
PALEMBANG — Dalam rangka menyambut Hari Raya Hati Kudus Yesus yang jatuh pada Jumat (12/6/2026), kolaborasi besar antarkomunitas Katolik sukses digelar di Palembang. Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ), Catholic Family Ministry (CFM), Komunitas Retreat Pasutri Enam Tempayan, dan Komunitas Kerasulan Kerahiman Ilahi (KKKI) yang bekerja sama dengan Cana Community Indonesia, menyelenggarakan Kebangunan Rohani Katolik (KRK) Hati Kudus Yesus. Acara rohani yang berlangsung khidmat ini dilaksanakan di Auditorium Sekolah Kusuma Bangsa Palembang pada Kamis (11/6/2026) petang, dan dihadiri oleh ratusan umat dari berbagai paroki di sekitar wilayah Dekanat Palembang.
Menimba Kasih dari Sumber yang Tak Pernah Habis
Superior SCJ Wilayah Palembang, Romo Laurentius Suwanto, SCJ, dalam sambutannya mengajak seluruh peserta untuk senantiasa menimba kasih dari Yesus yang telah memberikan diri-Nya sehabis-habisnya untuk dunia. Mengutip ayat Kitab Suci, “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lembut dan rendah hati”, ia menekankan bahwa Hati Kudus Yesus merupakan sumber kasih ilahi yang tidak akan pernah habis. Pesan ini menjadi fondasi bagi umat yang hadir untuk merefleksikan kembali sejauh mana mereka telah membuka hati terhadap kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Rahasia Jantung Hati Yesus dan Pengorbanan Paskah Baru
Memasuki sesi utama, Romo Albertus Joni, SCJ, atau yang akrab disapa Romo Koko, memaparkan materi yang sangat mendalam bertajuk “Rahasia Jantung Hati Yesus yang Tertikam: Masihkah Ada Kasih Tak Harap Kembali di Zaman Serba Cuan?”. Dalam penjelasannya, Romo Koko menegaskan bahwa pengorbanan Yesus di kayu salib sebenarnya sudah lama digambarkan dalam kisah Perjanjian Lama, dimulai sejak zaman Abraham yang diminta mengorbankan Ishak, namun kemudian digantikan oleh seekor anak domba yang tersangkut di semak duri. Kisah tersebut menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah yang memanggul salib dan bermahkotakan duri.
Melalui pengorbanan-Nya, Yesus mengubah Paskah Lama menjadi Paskah Baru, di mana Ia sendiri bertindak sebagai Anak Domba yang tak bercacat. Darah yang dioleskan pada ambang pintu bukan lagi darah hewan, melainkan darah Yesus sendiri yang membebaskan manusia dari perbudakan dosa, berbeda dengan Perjanjian Lama yang merupakan lambang pembebasan dari perbudakan Mesir. Lebih lanjut, makanan dalam Perjanjian Baru ini adalah tubuh Kristus sendiri. Puncak pengorbanan tersebut terselesaikan di atas kayu salib ketika Yesus meminum anggur asam yang merupakan cawan keempat agar perjamuan Paskah sungguh-sungguh selesai, lalu berkata, “Sudah selesai”. Oleh karena itu, Ekaristi menjadi puncak penyembahan tertinggi dalam ibadah Katolik yang tidak boleh digantikan oleh apa pun.

Menghadapi Tantangan “Padang Gurun Modern”
Romo Koko juga mengingatkan bahwa pemberian diri Yesus adalah wujud kasih yang tidak pernah mengharapkan balasan dari manusia. Umat Katolik dipanggil untuk mencintai sesama seperti Yesus mencintai, bahkan di saat cinta yang diberikan tidak ditanggapi dengan cara yang diharapkan. Hal ini menjadi krusial karena saat ini dunia sedang menghadapi tantangan “padang gurun modern”, seperti krisis ekologis, maraknya judi online, adiksi gawai, hingga disrupsi di mana posisi manusia mulai tergeser oleh keberadaan AI. Jika umat tidak peduli, maka peran manusia akan semakin tergeser.
Perarakan dan Berkat Sakramen Mahakudus
Oleh karena itu, umat diajak untuk selalu datang kepada Yesus yang hati-Nya senantiasa terbuka di tengah gempuran zaman yang serba berorientasi pada materi. Sebagai puncak sekaligus penutup dari seluruh rangkaian acara, suasana KRK beralih menjadi momen yang sangat sakral dan hening. Rangkaian acara KRK ini kemudian diakhiri dengan penuh sukacita dan keheningan melalui prosesi Perarakan Sakramen Mahakudus, yang ditutup secara agung dengan Berkat Meriah Sakramen Mahakudus bagi seluruh umat yang hadir.

**Diakon Bednadetus Aprilyanto
