St. Yusuf Pekerja
Kis. 13:26-33; Mzm. 2:6-7,8-9,10-11; Yoh. 14:1-6. BcO Kis. 15:5-35.

Bekerja dengan Hati
Saudara-saudari terkasih, pernahkah Anda merasa lelah, jenuh, atau bahkan merasa pekerjaan Anda “begitu-begitu saja”? Hari ini Gereja mengajak kita untuk menoleh ke sebuah bengkel kayu sederhana di Nazaret. Di sana ada seorang pria sederhana bernama Yosef. Ia tidak membuat mukjizat besar, ia tidak berkotbah di depan ribuan orang, tetapi ia bekerja dengan tekun. Ia adalah sosok yang dalam kesunyiannya memberikan teladan luar biasa tentang arti kesetiaan.
Dalam kisah Injil hari ini Yesus berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Kalimat ini sangat relevan dengan sosok Santo Yosef. Bayangkan kegelisahan Yosef saat harus menghidupi Keluarga Kudus hanya dengan keterampilan tangannya sebagai tukang kayu. Namun, Yosef tidak membiarkan hatinya dikuasai kecemasan. Ia percaya bahwa dalam setiap ketukan palu dan serutan kayunya, ada rencana Allah yang sedang digenapi.
Bagi Santo Yosef, pekerjaannya sebagai tukang kayu bukanlah penghalang untuk dekat dengan Tuhan, melainkan justru menjadi jalan kekudusannya. Seringkali kita memisahkan antara “waktu berdoa” dan “waktu bekerja”. Lewat Santo Yosef, kita belajar bahwa meja kerja, dapur, atau meja kantor kita adalah altar tempat kita mempersembahkan diri kepada Allah.
Pada bacaan pertama yang diambil dari Kitab Kejadian menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, lalu diberi tugas untuk menguasai dan mengolah bumi. Pekerjaan bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan panggilan Ilahi yang dikonkritkan melalui beragam aktifitas dan manusia diikutsertakan dalam karya penciptaan Allah. Sabat (hari ketujuh) menjadi tanda bahwa kerja harus berpadu dengan istirahat dan doa, sehingga tidak jatuh dalam perbudakan dan keserakahan. Pekerjaan kita hanya bermakna bila ditopang oleh rahmat Tuhan.
Saudara-saudari terkasih, Dunia sering menilai seseorang dari jabatan atau gajinya. Namun, Pesta Santo Yosef Pekerja mengingatkan kita bahwa martabat manusia terletak pada kerja yang memberi hidup. Yosef bekerja untuk memberi hidup bagi Yesus, Sang Hidup itu sendiri. Ketika kita bekerja dengan jujur untuk menghidupi keluarga dan membantu sesama, kita sedang memancarkan kehidupan Allah di dunia ini.
Marilah kita meneladani St. Yosef menjadi pribadi yang tekun dalam bekerja, rendah hati dan setia. Hari ini, saat Anda memegang pena, mencuci piring, menyetir kendaraan, atau mengetik di depan layar, ingatlah bahwa Yesus ada di sana bersamamu. Jangan biarkan hatimu gelisah oleh beban pekerjaan. Jadikanlah setiap tugasmu sebagai doa yang tanpa kata. Seperti Santo Yosef yang mendampingi Yesus di bengkel Nazaret, biarlah Yesus juga mendampingi di “bengkel kehidupan” kita hari ini. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semmua.
Fr. Dino Fajar Arya Putra (Tingkat I)
