Yes. 55:10-11; Mzm. 65:10abcd,10e-11,12-13,14; Rm. 8:18-23; Mat. 13:1-23
Menjadi Tanah yang Subur

Saudara-saudari yang terkasih, pernahkah kita memperhatikan air hujan? Hujan yang turun dari langit tidak pernah kembali dengan sia-sia. Airnya membasahi bumi, membuat tanaman tumbuh, dan akhirnya menghasilkan makanan bagi kita. Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya mengatakan bahwa Sabda Tuhan itu sama seperti air hujan. Meskipun jatuh di tempat yang gersang seperti padang pasir, hujan itu tetap menjalankan tugas dari Tuhan. Begitu juga dengan Sabda-Nya; meskipun kadang jatuh di hati manusia yang keras dan kering, Sabda Tuhan punya kuasa untuk mengubah hidup seseorang.
Melalui bacaan hari ini, kita diajak untuk memahami bagaimana seharusnya kita menerima Sabda Tuhan tersebut. Pertama, butuh kesabaran dan hati yang lembut. Rasul Paulus dalam bacaan kedua, mengingatkan kita bahwa menerima keselamatan dari Tuhan itu butuh kesabaran yang kuat. Tuhan ingin membebaskan kita dari beban hidup yang berat. Namun, perubahan itu harus dimulai dari dalam diri kita sendiri, yaitu dengan mengubah hati yang keras dan kaku menjadi hati yang lembut dan terbuka.
Kedua, empat jenis sikap hati kita yang Yesus perlihatkan dalam Injil hari ini, yakni hati yang tertutup; berarti orang yang mendengar Sabda Tuhan, tetapi langsung menolaknya, hati yang rapuh; berarti orang yang sempat percaya dan gembira, tetapi imannya langsung hilang saat menghadapi masalah atau tekanan hidup, hati yang mendua; berarti orang yang percaya, tetapi imannya kalah oleh rasa khawatir, ketidakpastian hidup, dan godaan kekayaan duniawi, dan terakhir hati yang subur; orang yang mau mendengarkan, merenungkan, dan melakukan Sabda Tuhan dalam hidupnya sehari-hari. Hidup orang inilah yang menghasilkan buah kebaikan yang melimpah.
Ketiga, kasih Tuhan yang tulus. Kadang-kadang, kita merasa seolah-olah Sabda Tuhan itu gagal. Kita melihat banyak orang yang sombong, kikir, egois, dan menutup telinga mereka dari Tuhan. Rasanya sia-sia berbicara tentang kebaikan kepada mereka.
Saudara-saudari, bagi Tuhan, tidak ada yang sia-sia, asal kita beriman teguh dan berbuat baik sesuai perintah-Nya. Ada berbagai jenis tanah yang Yesus perlihatkan kepada kita, tanah yang Ia maksud adalah hati kita dan benih itu adalah Sabda-Nya. Permenungan untuk kita, termasuk jenis tanah yang manakah hati kita saat ini? Mari kita buka hati kita lebar-lebar agar siap menerima benih Sabda Tuhan yang Ia karuniakan kepada kita, sehingga hidup kita bisa menghasilkan buah kasih yang berguna bagi sesama. Semoga Tuhan memberkati kita semua.
Fr. Alexander Krisman
