
BELITANG— Sebanyak 208 umat Katolik Paroki Santa Maria Tak Bernoda Tegalrejo, Belitang, resmi menerima Sakramen Krisma pada Minggu (16/8/2026). Dalam perayaan Ekaristi tersebut, Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, menegaskan pentingnya kedewasaan iman agar umat tidak gampang goyah oleh isu-isu yang meragukan ajaran Gereja serta senantiasa menjadi saksi Kristus lewat tindakan nyata di masyarakat.

Perayaan Ekaristi penerimaan Sakramen Krisma yang dipusatkan di Paroki Tegalrejo ini dihadiri oleh ratusan umat dari berbagai stasi di wilayah setempat. Turut hadir mendampingi Uskup Agung dalam perayaan tersebut adalah Pastor Paroki Tegalrejo, Romo Amatus Sukadi SCJ, Romo Fransiskus Dedy Saputra SCJ, Romo Hubertus Aditya Prabowo SCJ, dan Diakon Novtavianus Aldi Prayoga SCJ.

Dalam homilinya, Mgr. Yohanes menyoroti fenomena klaim ilmiah atau arkeologis yang kerap beredar untuk meragukan kebangkitan Yesus maupun dogma Bunda Maria diangkat ke surga. Uskup menegaskan bahwa iman Kristen tidak berdasar pada jasad duniawi yang fana, melainkan pada kebangkitan tubuh rohani yang kekal dan tak terikat waktu maupun penderitaan.
“Iman kepada Yesus yang bangkit dan Maria yang diangkat ke surga adalah kebenaran 100 persen yang harus kita percayai secara penuh. Jasad duniawi kita sangat rapuh dan lemah. Kehidupan kekal dari Allah memberikan kita tubuh rohani yang membebaskan dari segala keterbatasan,” tegas Mgr. Yohanes di hadapan ratusan umat yang hadir.
Ia juga mengajak umat meneladani Bunda Maria yang selalu bergegas menolong sesama tanpa harus diminta, seperti ketika mengunjungi Elisabet maupun saat memperhatikan kebutuhan tuan rumah pada pesta di Kana. Menurutnya, kepedulian sosial merupakan salah satu wujud nyata dari iman yang hidup.
Lebih lanjut, Bapa Uskup mengumpamakan penerima Sakramen Krisma seperti anggota keluarga yang telah menginjak usia dewasa. Seorang anak yang dewasa tidak hanya dipanggil untuk membantu kebutuhan rumah tangga, tetapi yang paling utama adalah menjaga dan mengharumkan nama baik keluarganya.
“Dewasa dalam iman artinya tanpa disuruh atau diajari lagi, kita dengan sendirinya tergerak untuk hidup jujur, adil, dan berbuat benar. Umat Katolik dipanggil untuk mengharumkan nama Gereja dan menjadi saksi Kristus di mana pun berada, bukan justru mencemarkan nama baik persekutuan dengan perbuatan tidak terpuji,” terang Bapa Uskup.
Ia berpesan agar para penerima Krisma meneladani para martir dan orang kudus yang teguh mempertahankan iman di tengah cobaan duniawi, serta tidak mudah menukar iman demi kenikmatan sesaat.
Rangkaian perayaan Ekaristi yang berlangsung dengan khidmat dan meriah ini kemudian ditutup dengan acara ramah tamah bersama antara yang diikuti Bapa Uskup, para imam, dan seluruh umat.
***Andreas Setiyo Nugroho
