
PALEMBANG — Kepemimpinan sejati tidak lahir dari jabatan formal semata, melainkan dari pengalaman, kepekaan, dan rasa kepedulian terhadap sesama. Hal itulah yang ditanamkan kepada seluruh siswa Seminari Menengah Santo Paulus Palembang dalam rangkaian Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang berlangsung pada 4–6 September 2026.
Memasuki hari kedua kegiatan, Sabtu (5/9/2026), para seminaris mengasah mental, kerja sama, dan jiwa kepemimpinan mereka melalui dua sesi utama, yakni aksi outbound di sore hari dan pemaparan materi pemaknaan kepemimpinan pada malam harinya.

Sesi outbound yang berlangsung pukul 15.00 WIB di Lapangan Indoor Benedictus SMA Xaverius 1 Palembang menjadi ajang pembuktian kekompakan para peserta. Dipandu oleh Maria Deta Ratna Jelita dan Simon Martinus dari tim Komisi Kepemudaan Keuskupan Tanjungkarang, para seminaris tertantang menyelesaikan berbagai dinamika kelompok seperti permainan bola stik, menanggung beban, hingga check point.
Kemeriahan pecah saat permainan check point. Dalam permainan ini, empat peserta berbaris dengan mata tertutup, sementara peserta kelima di barisan belakang yang tidak ditutup matanya bertugas memberikan arahan untuk mengambil sedotan sebagai syarat kemenangan.
“Outbound sore ini benar-benar menuntut kami untuk membangun kerja sama tim dan saling peka. Hal itu penting supaya setiap permainan yang diberikan bisa terselesaikan dengan baik dan lancar,” ujar Gede, salah satu anggota Kebidelan atau OSIS Seminari.

Setelah mengasah ketangkasan fisik dan kerja sama tim, kegiatan dilanjutkan pada malam hari di Aula Semangat. Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Tanjungkarang, Romo Yohanes Agus Susanto, memberikan pembekalan bertajuk “Kepemimpinan Berpusat pada Manusia”.
Dalam pemaparannya, Romo Santo menekankan bahwa setiap anggota komunitas memiliki kesetaraan. Jabatan hanyalah sebuah tanggung jawab untuk mengoordinasi dan memastikan seluruh proses hidup bersama berjalan baik, bukan alat untuk membeda-bedakan.

Ia membagikan lima pilar penting kepemimpinan komunitas yang wajib dimiliki para seminaris, yaitu Mendengarkan dengan hati, Merajut visi bersama, Merancang aksi dengan cerdas, Bertindak dan belajar secara bersama, Memastikan keberlanjutan serta pelipatgandaan.
Romo Santo juga menegaskan pentingnya menempatkan penghargaan terhadap pribadi manusia di atas aturan formal yang kaku. Rangkaian kegiatan hari kedua ini ditutup dengan sesi Refleksi dan Perjalanan Jiwa, di mana para peserta diajak merenungkan seluruh dinamika hari itu, mulai dari bangun pagi hingga malam hari untuk menemukan sosok pemimpin seperti apa yang ingin mereka wujudkan di masa depan.
“Bukan hanya dari teori, tetapi kepemimpinan tumbuh dari pengalaman,” pungkas Romo Santo.
***Paskalis Ivan Prasetyo, Vitus Alga Firnando, dan Ignatius Yovian Nurcahyo (Seminaris Kelas Rhetorica)
