Kis. 22:30;23:6-11; Mzm 16:1-2a.5-7-8.9-10.11; Yoh. 17:20-26; BcO Kis. 27:21-44
Menjadi Satu dalam Kasih-Nya

Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini kita mendengarkan Yesus yang berdoa bukan hanya untuk para murid yang ada di hadapan-Nya, tetapi juga untuk kita semua yang percaya kepada-Nya melalui kesaksian para rasul. Inti doa Yesus sangat menyentuh, yakni agar kita semua menjadi satu. Kesatuan yang dimaksud bukan sekadar kebersamaan lahiriah, melainkan kesatuan hati yang berakar pada kasih antara Bapa dan Putra. Dengan demikian, kita disadarkan bahwa setiap orang beriman dipanggil menjadi bagian dari keluarga Allah yang dipersatukan oleh kasih dan doa Kristus sendiri.
Namun, menjaga kesatuan bukanlah hal yang mudah. Dunia yang kita hidupi sering dipenuhi perpecahan, egoisme, dan pertentangan. Karena itu, Yesus mengingatkan bahwa kesatuan menjadi kesaksian nyata bagi dunia tentang kasih Allah. Menjadi “satu” berarti belajar merendahkan hati, saling mengampuni, dan menerima sesama dengan tulus. Kesaksian iman yang paling kuat tidak selalu tampak dalam kata-kata yang indah, tetapi dalam sikap hidup yang penuh kasih, damai, dan kepedulian terhadap sesama.
Lebih jauh lagi, Yesus ingin agar kita mengalami kemuliaan-Nya, yaitu hidup dalam kedekatan yang mendalam dengan kasih Allah. Ketika Kristus tinggal dalam hati kita, setiap langkah hidup akan diarahkan oleh kasih-Nya, sehingga beban kehidupan terasa lebih ringan karena kita sadar tidak berjalan sendirian. Maka, marilah kita bertanya pada diri sendiri: apakah kehadiran kita membawa damai dan persatuan, atau justru menimbulkan perpecahan? Semoga melalui hidup yang dipenuhi kasih, kita mampu menjadi jembatan persaudaraan dan ikut mewujudkan kerinduan Yesus agar semua anak Allah bersatu dalam kasih-Nya yang abadi. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Paulus Dannis
