Hari Biasa
1Kor 9:16-19.22b-27; Mzm 84:3.4.5-6.12; Luk 6:39-42. BcO 2Ptr 3:11-18.
Bercermin Sebelum Menghakimi

Saudara-saudari yang terkasih, Injil hari ini mengajak kita untuk melihat diri sendiri sebelum melihat kesalahan orang lain. Yesus berkata, “Mengapa engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” Perkataan ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Kita sering mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit melihat kekurangan diri sendiri.
Saya sendiri pernah merasa kesal melihat seseorang melakukan sesuatu yang menurut saya kurang baik. Dalam hati saya berpikir bahwa cara saya lebih benar. Namun, setelah saya renungkan, ternyata saya sendiri pernah melakukan kesalahan yang hampir sama. Bedanya, ketika orang lain yang melakukannya, saya langsung melihat kesalahannya. Tetapi ketika saya yang melakukannya, saya punya banyak alasan untuk membenarkan diri. Dari pengalaman sederhana itu saya belajar bahwa kita sering sangat tajam melihat kesalahan orang lain, tetapi kurang peka melihat kesalahan diri sendiri.
Hal ini bisa terjadi dalam keluarga dan kehidupan bersama. Kita mudah mengkritik anak, pasangan, teman, atau sesama, tetapi lupa bahwa kita juga tidak sempurna. Yesus bukan melarang kita menegur orang lain, tetapi Ia mengingatkan agar kita tidak merasa diri paling benar. Sebelum memperbaiki orang lain, kita harus berani memperbaiki diri sendiri.
Bacaan pertama juga mengingatkan kita bahwa kehidupan beriman membutuhkan perjuangan dan penguasaan diri. Menjadi pengikut Kristus adalah sebuah proses. Kita masih belajar, masih memiliki kekurangan, dan masih membutuhkan koreksi.
Sebagai seorang calon imam, sabda ini menjadi teguran bagi saya. Dalam hidup bersama, saya bertemu dengan banyak orang yang berbeda karakter dan kebiasaannya. Kadang saya mudah melihat kekurangan mereka. Tetapi saya perlu bertanya kepada diri sendiri “Apakah saya sudah lebih baik dari orang yang saya kritik?” Jangan sampai saya sibuk melihat kesalahan orang lain, tetapi lupa bahwa diri saya sendiri juga masih perlu dibentuk.
Saudara-saudari, hari ini Tuhan meminta kita berhenti sejenak dan bercermin. Sebelum menyalahkan orang lain, mari melihat diri sendiri, mau menerima koreksi, dan berani untuk berubah. Kita semua memiliki “balok” dalam hidup kita ”ego, kemarahan, kesombongan, atau sikap merasa paling benar.” Semoga kita tidak menjadi orang yang cepat menghakimi, tetapi menjadi pribadi yang mau terus belajar dan bertumbuh. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Delho Panca Firdaus Sinaga Tingkat III
