PW St. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam-Martir (M)
Yeh. 16:1-15.60.63 atau Yeh. 16:59-63; MT Yes. 12:2-3.4bcd.5-6; Mat. 19:3-12; BcO Za. 12:9–13:9
Bertahan dalam Cinta

Saudara-saudari terkasih, ada kalanya kita mudah berkata, “Aku akan tetap setia.” Namun ketika kenyataan tidak sesuai harapan, kesetiaan itu mulai diuji. Dalam Injil hari ini Yesus mengajak kita melihat bahwa kasih bukan dibangun di atas perasaan yang berubah-ubah, melainkan pada keputusan untuk tetap bertahan dalam cinta. Kasih yang sejati selalu mengandung keberanian untuk menerima, memaafkan, dan terus melangkah bersama, meskipun jalan yang ditempuh tidak selalu mudah.
Kisah Santo Maximilianus Maria Kolbe memperlihatkan bahwa kesetiaan tidak lahir dalam keadaan nyaman. Di tengah kekejaman kamp konsentrasi Auschwitz, ia memilih tetap menjadi tanda kasih Allah. Ketika seorang ayah dipilih untuk dihukum mati, Kolbe maju dan berkata bahwa ia bersedia menggantikannya. Ia tidak mengenal orang itu, tidak memiliki kewajiban apa pun, tetapi hatinya digerakkan oleh kasih yang tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kesetiaan kepada Tuhan membuatnya mampu mengasihi sampai pada pemberian hidupnya.
Mungkin kita tidak diminta menyerahkan nyawa seperti Santo Maximilianus Maria Kolbe. Namun setiap hari Tuhan memberi kesempatan untuk belajar setia: tetap berbuat baik meski tidak dihargai, tetap jujur saat orang lain memilih jalan pintas, tetap mengampuni ketika hati terluka, dan tetap menjalankan tanggung jawab meski terasa berat. Kesetiaan memang tidak selalu tampak besar di mata dunia, tetapi justru dari hal-hal kecil itulah Tuhan membentuk hati kita menjadi semakin serupa dengan hati-Nya. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Ritma Agustio
