2Tim. 2:8-15; Mzm. 25:4-5ab,8-9,10,14; Mrk. 12:28b-34; BcO 2Sam. 5:1-25.
Dewasa dalam Iman

Saudara-saudari terkasih, bacaan hari ini mengantar kita pada inti kehidupan kristiani: mengingat Kristus, berjalan dalam kebenaran Tuhan, dan menghidupi kasih sebagai hukum yang paling utama. Di tengah kehidupan yang sering dipenuhi rutinitas, target, dan berbagai kekhawatiran, Sabda Tuhan mengingatkan kita untuk kembali pada yang esensial.
Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus berkata, “Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati” (2Tim 2:8). Kata “ingatlah” bukan sekadar ajakan untuk mengingat secara intelektual, melainkan menghadirkan Kristus sebagai pusat hidup. Paulus sendiri menulis surat ini dalam situasi penderitaan. Ia dipenjarakan dan mengalami banyak kesulitan, tetapi ia tidak kehilangan harapan. Baginya, Kristus yang bangkit adalah sumber kekuatan yang tidak dapat dipenjarakan oleh siapa pun. Paulus lalu menegaskan bahwa “firman Allah tidak terbelenggu” (2Tim 2:9). Ini pesan penting bagi umat beriman zaman sekarang. Kadang kita merasa iman terhambat oleh keadaan: kesibukan kerja, masalah keluarga, tekanan ekonomi, atau lingkungan yang kurang mendukung hidup rohani. Namun Sabda Tuhan selalu menemukan jalannya. Tidak ada situasi yang terlalu gelap bagi Tuhan untuk berkarya.
Dalam bacaan Injil hari ini seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang hukum yang paling utama. Yesus menjawab dengan sangat jelas: kasih kepada Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan, serta kasih kepada sesama seperti diri sendiri. Menariknya, Yesus tidak memisahkan keduanya. Kasih kepada Allah selalu terhubung dengan kasih kepada sesama.
Sering kali orang merasa dirinya religius karena rajin beribadah, tetapi masih mudah menyimpan kebencian, iri hati, atau enggan mengampuni. Sebaliknya, ada juga yang aktif berbuat baik namun tidak memberi ruang bagi Tuhan dalam hidupnya. Yesus mengajarkan keseimbangan: vertikal dan horizontal, doa dan tindakan, altar dan kehidupan sehari-hari.
Saudara-saudari terkasih, kasih yang dimaksud Yesus bukan perasaan sentimental, melainkan keputusan konkret. Mengasihi Allah berarti memberi waktu untuk berdoa, membaca Kitab Suci, dan hidup seturut kehendak-Nya. Mengasihi sesama berarti hadir bagi keluarga, berlaku jujur di tempat kerja, sabar menghadapi orang yang sulit, serta peka pada mereka yang membutuhkan.
Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh ego, perbedaan, dan kepentingan pribadi, Sabda hari ini mengajak kita kembali pada inti: kasih. Pada akhirnya, ukuran kedewasaan iman bukan seberapa banyak kita tahu tentang Tuhan, tetapi seberapa nyata kasih Tuhan mengalir melalui hidup kita. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Dito Agung
Tingkat I
