Paus: Mengajukan Pertanyaan Merupakan Bagian Penting dalam Perjalanan Iman

Paus Leo memimpin Misa di Basilika Santo Petrus | Foto: VATICAN MEDIA

Paus Leo XIV memimpin Misa pembukaan tahun akademik universitas-universitas kepausan. Ia mengingatkan para mahasiswa dan dosen untuk bersama-sama mencari kebenaran serta memperdalam iman melalui penggunaan akal budi.

Paus Leo XIV membuka tahun akademik baru bagi lembaga-lembaga pendidikan tinggi gerejawi melalui Misa yang dirayakan pada Kamis malam di Basilika Santo Petrus. Perayaan tersebut mempertemukan komunitas akademik kepausan yang besar di Roma.

Dalam homilinya, Paus menegaskan bahwa awal tahun akademik baru bukan sekadar kembali mengikuti perkuliahan dan melakukan penelitian. Menurutnya, kegiatan belajar harus menjadi pelayanan yang ditopang oleh Roh Kudus dan semangat “perutusan bersama”.

Sekitar 5.000 umat berkumpul untuk mengikuti Misa tersebut.

Sekitar 5.000 umat berkumpul untuk mengikuti Misa   | Foto: VATICAN MEDIA

Pelayanan kepada Iman dan Kebenaran

Paus Leo pertama-tama mengajak para mahasiswa dan pengajar untuk “memandang kegiatan belajar sebagai pelayanan kepada iman dan kebenaran, demi kebaikan diri sendiri dan begitu banyak saudara-saudari yang untuknya Tuhan menyerahkan hidup-Nya”.

“Akal budi, tindakan mengajukan pertanyaan dan mengungkapkannya dengan kata-kata dalam terang Sabda Allah dan Tradisi Gereja,” tegas Paus, “merupakan bagian penting dari perjalanan iman dalam mengikuti Yesus Kristus.”

Ketika universitas-universitas memulai tahun akademik baru, Paus berharap agar “awal yang baru ini sungguh menjadi momen gerejawi, ketika kebersamaan kita di sekitar meja Tuhan memelihara perutusan bersama”.

Panggilan untuk Menggunakan Kecerdasan

Paus kemudian kembali mengacu pada kata-kata Rasul Paulus yang dibacakan dari Surat kepada Jemaat di Galatia dalam Misa di Basilika Santo Petrus. Menurutnya, kata-kata tersebut merupakan “panggilan untuk menggunakan kecerdasan, ingatan, dan pemikiran kritis”.

Kecerdasan, lanjut Paus, “menentukan bagi iman dan perutusan”. Melalui upaya bersama untuk mencapai tujuan yang sama, “tidak seorang pun akan mengajar, belajar, atau melakukan penelitian semata-mata untuk dirinya sendiri, melainkan bersama orang lain, demi orang lain, dan terutama bersama Tuhan serta bagi Tuhan”.

Paus Leo mengingatkan bahwa kecerdasan juga diperlukan untuk mengenali dan menanggapi kemungkinan penyalahgunaan pendidikan.

“Pada setiap zaman, selalu ada guru-guru palsu yang mengeksploitasi semangat keagamaan banyak orang beriman demi kepentingan mereka sendiri. Mereka kerap mendorong orang untuk meradikalkan aspek-aspek tertentu dari ajaran yang telah mereka terima, dengan mengorbankan keseluruhan ajaran itu, yakni Kristus dan Injil-Nya,” ujar Paus.

Paus Leo mengangkat tinggi Kitab Suci   | Foto: VATICAN MEDIA

Uskup Roma itu melanjutkan bahwa kecerdasan juga berarti mengingat. Dengan kembali mengacu pada perkataan Rasul Paulus, ia mengatakan, “Karena itu, kecerdasan harus menjadi ingatan: bukan sekadar menyandingkan data, seperti yang kini dapat dilakukan algoritma dengan lebih cepat daripada kita, melainkan mengingat pengalaman beserta makna mendalam yang hanya dapat ditangkap oleh jiwa manusia, serta semakin mendalami kebaikan yang terkandung di dalamnya.”

Memelihara Persahabatan dan Semangat Berbagi

Paus mengajak para mahasiswa dan pengajar untuk menghargai persahabatan yang terjalin di lembaga pendidikan dan ruang-ruang kelas mereka.

“Peliharalah persahabatan di universitas,” imbaunya. Ia menyebut persahabatan sebagai “anugerah yang berharga”, terlebih ketika persahabatan itu dihidupi dalam pencarian bersama akan kebenaran di dalam Kristus.

“Padukan kehidupan ke dalam studi kalian dan studi ke dalam kehidupan, sesuai dengan logika Inkarnasi, yang tanpanya Wahyu akan kehilangan suaranya.”

Demikian nasihat Bapa Suci. Ia mengajak para mahasiswa agar tidak menjauhkan diri dari kenyataan demi memahaminya, melainkan juga menghadirkan Allah dalam penelitian akademik serta berbagi hal-hal yang memberi kehidupan bagi mereka.

Paus menegaskan bahwa “banyak orang tidak memiliki kesempatan pendidikan yang sama seperti yang kita miliki. Marilah kita membuka pintu, bukan menutup diri”.

Seluruh Dunia sebagai Teman Belajar

Paus mengajak para peserta untuk melihat keberagaman yang hadir di lingkungan akademik mereka.

“Lihatlah sekeliling kalian: seluruh dunia hadir di ruang-ruang kuliah kalian. Di samping kalian ada orang-orang dari Afrika, Asia, Amerika, Eropa, dan Oseania. Jangan puas hanya duduk berdampingan. Temuilah satu sama lain, berbicaralah, saling mendengarkan, berbagi pengalaman tentang Gereja, berdoa bersama, meluangkan waktu untuk bersantai bersama, dan jalinlah persahabatan yang akan menyertai kalian sepanjang hidup,” ujarnya.

Banyak imam, seminaris, biarawan-biarawati, dan umat awam dari berbagai benua datang ke Roma untuk belajar dan melakukan penelitian di sejumlah universitas, kolese, dan institut kepausan yang berada di ibu kota Italia tersebut. Secara keseluruhan, sekitar 11.750 mahasiswa terdaftar di lembaga-lembaga itu.

Paus mengajak mereka yang mengikuti Misa pada Kamis malam untuk memanfaatkan sebaik-baiknya masa studi mereka di Kota Abadi.

“Di sinilah Petrus mengakui imannya hingga kemartiran. Di sinilah Paulus, yang menerjemahkan pengalaman Kristiani bagi begitu banyak bangsa, bahasa, dan budaya secara universal, menyelesaikan perlombaannya dengan tetap berpegang teguh pada iman,” tutup Paus.

***Vatican News

Leave a Reply

Your email address will not be published.