Renungan Harian 23 September 2026

PW St. Pius dr Pietrelcina – Padre Pio

Ams 30:5-9; Mzm 119:29.72.89.101.104.163; Luk 9:1-6; BcO Tob 4:1-5.19-21; 5:1-16

Berharaplah Hanya kepada Allah

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, hari ini kita diajak untuk melihat kembali kehidupan Santo Pius dari Pietrelcina atau yang lebih kita kenal sebagai Padre Pio. Lahir di Italia dan menjadi seorang imam Kapusin, Padre Pio dikenal akan kedalaman doa dan penderitaan fisik yang dibawanya. Selama 50 tahun, ia menanggung luka stigmata, luka-luka yang serupa dengan luka penyaliban Yesus yang menimbulkan rasa sakit luar biasa. Namun, di tengah penderitaan yang begitu berat, Padre Pio tidak pernah tawar hati atau berhenti berharap. Ia senantiasa mengajarkan kita sebuah ungkapan yang menguatkan: ”Berdoalah, berharaplah, dan jangan khawatir.”

Keteladanan Padre Pio ini sangat sejalan dengan kisah Injil hari ini, di mana Yesus mengutus kedua belas murid-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah. Yesus mengutus mereka tanpa membawa bekal materi, tanpa penopang duniawi, dan menuju medan pelayanan yang belum mereka ketahui. Para murid diajar untuk melepaskan segala rasa aman yang sifatnya sementara dan menyerahkan seluruh hidup mereka sepenuhnya pada penyelenggaraan Ilahi. Baik para murid maupun Padre Pio sama-sama membuktikan bahwa ketika manusia tidak lagi mengandalkan kekuatan diri sendiri, kuasa dan Pemeliharaan Allah justru bekerja secara nyata.

Sering kali dalam hidup sehari-hari, kita terjebak untuk menggantungkan rasa aman pada hal-hal duniawi, seperti materi, jabatan, atau kondisi yang serba pasti. Ketika penderitaan, kesakitan, atau ketidakpastian datang menghampiri, kita dengan mudah menjadi cemas dan kehilangan arah. Lewat renungan hari ini, kita diajak untuk berani mengalihkan pandangan dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tumpuan dan harapan hidup kita.

Penderitaan atau tantangan hidup yang kita alami bukanlah alasan untuk berhenti melangkah atau menyerah. Sebaliknya, hal itu adalah kesempatan emas bagi kita untuk membiarkan kuasa Tuhan bekerja dan menyempurnakan kelemahan kita. Seperti Padre Pio yang tetap rendah hati, taat, dan peduli pada sesama di tengah sakitnya, kita pun dipanggil untuk tetap setia mewartakan kasih Allah di mana pun kita berada, meskipun situasi sekitar terasa sulit.

Saudara-saudari, mari kita melangkah setiap hari dengan iman yang mantap. Saat Tuhan mempercayakan tugas yang berat atau ketika kita dihadapkan pada masa-masa yang sulit, kita tidak perlu cemas akan hari esok. Percayalah bahwa Tuhan tidak pernah mengutus atau membiarkan kita berjalan sendirian. Ia selalu ada, berjalan bersama kita, dan menyediakan apa yang paling kita butuhkan tepat pada waktunya. Berharaplah hanya kepada-Nya. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Fr. Yustinus Irvan Handrian Tingkat III

Leave a Reply

Your email address will not be published.