
PALEMBANG — Pendampingan iman anak bukan sekadar kegiatan belajar biasa, melainkan sebuah tugas mulia untuk membawa anak-anak semakin dekat kepada Allah. Melalui peran tersebut, para pembina hadir sebagai perpanjangan tangan atau wakil Allah bagi anak-anak.

Hal tersebut ditegaskan oleh Staf Komisi Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) Keuskupan Agung Palembang, Sr. Franciska HK, dalam pembinaan Bina Iman Anak (BIA) bagi para seminaris kelas Rhetorica di Seminari Menengah Santo Paulus, Palembang, Kamis (3/9/2026) siang.
“Tugas pendamping tidak berhenti pada pemberian materi saja, melainkan memperkenalkan Kristus serta membantu anak-anak memahami dan menghayati iman Kristiani,” ungkap Sr. Franciska di Ruang Rekreasi Seminaris.
Sr. Franciska menjelaskan bahwa pendampingan iman harus dilakukan secara sistematis, terarah, dan berfokus pada pembentukan karakter. Harapannya, anak-anak dapat bertumbuh dalam kasih, tanggung jawab, dan mampu menangkal berbagai pengaruh negatif dari lingkungan sekitar.
Agar nilai-nilai iman mudah diterima, Sr. Franciska menekankan pentingnya kreativitas dalam metode pendampingan. Penggunaan permainan, tepukan, hingga cerita yang menarik dapat menciptakan suasana belajar yang ceria namun tetap mendalam.
Kehadiran BIA juga menjadi bentuk nyata dukungan Gereja bagi keluarga, mengingat tidak semua orang tua memiliki kesempatan yang sama dalam memberikan pendampingan iman secara optimal di rumah.

Bagi para seminaris Rhetorica yang dipersiapkan sebagai calon pendamping, pembekalan ini tidak sekadar menjadi ajang belajar mengajar. Lebih dari itu, ini adalah kesempatan emas untuk menghadirkan Kristus secara nyata melalui pelayanan dan keteladanan hidup mereka.
***Natan Nael Pandiangan dan Timotius Gregontino Bayunadi (Seminaris Kelas Rhetorica)
