
Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Palembang mengadakan kegiatan “Sosialisasi Program Paroki Tangguh dan SOP Tanggap Darurat Caritas PSE KAPal bersama SSP dan Relawan Kebencanaan Paroki” pada 13–15 Maret di Wismalat Podomoro. Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta yang merupakan perwakilan paroki-paroki serta berbagai komunitas yang ada di Keuskupan Agung Palembang (KAPal).
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program Paroki Tanggap Bencana yang dicanangkan dalam Hari Studi Imam-Imam Regio Sumatra pada 3–5 Maret lalu. Melalui sosialisasi ini, Komisi PSE mengajak para pengurus dan relawan kebencanaan paroki untuk memahami langkah-langkah konkret dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana di lingkungan Gereja.

Acara diawali dengan Perayaan Ekaristi pada Jumat, (13/3) pukul 17.00 WIB yang dipimpin oleh Vikaris Jenderal KAPal, Romo Yohanes Kristianto. Dalam homilinya, Romo yang akrab disapa Romo Kris tersebut menegaskan bahwa perhatian Gereja terhadap isu kebencanaan tidak terlepas dari seruan Bapa Suci Paus Fransiskus mengenai kondisi bumi dan alam yang semakin memprihatinkan. Seruan tersebut juga menjadi bahan pembicaraan dalam pertemuan para uskup di Regio Sumatra.
Dalam pertemuan itu, para uskup menyampaikan empat rekomendasi penting yang menjadi perhatian bersama, yakni kaderisasi, isu perdagangan orang (TPPO), pemanfaatan media sosial, serta perhatian terhadap ekologi. Keempat hal tersebut dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab Gereja dalam menjawab tantangan zaman, sekaligus menjaga martabat manusia dan kelestarian alam ciptaan Tuhan.

Romo Kris menekankan bahwa seluruh karya pelayanan Gereja harus selalu berakar pada sumber iman, yaitu altar. Dari altar itulah umat memperoleh kekuatan rohani yang menjadi dasar dari setiap pelayanan.
“Gereja memiliki tiga pilar utama, yaitu liturgi, diakonia, dan martiria. Liturgi menjadi sumber dan pusat kehidupan iman, diakonia adalah pelayanan kasih kepada sesama, sedangkan martiria merupakan kesaksian iman di tengah dunia. Pelayanan dan kesaksian tidak akan memiliki kekuatan jika tidak bersumber dari iman yang mendalam kepada Tuhan,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa iman sejati tidak berhenti pada pemikiran atau wacana semata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata, terutama melalui kasih kepada sesama. Karena itu, iman yang militan adalah iman yang diwujudkan secara total dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam relasi dengan Tuhan maupun dalam pelayanan kepada sesama.

Lebih lanjut, Romo Kris mengingatkan bahwa wilayah Keuskupan Agung Palembang tidak luput dari berbagai bencana alam. Beberapa daerah pernah mengalami gempa bumi di Bengkulu, serta banjir dan kebakaran di wilayah Jambi dan Sumatra Selatan. Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa bencana dapat terjadi kapan saja dan di mana saja.
“Pertanyaannya, apakah kita hanya akan menjadi penonton ketika bencana terjadi?” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, ia berharap berbagai pemikiran yang lahir dalam Hari Studi Imam-Imam tidak berhenti sebagai wacana semata, tetapi sungguh diwujudkan dalam langkah nyata. Salah satunya dengan melibatkan para pengurus dan relawan untuk bersama-sama mempersiapkan paroki agar mampu merespons bencana secara cepat dan terorganisasi.

Menurut Romo Kris, menjadi relawan berarti memiliki kerelaan hati yang lahir dari kedalaman kasih. Namun, niat baik saja tidak cukup. Paroki Tanggap Bencana membutuhkan keterampilan, pelatihan, serta kesiapan yang terorganisasi dengan baik.
“Melalui kebersamaan, solidaritas, dan kerja sama yang kuat, Gereja dapat membangun kekuatan untuk melayani mereka yang terdampak bencana,” ujarnya.
Pada akhirnya, seluruh upaya tersebut berakar pada panggilan rohani untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, budi, dan kekuatan. Dari kasih kepada Tuhan itulah lahir dorongan untuk melayani sesama dengan sepenuh hati.

Diharapkan melalui program ini, Gereja tidak hanya hadir ketika bencana terjadi, tetapi juga mampu bersiap sejak awal. Dengan demikian, paroki-paroki dapat menjadi komunitas yang peduli, sigap, dan penuh kasih bagi siapa pun yang membutuhkan.
“Dengan semangat ini, Gereja diharapkan mampu menjadi tanda harapan bagi masyarakat, sekaligus menghadirkan wajah kasih Allah melalui tindakan nyata di tengah berbagai situasi kehidupan,” pungkasnya.
Setelah Perayaan Ekaristi peserta diajak ke Aula Maria untuk mendengarkan penjelasan mengenai safety briefing dan sosialisasi tugas dan mandat Karitas KAPal.
***Yuyuani Daro
