
BANYUASIN – Menjadi seorang imam di usia muda ternyata menyimpan kisah pergulatan batin yang mendalam. Mulai dari rasa bingung dalam menghidupi spiritualitas, menghadapi tuntutan umat, hingga perasaan kesepian karena harus bertugas seorang diri di tempat yang jauh, menjadi dinamika nyata yang harus dilalui oleh para imam muda.
Hal ini diungkapkan secara jujur dan terbuka oleh Romo Andreas Eko Wahyudianto, yang akrab disapa Romo Adam. Ia membagikan refleksi mendalam mengenai tantangan yang dihadapinya selama enam tahun menjalani masa imamat dalam kegiatan Ongoing Formation (OGF) Imam Diosesan Keuskupan Agung Palembang (KAPal) untuk usia imamat di bawah sepuluh tahun (Basepta).
Kegiatan yang mengusung tema “Memperbarui Hidup Imamat dalam Kesetiaan, Persaudaraan, dan Pelayanan” ini berlangsung di Wismalat Podomoro, Banyuasin, pada 9-11 Juni 2026, dan diikuti oleh 23 imam muda.

“Kalau dikatakan spiritualitas yang dihidupi, masih banyak hal yang saya sendiri juga bingung sebenarnya,” aku Romo Adam di hadapan rekan-rekan imamnya.
Selama menjalani perutusan, ia mengaku dihadapkan pada tanggung jawab besar untuk memperkenalkan kekatolikan kepada umat. Di sisi lain, ia juga harus beradaptasi dengan realitas pelayanan yang padat. Ia tidak menampik bahwa terkadang muncul perasaan lelah dan kesepian ketika melihat kehidupan orang lain di media sosial yang tampak menyenangkan, sementara dirinya harus berjuang ‘sendirian’ di medan pastoral.
“Kadang-kadang juga saya merasa, ‘Apakah saya yang paling menderita?’ Ada perasaan seperti itu juga,” selorohnya yang disambut tawa hangat dari para peserta OGF. Ia menambahkan bahwa di tengah kejenuhan, ruang untuk saling berbagi (sharing) antarimam sangat terbatas karena jarak dan kesibukan masing-masing.
Selain tantangan internal, imam yang berkarya di Kuasi Paroki St. Maria Bunda Gereja Tebo ini juga menyoroti keraguan dari luar terkait usianya yang masih muda dan minim pengalaman. Kalimat-kalimat bernada sanksi dari sebagian kalangan sering kali terdengar di telinganya. Namun, baginya, semua itu menjadi bagian dari proses belajar untuk menyatu dengan visi keuskupan dan menghayati spiritualitas imamat secara utuh.
Imam asal Stasi Rantau Makmur, Paroki St. Maria Ratu Rosario Payo Selincah, Jambi ini dalam refleksinya menekankan pentingnya penguatan persaudaraan dan empati di antara sesama imam diosesan. Kehadiran komunitas dan dukungan emosional dinilai sangat krusial, terutama bagi para imam yang harus bertugas seorang diri di stasi atau paroki terpencil. Di situlah, menurutnya, dimensi spiritualitas seorang imam benar-benar diuji dan dimurnikan.
Refleksi Kritis dan “Tamparan” Spiritual
Hal senada disampaikan oleh Romo Paulus Miki Tobat Mursito. Dalam refleksinya terhadap dinamika hidup imamat saat ini, ia tidak menampik adanya kegelisahan ketika umat mempertanyakan apa sebenarnya spiritualitas yang menghidupi seorang imam diosesan. Berbeda dengan imam tarekat yang dengan mudah mengidentifikasi spiritualitas mereka, imam diosesan sering kali kebingungan menjawabnya.

Lebih lanjut, imam yang berkarya di Yayasan Musi Palembang ini menyoroti tantangan nyata yang kerap dijumpai di lapangan, mulai dari kurangnya penghayatan spiritualitas, kendala kedisiplinan seperti terlambat bangun, hingga komitmen kesetiaan terhadap tugas pelayanan.
“Materi ini benar-benar menampar kita semua, atau kurang lebih menampar saya pribadi. Ini menjadi refleksi agar kita tidak hanya bergerak keluar untuk mewartakan, tetapi pertama-tama menghayati terlebih dahulu agar benar-benar tinggal di dalam Kristus di tengah keuskupan dan dunia kita,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa kesulitan terbesar yang dihadapi para imam sebenarnya bukanlah merumuskan teori, melainkan bagaimana mempraktikkan spiritualitas tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Komitmen Hidup
Materi yang dibawakan oleh para narasumber dinilai sangat relevan untuk menjadi perhatian bersama. “Harapannya, nilai-nilai ini terus digaungkan, dievaluasi, dan disosialisasikan dalam pertemuan-pertemuan imam selanjutnya, untuk kelompok usia imamat lainnya. Dengan demikian, kebanggaan sebagai imam yang berakar pada spiritualitas dapat benar-benar diaplikasikan dalam pelayanan,” tegasnya.
Sinergi
Pertemuan OGF Basepta ini juga dihadiri langsung oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Vikaris Jenderal (Vikjen) KAPal Romo Yohanes Kristianto, serta Ketua Unio KAPal sekaligus Ketua Panitia OGF, Romo Dominggus Koro. Kehadiran mereka menjadi bentuk pendampingan nyata bagi para imam muda agar tetap setia dan bersaudara dalam menjalankan misi pelayanan mereka.
***TJK
