Renungan Harian Selasa, 19 Mei 2026

Kis. 20:17-27; Mzm. 68:10-11,20-21; Yoh. 17:1-11a. BcO Kis. 25:13-27.

Menemukan Sukacita 

Saudara-saudari terkasih, barangkali kita pernah berada dalam situasi yang sangat sulit dan rasanya ingin menyerah. Namun, pada saat itu juga, kita justru sadar bahwa kita tidak sendirian. Ada Allah yang senantiasa hadir dan memberikan pertolongan. Pengalaman serupa juga dialami oleh Yesus. Sebagai Putera Allah yang menjelma menjadi Manusia, Ia juga mengalami keterbatasan sebagai manusia; Ia haus, Ia lapar, Ia menangis, Ia juga takut.

Yesus tahu bahwa sebentar lagi Ia akan melalui jalan penderitaan sampai kematianNya di salib. Di saat-saat seperti itu, Yesus justru berdoa, Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.” Tindakan Yesus ini hendak menunjukkan pada kita bahwa kematian-Nya justru akan membawa kita pada kehidupan, yakni kehidupan kekal bersama Allah; suatu kehidupan yang dipenuhi oleh kemuliaan Allah, di mana kita mengenal satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah diutus-Nya.

Lantas, apa yang bisa kita hayati dari doa Yesus ini? Yesus mengajak kita, orang-orang yang percaya kepada-Nya, untuk semakin mengenal dan mengalami kehadiran Allah dalam ruang hati kita yang paling dalam. Dalam situasi sulit, terkadang kita cenderung dibutakan oleh ketakutan, kegelisahan dan keputusasaan. Namun, Yesus mengajarkan bahwa pengalaman penderitaan hendaknya menghantar kita pada kesadaran mendalam akan kehadiran Allah yang senantiasa menawarkan belas kasih dan pertolongan.

Rasul Paulus telah memberikan teladan bagi kita untuk tetap setia meskipun harus mengalami banyak penderitaan. Kesetiaan itu ia wujudkan melalui pelayanan tanpa kenal lelah demi mewartakan Kabar Sukacita Injil. Kita pun dipanggil untuk tak pernah lelah mewartakan pesan yang sama itu dalam setiap perkataan maupun perbuatan kita.

Saudara-saudari terkasih, marilah kita berjalan bersama Yesus untuk mencari dan menemukan apa yang dikehendaki-Nya atas hidup kita. Yesus telah menunjukkan jalan yang harus kita lalui; bukan dengan menghindari penderitaan, tetapi melaluinya dengan penuh sukacita. Sukacita itu didasarkan pada pengharapan yang tidak mengecewakan dalam Dia yang telah hadir dan tinggal bersama kita sampai pada misteri Paskah-Nya yang kudus dan mulia. Kematian dan kebangkitanNya telah memberikan harapan baru yang tak akan pernah padam, di mana kita akan mengalami kemuliaan bersama-Nya dalam Kerajaan Surga. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Fr. Felix Widicahyadi (Tingkat VI)

Leave a Reply

Your email address will not be published.