
PALEMBANG – Seminari Menengah Santo Paulus Palembang kembali menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) bagi para seminaris yang dilaksanakan di Aula Semangat selama tiga hari mulai 4-6 Sepetmber 2026. Memasuki hari kedua, Sabtu (5/9/2026) pagi, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Tanjungkarang, Romo Romo Yohanes Agus Susanto mengajak para seminaris untuk mendalami materi “7 Kebiasaan yang Efektif”. Materi ini bertujuan membangun fondasi kepemimpinan bagi seluruh seminaris melalui pembentukan karakter dari hal-hal sederhana sehari-hari.

Dalam pemaparan materinya, Romo Santo mengajak para seminaris membiasakan hal-hal kecil seperti datang tepat waktu, membuang sampah pada tempatnya, mendengarkan dan menghargai orang lain, hingga menjaga silentium (keheningan). Menurutnya, kebiasaan sederhana yang sering kali luput dari perhatian justru menjadi kunci utama pembentukan karakter seorang pemimpin.
“Seorang pemimpin itu tidak dilahirkan, tapi dibentuk dengan hal-hal yang kecil,” tegas Romo Santo.
Lebih lanjut, ia juga menekankan bahwa pembentukan diri calon imam bermula dari rutinitas harian yang dijalani secara konsisten. Tujuh kebiasaan yang diangkat dalam materi Latpim ini meliputi menjadi produktif, memulai dari tujuan akhir, mendahulukan prioritas, berpikir menang-menang, berusaha memahami, mewujudkan sinergi, dan bertanggung jawab.

Ia menjelaskan bahwa produktif bukan sekadar sibuk melakukan kegiatan, melainkan tentang konsistensi dan inisiatif. Para seminaris diajak mengubah pola pikir menjadi “saya ingin…”, “saya harus…”, dan “saya bisa…” agar berani memimpin diri sendiri, mengambil keputusan, mengelola waktu secara efektif, serta disiplin terhadap tugas harian seperti piket pagi dan keheningan.
Selain penyampaian materi, peserta yang terbagi dalam kelompok kecil diajak berkolaborasi menggunakan kertas karton untuk merumuskan karakter pemimpin ideal. Dari diskusi tersebut, para seminaris menyimpulkan beberapa sikap utama yang wajib dimiliki seorang pemimpin, antara lain mau mendengarkan, memiliki daya juang tinggi, jujur, tegas, dan adil dalam segala aspek.

Melalui pertemuan ini, para seminaris diajak menyadari bahwa kebiasaan kecil yang dijalani secara konsisten setiap hari merupakan bagian penting dari proses formatio (pembentukan diri). Bekal ini diharapkan dapat mencetak calon imam yang berkarakter kuat dan siap memimpin di masa depan.
“Pemimpin yang memiliki posisi jabatan formal itu mitos, setiap orang memiliki jiwa kepemimpinannya,” pungkas Romo Santo.
***Valentino Bima Sakti dan Atanasius Gerald Juan Pratama (Seminaris Kelas Rhetorica)
