Renungan Harian Sabtu, 25 Juli 2026

PESTA ST. YAKOBUS, RASUL
2Kor. 4:7-15; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Mat. 20:20-28
Menjadi Pelayan

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, bacaan Injil hari ini menyuguhkan kisah yang sangat manusiawi tentang ambisi dan kasih seorang ibu. Ibu dari Yakobus dan Yohanes datang bersujud kepada Yesus, memohon tempat paling terhormat, di sisi kanan dan kiri-Nya bagi kedua anaknya kelak di dalam Kerajaan Allah. Permintaan ini lahir dari pemahaman duniawi yang mengira bahwa mengikuti Yesus adalah jalan menuju takhta kemuliaan dan kekuasaan. Padahal, Yesus sedang berjalan menuju arah yang sama sekali berbeda, sebuah jalan yang tidak bertakhtakan emas, melainkan sebuah jalan yang berujung pada kayu salib.

Menanggapi hal itu, Yesus menantang Yakobus dan Yohanes dengan sebuah pertanyaan mendalam: “Dapatkah kamu minum cawan yang harus Kuminum?” Cawan yang dimaksud Yesus bukanlah piala kehormatan, melainkan cawan penderitaan dan pengorbanan total. Dengan penuh keyakinan meski belum paham sepenuhnya, mereka menjawab, “Kami dapat.” Yesus pun meluruskan bahwa di dalam Kerajaan Allah, kebesaran tidak diukur dari kedekatan atau posisi kekuasaan layaknya para penguasa dunia yang menindas. Sebaliknya, Yesus menegaskan sebuah standar baru yang revolusioner: siapa yang ingin menjadi besar harus menjadi pelayan, dan siapa yang ingin menjadi yang terutama harus menjadi hamba bagi sesamanya, sama seperti Diri-Nya yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya.

Hari ini, bersamaan dengan kisah ini, Gereja merayakan Pesta Santo Yakobus Rasul. Ada refleksi yang sangat menyentuh ketika kita melihat akhir hidup rasul ini: Yakobus pada akhirnya benar-benar meminum cawan penderitaan tersebut. Ia membuktikan ucapan “kami dapat” dengan menjadi salah satu rasul pertama yang wafat sebagai martir, mati dipenggal demi imannya kepada Kristus. Perjalanan hidup Yakobus adalah sebuah ziarah iman yang luar biasa—sebuah transformasi dari seorang yang mengejar ambisi dan kehormatan duniawi, menjadi seorang saksi Kristus yang rela melayani hingga titik darah penghabisan.

Melalui teladan Santo Yakobus Rasul, kita diundang untuk merefleksikan kembali motivasi hidup kita sehari-hari. Mari kita periksa hati kita: apakah kita masih sering mencari panggung, pengakuan, dan kehormatan, ataukah kita sudah sungguh-sungguh rindu untuk melayani? Kita diajak untuk mulai melayani dari hal-hal kecil di dalam keluarga, tempat kerja, dan lingkungan sekitar tanpa menuntut untuk diutamakan. Ketika kesulitan atau salib hidup menyapa, marilah kita dengan berani menerima cawan itu bersama Kristus. Sebab pada akhirnya, kebesaran sejati di hadapan Allah tidak ditemukan saat kita berada di atas sesama, melainkan saat kita merendahkan hati untuk membasuh kaki dan menjadi pelayan bagi sesama kita.

Fr. Falveus Gonsalves

Leave a Reply

Your email address will not be published.