
Legio Maria (Legio Mariae) adalah salah satu organisasi kerasulan awam terbesar di dalam Gereja Katolik. Di balik jaringannya yang luas dan terstruktur, perhimpunan doa serta pelayanan ini menyimpan sejarah panjang yang berawal dari sebuah kota kecil di Eropa hingga akhirnya menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.
Berawal dari Dublin
Legio Maria resmi berdiri pada 7 September 1921 di Dublin, Irlandia. Organisasi ini digagas oleh Frank Duff, seorang awam Katolik yang saat itu aktif dalam gerakan sosial pelayan kaum miskin. Ia lahir di Dublin, 7 Juni 1889 sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara pasangan suami istri John Duff dan Susan Frehill dengan nama Francis Michael Duff.

Pada umur 18 tahun dia menjadi pegawai negeri sipil dan bekerja di Departemen Keuangan, kemudian pada usia 24 tahun ia bergabung dalam Saint Vincent de Paul Society yang di Indonesia dikenal sebagai Serikat Santo Vincentius (SSV). Serikat ini memiliki pelayanan untuk membantu orang-orang yang mengalami kesulitan dan tekanan besar karena pengangguran dan kemiskinan, serta membangkitkan semangat hidup rohani kaum miskin.
Melihat tingginya kemiskinan dan keterpurukan sosial di lingkungannya, Frank merasa bahwa bantuan materi saja tidak cukup, harus ada landasan rohani. Bersama seorang imam, Pastor Michael Toher, dan sekelompok wanita muda, ia mengadakan pertemuan pertama untuk mengintegrasikan doa dan karya pelayanan rohani.
Terinspirasi oleh ajaran devosi Maria dalam buku Bakti Sejati karya St. Louis Marie de Montfort, gerakan ini mengadopsi model kedisiplinan pasukan tentara Romawi kuno (legion), namun alih-alih senjata perang, “pasukan” ini berjuang di bawah panji Bunda Maria dengan senjata doa dan kasih.
Berlayar ke Nusantara
Perjalanan Legio Maria ke tanah air dimulai pada tahun 1951. Gerakan ini dibawa pertama kali ke Medan, Sumatera Utara, oleh seorang utusan bernama Theresia Su, ia adalah Legioner di Universitas Hongkong. Dari Medan, api devosi ini menyebar ke berbagai daerah di Sumatera seperti Padang, Pekanbaru, dan Pangkalpinang, sebelum menyeberang ke Kalimantan hingga ke Maumere, Nusa Tenggara Timur.
Sementara itu di Pulau Jawa, perintisnya adalah Romo Paul Janssen CM, yang mendirikan kelompok (Presidium) pertama di Kediri, Jawa Timur, pada tahun 1952. Gerakan ini berkembang begitu cepat di kalangan umat Katolik Indonesia karena model pendekatannya yang langsung menyentuh masyarakat melalui kunjungan rumah, pelayanan pada yang sakit, dan penguatan hidup beriman.
Pembagian Wilayah Senatus di Indonesia
Untuk mengelola tingginya dinamika organisasi di negara kepulauan ini, dewan pusat (Consilium) membentuk dewan koordinasi tingkat nasional yang disebut Senatus. Saat ini, kepemimpinan dan pembagian cakupan wilayah Senatus Legio Maria di Indonesia terbagi ke dalam tiga Dewan Senatus, yaitu Senatus Sinar Bunda Karmel Malang (5 Juli 1964) yang mengampu wilayah Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, Sulawesi, Maluku, dan Papua; Senatus Bejana Rohani Jakarta (29 Maret 1987) yang mengampu wilayah Sumatera, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan; dan Senatus Maria Diangkat ke Surga Kupang (8 September 2019) yang mengampu wilayah Nusa Tenggara Timur, yaitu Flores, Timor, Sumba, dan sekitarnya.
Melalui struktur Senatus ini, puluhan ribu anggota (legioner) di Indonesia terus menjalankan perannya secara terkoordinasi, menjadi “tangan dan kaki” Gereja di tengah masyarakat modern.
Berdasarkan pendataan nasional (saat peringatan Yubileum 100 Tahun Legio Maria), total anggota Legio Maria (legioner) di Indonesia tercatat sekitar 66.000 orang.
Para legioner ini tersebar di 38 keuskupan di Indonesia dan terbagi ke dalam dua kelompok keanggotaan, yaitu Anggota Aktif (Legioner yang terlibat langsung dalam rapat mingguan serta menjalankan tugas kerasulan/pelayanan lapangan secara rutin) dan Anggota Auxilier (Legioner yang mendukung karya kerasulan melalui komitmen doa harian, seperti doa Catena Legionis dan Rosario).
Secara kewilayahan, sebaran anggota dengan basis legioner terbesar berada di wilayah Senatus Kupang mencakup sekitar 29.000 legioner, disusul oleh Senatus Malang dan Senatus Jakarta.
***TJK dari berbagai sumber
