Mgr. Yohanes Harun Yuwono: Hidup Membiara Menjadi Terang dan Penunjuk Jalan Kerajaan Allah

Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono | Foto: Komsos KAPal

PALEMBANG — “Peringatan hidup membiara adalah sebuah syukur atas ‘fiat’, jadilah kehendakMu yang dihidupi terus menerus. Mereka dipilih, disisihkan dari dunia dijadikan terang, tanda, dan penunjuk jalan ke arah mana semua orang seharusnya berjalan dengan pasti ke kehidupan abadi. Hidup membiara sebenarnya justru meresapi dan menjiwai dunia ini agar menjadi kudus, agar pantas bagi Tuhan.”

Demikian diungkapkan Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, dalam homilinya saat memimpin Perayaan Ekaristi Pesta 40 Tahun Hidup Membiara para imam dan bruder Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) di Kapel Seminari Menengah St. Paulus Palembang, Sabtu (25/7/2026). Mereka yang berpesta adalah Romo Titus Waris Widodo SCJ, Romo Donatus Kusmartono SCJ, Romo Vincentius Suparman SCJ, Romo Aegidius Warsito SCJ, dan Br. Antonius Sudaryono SCJ.

Foto: Komsos KAPal

Tampak hadir mendampingi sebagai konselebran, di antaranya adalah Uskup Emeritus Keuskupan Agung Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, Dekan Dekanat Palembang, Romo Hyginus Gono Pratowo, Sekretaris Dewan SCJ Provinsi Indonesia, Romo Christoforus Wahyu Triharyadi SCJ, serta dua imam yubilaris, Romo Titus Waris Widodo SCJ dan Romo Donatus Kusmartono SCJ.

Makna Hakiki

Lebih lanjut, Mgr. Yohanes juga menguraikan secara mendalam makna tiga kaul yang dihidupi oleh para religius, yakni kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Ketiganya disebut sebagai cerminan nyata dari cara hidup Yesus sendiri yang diucapkan sebagai bentuk persembahan diri kepada Tuhan dan sesama.

   “Kebahagiaan biarawan dan biarawati adalah bukan memiliki atau mempunyai banyak, atau bahkan berlebih, tetapi memiliki Tuhan dan itu sudah lebih dari cukup,” ungkap Bapa Uskup.

Bapa Uskup menjelaskan bahwa kemiskinan adalah cara Yesus mendekati manusia dengan mengosongkan diri dan menjadi hamba. Bagi seorang biarawan atau biarawati, kebahagiaan sejati tidak diukur dari kepemilikan harta benda yang berlebih, melainkan ketika mereka memiliki Tuhan dalam hidupnya.

Terkait kaul kemurnian, Mgr. Yohanes menggambarkannya sebagai kasih yang utuh, bulat, dan tidak terbagi. Ia memberikan perumpamaan sederhana namun membumi mengenai cara seorang religius mengasihi sesama.

“Cinta kepada sesama adalah seperti sikap sopir angkot pada penumpangnya: jauh dekat sama saja. Entah umat itu baik atau kurang baik, entah glowing atau sederhana, entah sering memberi atau malah sering meminta. Seorang religius akan mencintai dengan cinta yang sama tanpa membeda-membedakan,” jelas Bapa Uskup.

Sementara itu, kaul ketaatan diartikan sebagai penyatuan kehendak secara total kepada kehendak Bapa. Ia mengibaratkannya dengan istilah kepemimpinan modern. “Bahasa politisnya, tidak ada visi menteri, yang ada adalah visi presiden. Demikian pula ketaatan religius disatukan utuh pada kehendak dan mimpi-mimpi Tuhan,” tambah Bapa Uskup.

Membawa Kematian Kristus

Uskup dengan motto Deus Caritas est ini juga menyampaikan bahwa para imam dan bruder diutus untuk mengorbankan diri demi pelayanan, bukan untuk menuntut persembahan dari orang lain. Kesatuan dengan Kristus dihayati tidak hanya dalam masa kejayaan atau keberuntungan, melainkan juga dalam penderitaan dan pengorbanan.

“Karena membawa kematian Kristus dalam dirinya, para romo dan bruder ini sudah ‘mati’ walaupun masih hidup. Sudah tidak menghendaki keduniawian, yang ada hanyalah hidup ‘sesudah mati’ bersama Kristus,” ungkapnya.

Di akhir homilinya, Mgr. Yohanes menekankan bahwa nilai-nilai komitmen dan kesetiaan hidup religius ini juga menjadi cermin serta dorongan nyata bagi semua orang. Nilai kesetiaan ini mengajak pasangan suami-istri untuk saling setia setiap saat, mendorong para karyawan untuk menjunjung tinggi kejujuran, serta memanggil para pegawai pemerintah untuk memberikan pelayanan publik yang tulus, jujur, dan bebas dari korupsi.

“Bagi siapapun, biarawan-biarawati adalah rambu-rambu, penunjuk jalan. Hidup ini adalah kasih, seperti Tuhan yang adalah kasih, kita diajak mengasihi dan membangun dunia dalam kasih,” harapnya.

Peristiwa Syukur

Romo Donatus Kusmartono SCJ, Br. Antonius Sudaryono SCJ, dan Romo Titus Waris Widodo SCJ memotong tumpeng dalam Perayaan Pesta 40 Tahun Hidup Membiara | Foto: Komsos KAPal

Dalam perayaan ini para yubilaris juga mengungkapkan pembaruan kaul seturut Konstitusi Kongregasi SCJ. Usai perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto, pemotongan tumpeng, dan ramah tamah bersama dalam suasana penuh Syukur dan persaudaraan.

*** Yohsua Surya Agung dan Gabriel Galih Jovie Prasetya (Seminaris kelas Rhetorica Seminari Menengah Santo Paulus Palembang)

Leave a Reply

Your email address will not be published.