
Kardinal Luis Antonio Tagle dari Filipina, Pro-Prefek Bagian Evangelisasi Pertama dan Gereja-Gereja Partikular Baru pada Dikasteri untuk Evangelisasi, menggantikan Kardinal Giovanni Battista Re yang berusia 92 tahun sebagai Dekan Dewan Kardinal.
Setelah memimpin salah satu lembaga tertua di dunia, yakni Dewan Kardinal, selama hampir tujuh tahun, Kardinal Giovanni Battista Re yang berusia 92 tahun mengakhiri masa jabatannya sebagai dekan. Ia digantikan oleh Kardinal Luis Antonio G. Tagle dari Filipina yang berusia 69 tahun, Pro-Prefek Bagian Evangelisasi Pertama dan Gereja-Gereja Partikular Baru pada Dikasteri untuk Evangelisasi.
Menurut Takhta Suci, Kardinal Tagle akan menyandang gelar Gereja Suburbikaria Ostia, sekaligus tetap mempertahankan gelar Gereja Suburbikaria Albano. Ia terpilih menduduki jabatan tersebut pada Kamis, 8 Oktober, melalui pemilihan oleh para kardinal dari Ordo Uskup-Kardinal. Pengangkatan untuk jabatan tinggi dalam hierarki Gereja itu diumumkan pada Jumat.
Reformasi Paus Fransiskus
Kardinal Re, tokoh penting Kuria Roma yang telah mengabdi selama empat masa kepausan, mulai dari Paus Yohanes Paulus II hingga masa kepausan saat ini, tetap menyandang gelar Gereja Suburbikaria Sabina-Poggio Mirteto. Ia juga memperoleh gelar baru sebagai “Dekan Emeritus” Dewan Kardinal.
Gelar tersebut merupakan pembaruan yang diperkenalkan Paus Fransiskus melalui sebuah motu proprio pada 2019. Melalui ketentuan itu, Paus mereformasi jabatan dekan dengan menetapkan bahwa masa jabatan tersebut tidak lagi berlaku seumur hidup, melainkan selama lima tahun dan hanya dapat diperpanjang satu kali.
Keputusan ini diambil karena, seiring bertambahnya jumlah kardinal—sebanyak 15 orang di atas batas tradisional 120 kardinal pemilih—tanggung jawab yang harus dipikul Dekan Dewan Kardinal semakin besar.
Paus Fransiskus menegaskan bahwa pemimpin Dewan Kardinal dipilih oleh para anggota Ordo Uskup, sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam Kitab Hukum Kanonik, Kanon 352 § 2. Ia juga menetapkan masa jabatan yang terbatas serta kemungkinan untuk menjabat selama satu periode tambahan.
Pengangkatan kembali Kardinal Re
Kardinal Re pertama kali diangkat sebagai dekan pada 2020 untuk menggantikan Kardinal Angelo Sodano. Pada 2025, Paus Fransiskus kembali mengangkatnya untuk melanjutkan jabatan tersebut, dengan mempertimbangkan pengabdiannya selama Konklaf Maret 2013.
Saat itu, Kardinal Re, mantan nuncio apostolik yang pernah menjabat sebagai asesor dan pengganti urusan umum di Sekretariat Negara pada masa Paus Yohanes Paulus II, serta Prefek Kongregasi untuk Para Uskup pada 2000–2010, merupakan salah seorang kardinal pemilih.
Namun, ia menjalankan tugas-tugas yang semestinya dilakukan oleh dekan saat itu, Kardinal Sodano, yang tidak hadir di Kapel Sistina karena telah melewati batas usia 80 tahun.
Paus Fransiskus, yang berasal dari Argentina, juga menghargai semangat, pengalaman, dan keterusterangan Kardinal Re, yang berasal dari Brescia.
Pada 7 Januari 2025, Paus mengangkat kembali Kardinal Re untuk masa jabatan kedua. Pada kesempatan yang sama, Kardinal Leonardo Sandri dari Argentina juga dikukuhkan kembali sebagai Wakil Dekan Dewan Kardinal.
Tiga bulan kemudian, dalam kapasitasnya sebagai dekan, Kardinal Re memimpin upacara pemakaman Jorge Mario Bergoglio pada 26 April 2025. Ia juga memimpin perayaan Missa pro eligendo Pontifice atau Misa untuk Pemilihan Paus pada pagi hari menjelang dimulainya Konklaf, 7 Mei 2025. Konklaf tersebut kemudian menghasilkan terpilihnya Paus Leo XIV.
Yang pertama di antara yang sederajat
Pada usia 92 tahun, Kardinal Re, yang berasal dari Borno, mengakhiri pengabdiannya dalam jabatan tersebut di Gereja. Ia digantikan oleh Kardinal Tagle yang lebih muda dan dikenal luas, baik di lingkungan Gereja Asia maupun Gereja universal.
Sebelum terpilih sebagai dekan, Kardinal Tagle memimpin salah satu dari dua bagian Dikasteri untuk Evangelisasi, yang sebelumnya dikenal sebagai Propaganda Fide.
Dengan jabatan barunya, Kardinal Tagle akan memimpin para kardinal dari seluruh dunia. Namun, kedudukannya tetap sebagai primus inter pares, yang berarti “yang pertama di antara yang sederajat”. Dengan demikian, ia tidak memiliki kewenangan pemerintahan hierarkis atas sesama kardinal, melainkan bertugas mengoordinasikan kegiatan mereka.
Tugas utama dekan adalah mengumpulkan para kardinal untuk menyelenggarakan Konklaf apabila terjadi sede vacante, yakni kekosongan Takhta Kepausan, serta memimpin jalannya Konklaf tersebut, dengan syarat ia belum berusia 80 tahun dan karena itu masih termasuk dalam kelompok kardinal pemilih.
***Salvatore Cernuzio
Vatican News
