Pulang ke Almamater, Lima Imam Baru Keuskupan Agung Palembang Rayakan Misa Perdana di Seminari Menengah St. Paulus

Foto: Komsos KAPal

PALEMBANG — Suasana syukur dan penuh sukacita menyelimuti Seminari Menengah Santo Paulus Palembang pada Selasa (11/8/2026) petang. Setelah resmi ditahbiskan menjadi imam Keuskupan Agung Palembang, lima orang alumni kembali melangkah ke rumah formasi awal mereka untuk merayakan Perayaan Ekaristi Perdana bersama para seminaris dan umat.

Foto: Komsos KAPal

Perayaan syukur tersebut dipimpin langsung oleh Romo Bernadetus Aprilyanto sebagai selebran utama. Ia didampingi oleh belasan imam konselebran, di antaranya Rektor Seminari Menengah St. Paulus Palembang, Romo Titus Waris Widodo SCJ, serta empat imam baru lainnya: Romo Yohanes Gusti Randa, Romo Markus Trio Agustra, Romo Sebastianus Wahyudi, dan Romo Viktorinus Sidik Budianto.

Sebelumnya, kelima imam muda ini menerima Sakramen Imamat pada 4 Agustus 2026 di GSG Stasi Keluarga Kudus Tegal Arum, Paroki St. Petrus dan Paulus Baturaja, Ogan Komering Ulu. Momen kepulangan mereka ke seminari, tempat mereka dulu menempa diri sekaligus pernah menerima Tahbisan Diakon pada 24 Januari silam menjadi bukti nyata perjalanan benih panggilan yang tumbuh hingga menghasilkan buah manis.

Benih Panggilan yang Tumbuh dan Berbuah

Foto: Komsos KAPal

Rektor Seminari Menengah St. Paulus, Romo Titus Waris Widodo SCJ, dalam kata pengantarnya menyampaikan rasa bangga atas kepulangan para alumni tersebut. Menurutnya, kehadiran lima imam baru ini merupakan bukti nyata kasih Allah yang menumbuhkan benih panggilan di Seminari.

“Ada yang menanam, ada yang menyiram, tetapi Allah yang memberikan pertumbuhan. Bagi para seminaris, ini adalah tanda nyata bahwa apa yang kalian perjuangkan selama ini pada saatnya nanti akan menghasilkan buah,” ujar Romo Titus memberi motivasi kepada para siswa seminari.

Panggilan Penuh Kerendahan Hati

Foto: Komsos KAPal

Dalam homilinya, Romo Markus Trio Agustra membagikan refleksi tentang kepolosan seorang anak kecil yang memberikan batu kerikil kepada ayahnya. Cerita sederhana ini ia kaitkan dengan pertanyaan para murid Yesus dalam Injil mengenai siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga.

Romo Trio mengingatkan bahwa Allah tidak menilai manusia dari pencapaian prestasi maupun status sosial, melainkan dari ketulusan, penyerahan diri, dan kerendahan hati.

“Perjalanan panggilan suci ini tidak diukur dari seberapa tinggi kita menaiki tangga hierarki manusia, melainkan dari seberapa dalam kita mampu merendahkan diri di hadapan Allah,” tegas Romo Trio, sembari mengajak semua yang hadir untuk mewaspadai ambisi pribadi dan godaan duniawi.

Saling Menguatkan

Foto: Komsos KAPal

Mewakili para imam baru, Romo Bednadetus Aprilyanto menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas penyertaan Tuhan dan dukungan persaudaraan di antara mereka. Ia mengungkapkan bahwa perjalanan menuju imamat tidak selalu mulus; ada masa-masa krisis di mana di antara mereka sempat terpikir untuk mengundurkan diri.

Namun, berkat sikap saling terbuka, kepedulian, dan saling menguatkan antar-teman seangkatan, mereka akhirnya mampu melangkah bersama hingga garis akhir dan menerima rahmat imamat.

Mengakhiri sambutannya, Romo Aprilyanto menyampaikan harapan sederhana namun mendalam bagi pelayanan mereka ke depan dengan nada penuh kehangatan.

“Semoga kami menjadi imam yang semakin mudah ditemui umat dan menjadi imam yang setia sampai tuwek, sampai elek, dan sampai matek [sampai tua, sampai jelek, dan sampai mati],” tegasnya.

Menghadirkan Berkat

Selanjutnya, seraya mengucapkan selamat atas rahmat tahbisan yang diterima, mewakili Komunitas Seminari, Romo Titus dalam sambutannya juga menegaskan bahwa kehadiran para imam baru sesuai dengan visi-misi seminari untuk melahirkan pelayan-pelayan Gereja, khususnya di wilayah Sumatera Bagian Selatan yang siap mendatangkan berkat bagi umat.

“Para imam itu ditahbiskan untuk menghadirkan berkat, untuk mendatangkan berkat, untuk membuat banyak berkat untuk umat, supaya umat itu menjadi orang yang terberkati, karena para imam adalah orang yang terberkati dan dengan terberkati itu jugalah maka dia juga bisa memberkati kita semua,” tuturnya.

Usai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan sesi foto dan ramah-tamah bersama yang berlangsung penuh sukacita.

***Ignasius de Loyola P. Fajar dan Hardijan Ndruru (Seminaris Kelas Rhetorica)

Leave a Reply

Your email address will not be published.