiri; orang tua dan masyarakat harus berkolaborasi agar pendidikan benar-benar menjadi sarana pewartaan nilai kehidupan.

Ferdinandus Hindiarto. | Foto: Komsos KAPal

Guru: Sosok Rasul di Dunia Modern

Satu poin mendasar yang disoroti adalah peran guru. Dosen yang pernah menjadi Direktur Bisnis PSIS Semarang pada 2018-2019 ini menegaskan bahwa guru adalah ujung tombak keberhasilan misi ini. Ia menyebut profesi guru sebagai sebuah bentuk “kerasulan”.

Namun, ia juga memberikan peringatan keras, bahwa pendidikan bisa runtuh jika martabat guru diremehkan, misalnya dengan beban administrasi yang berlebihan hingga mengabaikan kesejahteraan mereka. Antusiasme guru untuk membimbing siswa hanya bisa terjaga jika sistem pendukungnya sehat. Guru harus dibebaskan untuk fokus pada pembelajaran yang bermakna, bukan terjebak dalam tumpukan kertas.

Dialog Iman, Nalar, dan Tantangan Zaman

Di tengah perkembangan dunia yang serba cepat, sekolah Katolik dituntut untuk peka membaca “tanda-tanda zaman”. Kerja sama lintas lembaga, baik skala nasional maupun internasional, kini menjadi kebutuhan mendesak.

Peserta Pertemuan Komdik Regio Sumatera. | Foto: Komsos KAPal

Pendidikan Kristiani harus mampu menjembatani dialog antara iman dan nalar. Dengan kompetensi profesional yang kuat dan keterbukaan terhadap keberagaman, sekolah Katolik diharapkan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan semangat melayani di tengah masyarakat.

**Diakon Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.