PF St. Yohana Fransiska de Chantal, Biarawati
Yeh. 9:1-7; 10:18-22; Mzm. 113:1-2.3-4.5-6; Mat. 18:15-20;BcO Za. 10:3–11:3
Merawat Kenisah Batin

Saudara-saudari terkasih, di sebuah desa kecil yang dilanda kekacauan sosial, seorang kepala desa berjalan ke rumah-rumah warga untuk membagikan tanda pengenal khusus bagi warga yang tetap setia berpegang teguh pada kedamaian dan menolak ikut serta dalam kerusuhan. Kisah sederhana ini merupakan gambaran sederhana dari apa yang dilihat oleh Nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama hari ini. Penglihatan ini ingin menggambarkan kepada Nabi Yehezkiel, bagaimana Allah menerapkan ketegasannya dalam memisahkan antara hati yang keras kepala dan jiwa-jiwa yang tetap tulus mencari kebenaran, sebelum murka-Nya membersihkan bait Allah yang telah dicemari.
Gambaran ini ingin menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak tinggal di dalam bangunan fisik yang penuh kemunafikan, melainkan bersemayam dalam hati yang murini dan taat. Sering kali kita mmebiarkan “kenisah” batin kita dipenuhi oleh ego, amarah, dan kompromi terhadap dosa, sehingga kita kehilangan kepekaan akan kehadiran Allah yang kududs di dalam diri kita.
Semangat membersihkan diri dan merawat “kenisah” batin ini terpancar nyata dalam teladan St. Yohana Fransiska de Chantal, seorang wanita bangsawan yang mengalami badai penderitaan hebat. Ia kehilangan suami tercinta, anak, dan menghadapi fitnah, namun ia tidak membiarkan kepahitan hidup merusak jiwanya. Ia menyebarkan semangatnya itu dengan membaktikan seluruh hidupnya untuk merawat kaum papa dan mereka yang tebuang. Ia menyadari bahwa penderitaan dan duka bukanlah alasan untuk menutup hati, melainkan sarana pemurnian untuk menjadikan dirinya sebagai bait Roh Kudus yang sejati. Hidup dan pemberian dirinya membuktikan bahwa rahmat Allah senantiasa menopang mereka yang berani melepaskan dendam dan memilih jalan kasih yang tulus.
Dalam Injil hari ini Yesus mengajak kita untuk menjaga kesucian diri kita sebagai umat-Nya lewat koreksi persaudaraan dan pengampunan yang penuh belas kasih. Yesus mengingatkan kita untuk tidak membiarkan dosa dan kesalahpahaman merusak relasi kita dengan sesama. Dengan mengenakan “tanda” rahmat Allah di dahi kita, mari kita saling merangkul, meluruskan kesalahan dalam semangat damai, dan merawat kesucian bait Allah di dalam diri sesama kita. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Alan Sihombing
