
BANYUASIN — Keuskupan Agung Palembang (KAPal) menegaskan komitmennya untuk memastikan tidak ada lagi anak Katolik yang terancam putus sekolah atau kuliah karena kendala ekonomi. Komitmen ini diwujudkan melalui peluncuran program prioritas bertajuk Ayo Sekolah, Ayo Kuliah (ASAK) yang menjadi salah satu pilar utama Tahun Pendidikan dalam Arah Dasar (Ardas) V KAPal (November 2026–November 2027).
Program strategis ini dipaparkan langsung oleh anggota Tim Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Palembang (Komdik KAPal), Romo Stefanus Supardi, pada Kamis (8/10/2026) sore. Paparan dilaksanakan dalam rangkaian Rapat Koordinasi (Rakor) dan Workshop Pastoral KAPal bertema “Menata Pastoral: Berbasis Data dan Berbuah Nyata” yang berlangsung di Wismalat Podomoro, Banyuasin, pada 6–9 Oktober 2026.

Sesi pemaparan tersebut disaksikan langsung oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Vikaris Jenderal KAPal, Romo Yohanes Kristianto, serta 154 peserta rakor. Dalam kesempatan tersebut, Romo Supardi didampingi oleh Ketua Komdik KAPal, Romo Gading Sianipar, beserta anggota Tim Komdik KAPal lainnya, yakni Fr. M. Yoseph BHK dan Yustinawati.
Dalam paparannya, Romo Supardi menekankan bahwa Program ASAK mengusung semangat “Satu Gereja, Satu Kepedulian, Satu Masa Depan” dengan membawa pergeseran paradigma baru dari sekadar pendekatan karitatif (charity) menuju pemberdayaan (empowerment).
“ASAK bukan sekadar program bantuan keuangan biasa, melainkan instrumen strategis pastoral pendidikan KAPal. Kita bergeser dari sekadar belas kasihan menuju keadilan sosial, di mana pendidikan menjadi tanggung jawab bersama seluruh persekutuan umat beriman. Harapannya, tidak ada anak Katolik putus sekolah karena kemiskinan,” ujar Romo Supardi.
Ia menjelaskan bahwa cakupan program ASAK sangat komprehensif, mulai dari jenjang PAUD–SD (pendampingan dasar), SMP–SMA/SMK (beasiswa berkelanjutan), Perguruan Tinggi (mentoring dan pengembangan karier), hingga tahap pengembangan talenta kepemimpinan bagi Gereja dan masyarakat.

Untuk menjaga akuntabilitas dan efektivitas, ASAK menerapkan sistem penyeleksian berbasis data secara ketat dan objektif melalui Triase Penerima Manfaat. Prioritas utama ditujukan bagi anak-anak dalam kondisi krisis ekstrem, seperti anak yatim piatu, keluarga miskin ekstrem, atau yang terancam putus sekolah di semester berjalan.
“Proses seleksi dan verifikasi ASAK dilakukan secara ketat dan transparan mulai dari pendataan, verifikasi administrasi, hingga survei lapangan langsung oleh tim,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ketua Yayasan Xaverius Palembang ini juga menjelaskan bahwa dalam pengelolaannya ASAK akan menerapkan pemisahan tegas antara Regulator (Komdik KAPal) dan Operator Profesional, seperti Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) melalui Yayasan Sosial Pansos Bodronoyo. Penyaluran bantuan pun dirancang menggunakan protokol ketat tanpa uang tunai untuk menutup celah kebocoran dana.
Melalui peta jalan transformasi 10 tahun (2027–2037), Komdik KAPal menargetkan anak Katolik dapat mengecap pendidikan layak serta mandiri secara ekonomi dan karakter. Lebih dari itu, harapannya semua paroki juga memiliki data pendidikan umat sehingga tidak ada anak Katolik putus sekolah karena kemiskinan.
“Tujuan akhir kita adalah mewujudkan ekosistem pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan berakar pada martabat manusia. Kita ingin melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berkarakter, dan siap melayani,” tutup Romo Supardi.
***TJK
