Pada hari kedelapan perjalanan apostoliknya di Afrika, Pope Leo XIV mengunjungi para lansia di sebuah panti wreda dan memimpin perayaan Ekaristi di Saurimo. Ia juga bertemu dengan para klerus, biarawan-biarawati, serta para pekerja pastoral di Luanda.
Pada hari terakhir penuh kunjungannya di Angola, Paus menempuh perjalanan sekitar 2.000 kilometer.
Bertemu dengan para lansia
Pada Senin pagi, 20 April, Paus terbang menuju Saurimo, sekitar 950 kilometer dari ibu kota Angola. Di sana ia mengunjungi sebuah panti jompo dan disambut dengan nyanyian serta tarian penuh sukacita. Dalam sambutannya, Paus menegaskan bahwa para lansia bukan hanya membutuhkan bantuan, tetapi juga perlu didengarkan. Menurutnya, mereka menyimpan “kebijaksanaan suatu bangsa” yang sangat berharga.
Misa Kudus di Saurimo
Setelah kunjungan singkat tersebut, Paus memimpin Misa Kudus bersama umat di dekat Katedral Bunda Maria Diangkat ke Surga. Sekitar 40.000 umat berkumpul di area utama yang telah disiapkan khusus, sementara sekitar 20.000 lainnya mengikuti perayaan dari luar area. Banyak umat membawa payung untuk melindungi diri dari terik matahari, namun panas tidak menghalangi mereka untuk ambil bagian dalam Ekaristi bersama Bapa Suci.
Dalam homilinya, Paus menyoroti realitas dunia saat ini, di mana harapan banyak orang hancur oleh kekerasan, dimanfaatkan oleh mereka yang berkuasa, dan dirampas oleh kaum kaya. Ia mengatakan bahwa ketika ketidakadilan merusak hati manusia, “roti bagi semua orang justru dikuasai oleh segelintir orang.”
Namun di tengah situasi itu, ia menegaskan bahwa Kristus tetap mendengarkan jeritan umat-Nya. Kristus memperbarui sejarah manusia dengan mengangkat mereka dari kejatuhan, menghibur dalam penderitaan, dan meneguhkan mereka dalam perutusan.
Paus juga mengingatkan bahaya menggantikan iman sejati dengan praktik takhayul, di mana Allah diperlakukan seperti berhala yang hanya dicari saat menguntungkan. Ia menegaskan bahwa mencari Kristus dengan motivasi yang keliru—misalnya hanya sebagai “guru spiritual” atau sekadar pembawa keberuntungan—adalah penyimpangan dari iman yang sejati.
Pertemuan dengan pelayan Gereja
Setelah Misa, Paus kembali ke Luanda dan bertemu dengan para uskup, imam, diakon, biarawan-biarawati, serta para pelayan pastoral di Paroki Bunda Maria dari Fatima. Dalam pertemuan itu, ia memberikan dorongan dan penguatan bagi mereka dalam pelayanan.
Ia menegaskan bahwa Tuhan mengetahui kemurahan hati mereka dalam menjalani panggilan hidup. Tuhan tidak pernah mengabaikan segala usaha yang mereka lakukan demi kasih kepada-Nya, terutama dalam memberi makan umat dengan kebenaran Injil.
**Claudia Torres dari Luanda, Angola.
Diterjemahkan dan disadur kembali oleh Diakon Bednadetus Aprilyanto dari https://www.vaticannews.va/en/church/news/2026-04/day-eight-africa-pope-leo-visits-elderly-prays-faithful.html
