Yes 6:1-8; Mzm 93:1ab.1c-2.5; Mat 10:24-33; BcO Ams 31:10-31
Jangan Takut

Saudara-saudari yang terkasih, pernahkah kita merasa takut untuk berbuat baik karena khawatir dengan penilaian orang lain? Takut berkata jujur karena nanti diejek. Takut membela yang benar karena khawatir dijauhi. Bahkan terkadang kita memilih diam, bukan karena tidak tahu mana yang benar, tetapi karena takut menghadapi akibatnya.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk melihat dua tokoh yang memiliki pengalaman yang sama, yaitu rasa takut. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengalami perjumpaan yang luar biasa dengan Tuhan. Ketika melihat kemuliaan Tuhan, ia merasa dirinya tidak pantas. Ia berkata, “Celakalah aku! Aku seorang yang najis bibir.” Ia sadar akan kelemahan dan dosanya. Namun Tuhan tidak menghukumnya. Tuhan justru menyucikannya dan kemudian bertanya, “Siapakah yang akan Kuutus?” Dan Yesaya menjawab dengan penuh keberanian, “Ini aku, utuslah aku.”
Dalam Injil pun Yesus berbicara kepada para murid-Nya dan tidak menjanjikan bahwa hidup mereka akan selalu mudah, tetapi sebaliknya mereka akan menghadapi penolakan, hinaan, bahkan penganiayaan. Yesus berkali-kali mengatakan, “Jangan takut.” Mengapa? Karena hidup mereka ada dalam tangan Bapa. Bahkan burung pipit yang kecil pun dipelihara oleh Tuhan, apalagi kita yang begitu berharga di hadapan-Nya.
Saudara-saudari terkasih, sering kali yang membuat kita tidak berani menjadi saksi Kristus bukanlah karena kita tidak mengenal Tuhan, tetapi karena kita terlalu memikirkan pendapat manusia. Kita takut dianggap berbeda ketika hidup jujur. Kita takut dicemooh ketika tetap berpegang pada iman. Kita takut kehilangan kenyamanan ketika harus memilih yang benar. Sebagai guru, orang tua, mahasiswa, atau pekerja, kita dipanggil menjadi saksi Kristus melalui hidup sehari-hari.
Menjadi saksi bukan berarti selalu berkhotbah. Kadang kesaksian yang paling kuat justru terlihat dari sikap kita: tetap sabar ketika diperlakukan tidak adil, tetap jujur meskipun tidak ada yang melihat, tetap mengampuni meskipun hati terluka, dan tetap berbuat baik meskipun tidak mendapat pujian. Memang tidak selalu mudah. Akan ada orang yang salah paham, ada yang meremehkan, bahkan mungkin ada yang menolak kita. Namun Yesus mengingatkan bahwa nilai hidup kita tidak ditentukan oleh penilaian manusia, melainkan oleh kasih Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita.
Saudara-saudari terkasih, Tuhan tidak mencari orang yang paling sempurna. Tuhan mencari orang yang bersedia berkata seperti Yesaya, “Ini aku, utuslah aku.” Ketika kita mau menyerahkan diri kepada-Nya, Tuhan sendiri yang akan memberikan kekuatan, keberanian, dan hikmat untuk menjalankan tugas kita. Mari menjadi saksi kasih Kristus di mana pun kita berada. Jangan takut untuk berbuat baik. Jangan takut untuk berkata benar. Jangan takut untuk menunjukkan iman kita melalui tindakan nyata. Sebab Tuhan yang memanggil kita adalah Tuhan yang selalu menyertai dan memelihara hidup kita. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Delho Panca F. Sinaga
