St. Teresa dari Kalkuta
Hari Sabtu Imam
1Kor 4:6b-15; Mzm 145:17-18.19-20.21; Luk 6:1-5. BcO 2Tim 4:1-22
Pahami Hati Tuhan

Saudara-saudari terkasih, pernahkah kita merasa tertekan oleh begitu banyak aturan hingga lupa alasan aturan itu dibuat? Dalam kisah Injil hari ini kita melihat peristiwa sederhana saat murid-murid Yesus berjalan di ladang gandum pada hari Sabat. Karena merasa lapar, mereka memetik bulir gandum, mengelupasnya dengan tangan, lalu memakannya. Bagi orang Farisi yang melihatnya, perbuatan tersebut dianggap sebagai pelanggaran berat. Dalam kacamata tradisi mereka, memetik gandum sama saja dengan menuai, dan mengelupasnya sama saja dengan menumbuk dua pekerjaan yang dilarang keras dilakukan pada hari Sabat. Namun, Yesus melihat hal yang berbeda, Ia tidak fokus pada formalitas ritual, melainkan pada kebutuhan dasar manusia yang sedang kelaparan.
Mengutamakan manusia di atas aturan Tuhan menegaskan Sabat sebagai hari perhentian agar manusia beribadah, beristirahat, memulihkan tenaga, dan mengarahkan hati kepada-Nya. Hari Sabat diciptakan untuk kebaikan manusia, bukan untuk menjadi beban yang menghimpit. Yesus mengingatkan kisah Raja Daud yang memakan roti sajian di rumah Allah saat ia dan pengikutnya kelaparan sesuatu yang secara hukum hanya boleh dimakan oleh para imam. Kasih dan kepedulian Allah selalu mendahului aturan kaku yang dibuat oleh manusia.
Di akhir kisah ini, Yesus menegaskan keberadaan-Nya sebagai “Tuhan atas hari Sabat”. Pernyataan ini menunjukkan kekuasaan-Nya. Aturan keagamaan tidak boleh dipakai untuk menghakimi atau menyulitkan hidup orang lain, melainkan untuk membawa manusia semakin dekat dengan kasih Allah. Ketika ajaran agama justru membuat hati kita keras dan dingin terhadap sesama, ada yang salah dengan cara kita memahami iman. Sering kali kita bersikap seperti orang Farisi tanpa kita sadari. Kita mudah menghakimi orang lain berdasarkan penampilan luar, kebiasaan, atau kekhilafan mereka dalam menjalankan aturan. Kita begitu sibuk menjaga formalitas sampai lupa menunjukkan belas kasih.
Saudara-saudari terkasih, pesan Yesus sangat jelas untuk kita jalani hari ini: Pahami Hati Tuhan; Ingatlah bahwa Tuhan menghendaki belas kasihan, bukan sekadar ketaatan yang lahiriah. Hadirkan Kepedulian; Jangan biarkan aturan atau gengsi menghalangi kita untuk menolong sesama yang sedang membutuhkan. Fokus pada Relasi; Beribadah dan berbuat baiklah bukan karena takut dihukum, melainkan karena rasa syukur atas kasih Tuhan. Mari kita belajar memiliki mata dan hati seperti Yesus. Mata yang tidak sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi hati yang peka melihat kebutuhan dan penderitaan sesama. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Ignasius Seda Tingkat II
