
Kegiatan Sosialisasi Program Paroki Tangguh yang diikuti oleh para pengurus PSE, Seksi Sosial Paroki (SSP), serta relawan kebencanaan paroki se-Keuskupan Agung Palembang resmi ditutup dengan Perayaan Ekaristi pada Minggu (15/3) pukul 10.45 WIB. Perayaan tersebut berlangsung di Kapel Wismalat Podomoro dan dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, Romo Yohanes Kristanto.
Dalam homilinya, Romo yang akrab disapa Romo Kris ini mengajak umat untuk merefleksikan perjalanan iman setiap orang. Ia mengatakan bahwa setiap manusia memiliki sejarah hidup sejak dilahirkan. Perjalanan tersebut kemudian diperbarui melalui kelahiran baru dalam sakramen baptis.

Romo Kris juga menyinggung kisah-kisah pengalaman iman para katekumen yang sering kali berawal dari perjumpaan pribadi yang menggerakkan hati. Ia menceritakan salah satu kisah seorang katekumen muda yang merasa diselamatkan oleh sosok berjubah putih ketika rumahnya terbakar. Pengalaman-pengalaman seperti itu, menurutnya, menjadi titik awal bagi seseorang untuk mengenal dan percaya kepada Tuhan.
“Perjumpaan dengan Yesus adalah buah rohani yang mengubah hidup. Seperti pepatah, habis gelap terbitlah terang. Dalam perjalanan waktu, iman menjadi sesuatu yang personal, menjadi milik kita sendiri,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Romo Kris menegaskan bahwa rahmat baptisan yang diterima umat tidak hanya menjadi anugerah, tetapi juga tanggung jawab untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan kisah Daud yang diurapi sebagai awal tugasnya, serta orang buta yang setelah berjumpa dengan Yesus akhirnya dapat melihat dan percaya.
Mengaitkan refleksi tersebut dengan tema Paroki Tangguh Bencana, Romo Kris mengingatkan bahwa kepedulian terhadap sesama harus dimulai dari diri sendiri. Sikap bela rasa dan solidaritas, katanya, harus menjadi buah dari iman yang hidup.
“Gerakan kepedulian itu dimulai dari lingkungan terdekat. Seperti semangat Laudato Si’, kita diajak untuk peduli pada bumi dan alam semesta mulai dari tempat kita berpijak,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sebuah gerakan besar selalu berawal dari langkah kecil yang kemudian membangun jejaring. Ketika seseorang telah menerima terang dari Tuhan, terang itu perlu dibagikan kepada orang lain.
Romo Kris berharap kegiatan sosialisasi ini membawa dampak nyata bagi para peserta dan komunitas paroki. Menurutnya, bekal pengetahuan yang diperoleh dapat membantu umat untuk lebih siap menghadapi situasi bencana.
“Semoga jika suatu saat terjadi bencana, paling tidak sudah ada seratus orang yang tidak panik, yang tahu bagaimana harus bersikap dan merespons dengan tepat,” katanya.

Ia juga mendorong para peserta yang telah memperoleh pengetahuan selama kegiatan untuk menjadi penghubung dan membagikan ilmu tersebut kepada orang lain di lingkungan masing-masing.
Menutup homilinya, Romo Kris menyampaikan apresiasi kepada Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Ia berharap program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan semata, tetapi sungguh ditindaklanjuti sehingga membawa makna dan manfaat bagi Gereja dan masyarakat.
“Semoga apa yang kita lakukan ini menjadi cara bagi kita untuk menebarkan kasih Tuhan kepada sesama,” tutupnya.
***Yuyuani Daro
