Pesta Santa Maria Magdalena
Kid. 3:1-4a atau 2Kor. 5:14-17; Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9; Yoh. 20:1-2,11-18
Hidup yang Dibagikan

Saudara-saudari terkasih, hari ini Gereja merayakan Pesta Santa Maria Magdalena. Perayaan ini mengajak kita untuk merenungkan makna pencarian yang mendalam akan nauangan Tuhan dalam hidup kita. Seperti Maria Magdalena yang pergi ke kubur saat hari masih gelap, kita pun sering kli menjalani hari-hari kita dengan kegelisahan batin dan kerinduan untuk menemukan jawaban atas berbagai penderitaan. Ketergesaannya ke kubur bukanlah sekadar rasa ingin tahu, melainkan ekspresi cinta yang melampaui rasa takut dan kehilangan.
Bacaan Injil hari ini memperlihatkan kepada kita bagaimana tangisan dan pencarian Maria Magdalena berubah menjadi sukacita ketika ia mendengar Sang Guru memanggil namanya. Panggilan itulah yang menegaskan bahwa Tuhan selalu mengenal orang-orang yang dikasihi-Nya. Ketika kita berhenti memandang dengan mata duniawi dan mulai memandang dengan mata iman, kita akan menyadari bahwa Kristus senantiasa berada di sekitar kita.
Paulus menegaskan bahwa kasih Kristuslah yang menguasai kita dan membuat kita menjadi ciptaan baru yang tidak lagi melekat pada diri sendiri, melainkan untk Dia yang telah wafat dan bangkit bagi kita. Totalitas kasih inilah yang menjadi kekuatan untuk mengubah ketakutan menjadi keberanian untuk bersaksi.
Dalam kehidupan kita, sering kali merasa kehilangan arah saat menghadapi tantangan atau kekecewaan, namun teladan Maria Magdalena mengingatkan kita bahwa mencari Tuhan denga ketulusan hati adalah langkah pertama untuk berjumpa dengan kasih-Nya yang membangkitkan dan memulihkan jiwa kita yang letih.
Saudara-saudari terkasih, menjadi murid seperti Maria Magdalena berarti bersedia menjadi saksi kebangkitan di tengah dunia yang masih terbelenggu oleh kegelapan dan penderitaan. Bacaan-bacaan yang kita dengarkan hari ini mengajak kita untuk membawa kabar sukacita Kristus yang hidup dan hadir dalam setiap peristiwa hidup yang kita alami, baik dalam suka maupun dalam duka.
Relasi inilah yang dapat membuahkan kerinduan untuk membagikan kasih tersebut kepada sesama. Kasih itu tertuang lewat rahmat “kehausan” akan Tuhan, sehingga seluruh hidup kita menjadi pujian untuk memuliakan nama-Nya.
Dengan ini kita dipanggil untuk mewartakan bahwa kematian telah dikalahkan oleh Sang Sumber Hidup Sejati yaitu Kristus sendiri. Dengan demikian setiap pencarian hidup kita yang tulus dan berserah pada-Nya akan berkahir dalam perjumpaan yang menguatkan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Clementio N. S.
