Tiga Pasutri di Palembang Perbarui Janji Perkawinan, Romo Gono Ingatkan Esensi Jalan Salib

Foto: Komsos Paroki St. Yoseph Palembang

PALEMBANG — Umat Katolik diajak untuk berani menyangkal diri, memanggul salib, dan terus mempersembahkan hidupnya agar diperbaharui oleh Tuhan. Pesan mendalam ini disampaikan oleh Pastor Paroki St. Yoseph Palembang, Romo Hyginus Gono Pratowo, dalam Perayaan Ekaristi yang berlangsung pada Minggu (30/8/2026) petang. Perayaan ini terasa makin spesial karena dirangkaikan dengan penyegaran janji perkawinan bagi tiga pasangan suami istri (pasutri) yang merayakan ulang tahun pernikahan di bulan Agustus ini.

Dalam khotbahnya, Romo Gono mengingatkan umat agar tidak bersikap seperti Santo Petrus yang kerap menuntut Tuhan bekerja sesuai dengan harapan dan keinginan manusia semata. Menurutnya, manusia sering kali hanya menginginkan kemenangan dan hidup tanpa luka atau penderitaan.

“Ketika Yesus berbicara tentang salib dan kematian, Petrus menolak karena tidak siap melihat penderitaan Sang Mesias. Namun, Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati tidak bisa dipisahkan dari pengorbanan,” tegas Romo Gono.

Ia menambahkan, Yesus memimpin dengan memanggul salib dan mengajak seluruh umat untuk menapaki jalan yang sama: menyangkal diri serta setia mengikut-Nya.

Menjawab Tantangan

Menghubungkan ajaran tersebut dengan konteks pelayanan umat sehari-hari, Romo Gono menyentil dinamika kehidupan menggereja. Ia menyoroti fenomena di mana banyak orang mudah memberi kritikan atau tuntutan, namun enggan ketika diminta untuk menyerahkan diri dalam pelayanan.

“Untuk mengkritik dan memberi komentar nomor satu, tetapi ketika pergantian pengurus, misalnya memilih ketua lingkungan, banyak yang menghindar dan merasa tidak mampu. Untuk memberikan diri, nanti dulu. Di sinilah pentingnya menyangkal diri dan mau memanggul salib, kendati terasa berat dan membutuhkan ketulusan hati,” ujarnya.

Mengutip pesan Rasul Paulus, ia mengajak umat untuk mempersembahkan seluruh keberadaan diri, baik pikiran, rencana, cita-cita, bahkan luka-luka hidup ke atas altar Tuhan untuk diperbaharui. Kesadaran akan kelemahan dan dosa justru menjadi pintu masuk bagi Roh Kudus untuk berkarya merestorasi hidup manusia.

“Dunia mungkin menganggap jalan salib sebagai kebodohan. Namun, jalan inilah yang menampilkan rahasia hidup sejati: kehilangan diri demi menemukan Kristus,” tambah Romo Gono.

Pembaharuan Janji Perkawinan

Suasana istimewa menyelimuti gereja saat memasuki upacara penyegaran janji perkawinan. Ketiga pasutri dipanggil maju ke depan altar untuk kembali mengucapkan janji setia di hadapan Tuhan dan umat.

Romo Gono kemudian merperciki mereka dengan air suci sebagai simbol pembersihan dan pemberkatan atas perjalanan rumah tangga yang baru. Upacara tersebut diakhiri dengan penyerahan setangkai bunga mawar kepada masing-masing pasangan sebagai lambang cinta kasih yang terus diperbaharui.

***B. Endah Tri L (Komsos Paroki St. Yoseph Palembang)

Leave a Reply

Your email address will not be published.