PF St. Daniel, Martir
Gal 3:22-29; Mzm 105:2-3.4-5.6-7; Luk 11:27-28. BcO Sir 7:22-36
Menabur Kangkung = Menabur Sabda

Saudara-saudari yang terkasih, beberapa waktu lalu, kami para frater Palembang, baru saja menabur benih kangkung di kebun. Melihat benih kangkung yang baru ditabur mengingatkan saya pada satu hal penting: kita tidak pernah bisa mengendalikan cuaca, apalagi menjamin seberapa lebat hasil panennya kelak. Yang bisa kita lakukan hanyalah satu, yaitu merawatnya dengan setia dan penuh cinta kasih setiap hari. Demikian pula halnya dengan Sabda Tuhan. Kita tidak perlu pusing menghitung seberapa besar hasil dari setiap ayat yang kita baca dan dengar, karena tugas utama kita hanyalah tetap setia membaca, mendengarkan, dan menghidupinya.
Hal inilah yang Yesus tunjukkan dalam Injil hari ini. Ketika seorang perempuan berseru memuji ibu yang telah melahirkan dan menyusui-Nya, Yesus menjawab, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan memeliharanya.” Jawaban Yesus ini sama sekali tidak merendahkan Bunda Maria, melainkan justru menegaskan alasan sejati mengapa ia begitu berbahagia. Bunda Maria menjadi sangat istimewa bukan sekadar karena melahirkan Yesus secara jasmani, melainkan karena kesetiaan dan ketaatannya menerima Sabda Allah bagaikan tanah yang subur—membiarkannya berakar, bertumbuh, dan berbuah manis.
Kebahagiaan dan keistimewaan yang sama juga ditawarkan kepada kita. Seperti yang dituliskan Santo Paulus kepada jemaat di Galatia, sebelum mengenal Kristus kita hidup seperti anak kecil yang terus diawasi. Namun setelah iman hadir, kita diangkat menjadi anak-anak Allah. Status sebagai anak Allah ini bukan diperoleh karena garis keturunan atau nama besar keluarga, melainkan karena iman yang dihidupi dengan taat serta benih-benih kebaikan yang terus kita taburkan dalam keseharian.
Melalui teladan Bunda Maria, kita diajak untuk menghidupi dua hal mendasar dalam perjalanan iman kita. Pertama, menjaga kesetiaan untuk terus menimba kekuatan dari Sabda Allah yang kita baca dan dengar. Kedua, memelihara ketaatan dalam menjalankan tugas perutusan kita masing-masing, baik sebagai kepala keluarga, ibu rumah tangga, pekerja, maupun seorang anak dengan penuh kesungguhan dan keterbukaan hati.
Dalam menjalani peran-peran tersebut, mungkin buah dari usaha dan kebaikan kita tidak selalu tampak secara langsung. Namun, seperti benih kangkung di ladang para frater, yang terpenting adalah kerelaan hati kita untuk tetap setia merawatnya dari hari ke hari. Mari lakukan bagian kita dengan penuh kasih dan kesabaran, lalu serahkan sisanya kepada Tuhan, sebab Dialah yang berkuasa menumbuhkan dan membuahkan hasil-Nya pada waktu yang paling indah. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Stefanus Glenio Tingkat I
