Sambut Usia Perak, Anggota PWK St. Monika KAPal Diajak Jadi Garam dan Terang

Foto: Dok. PWK St. Monika

BANYUASIN — Berkurangnya kekuatan fisik dan bertambahnya usia bukanlah akhir dari perjalanan iman maupun perutusan hidup. Bagi para lansia dan janda, pengalaman hidup yang diwarnai suka dan duka justru menjadi sumber kebijaksanaan yang berharga.

Pesan peneguhan tersebut disampaikan oleh Romo Gading Johannes Sianipar saat membawakan materi dalam Retret Perhimpunan Warakawuri (PWK) St. Monika Keuskupan Agung Palembang (KAPal). Kegiatan yang berlangsung di Wismalat Podomoro, Banyuasin, pada Jumat hingga Minggu (4-6/9/2026) ini diikuti oleh 48 peserta dari berbagai paroki di wilayah Keuskupan Agung Palembang. Retret ini sekaligus menjadi momentum refleksi dan syukur menjelang perayaan 25 tahun PWK St. Monika yang jatuh pada 9 September 2026 mendatang.

Mengusung tema “PWK Santa Monika Terpanggil dan Terpilih Menjadi Terang dan Garam di Tengah Keluarga, Gereja, dan Masyarakat”, retret ini dirancang untuk mengajak para anggota mensyukuri perjalanan hidup, menyembuhkan luka batin, serta meneguhkan kembali komitmen pelayanan di masa tua.

Foto: Dok. PWK St. Monika

Dalam empat sesi pertemuan retret, para peserta diajak melalui proses refleksi rohani secara bertahap: Bersyukur atas Perjalanan Hidup, Menerima dan Menyembuhkan Hati, Menjadi Garam dan Terang Dunia, dan Hidup adalah Perutusan. Romo Gading menegaskan bahwa keberadaan para ibu warakawuri tetap memiliki peran strategis di tiga lingkar kehidupan, yakni dalam keluarga, Gereja, dan masyarakat.

“Usia boleh bertambah dan kekuatan boleh berkurang, tetapi iman, harapan, kasih, serta panggilan untuk melayani dan menjadi berkat tidak akan pernah berhenti,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ketua Komisi Pendidikan KAPal ini juga menekankan pentingnya mengolah rasa kehilangan dan kesepian akibat ditinggal pasangan serta belajar melepaskan beban masa lalu, belajar mengampuni, dan menyerahkan segala kekhawatiran ke dalam tangan Tuhan. Ia pun mengajak peserta untuk merefleksikan panggilan sebagai garam dan terang dunia. Menurutnya, panggilan untuk menjadi garam dan terang dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dan sederhana, seperti memberi rasa damai dan kehangatan, memancarkan harapan melalui keteladanan, tutur kata yang menguatkan, serta sikap saling mengasihi.

“Meski keterbatasan fisik mulai membatasi aktivitas, para ibu warakawuri tetap dapat menjalankan misi pelayanan yang ampuh melalui doa yang tekun, pendengar yang bijak, dan penabur pilar rohani bagi anak-cucu serta generasi muda,” tegas Romo Gading.

Ia pun mengungkapkan pentingnya rasa Syukur dalam hidup. “Mari kita terus bersyukur, tidak hanya meratapi apa yang telah berkurang atau hilang, melainkan senantiasa menghitung rahmat Tuhan yang melimpah,” pungkas Romo Gading.

Foto: Dok. PWK St. Monika

Rangkaian materi retret ditutup dengan ibadat penyerahan diri, pembaruan komitmen perutusan, doa bersama untuk menyongsong perayaan puncak ulang tahun ke-25 PWK St. Monika Keuskupan Agung Palembang, dan Perayaan Ekaristi.

***TJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.