Renungan Harian Senin, 19 Oktober 2026

PF St. Paulus dari Salib, Imam

Ef. 2:1-10; Mzm. 100:2.3.4.5; Luk. 12: 13-21; BcO Sir 27:22-28:7

Lumbung Pancapaian yang Sia-sia

Saudara-saudari yang terkasih, gaya hidup manusia modern saat ini sangatlah dipengaruhi dengan tingkat pengakuan sosial dan kestabilan finansial, akibatnya manusia tanpa sadar terjebak dalam lingkaran setan kerja keras yang tiada hentinya. Kesuksesan diukur dari seberapa banyak kekayaan yang berhasil ditimbun dan seberapa megah “lumbung” pencapaian yang dibangun untuk diri sendiri.

Di satu sisi pencapaian ini membangun dinding kenyamanan yang mengurangi kekhawatiran akan ketidakpastian di masa depan. Namun, dibalik kenyamanan itu, seringkali muncul suatu kehampaan batin yang mendalam. Perasaan lelah, kehilangan banyak waktu bersama keluarga, dan tanpa sadar membuatnya terkurung dalam dinding kenyaman yang menjauhkannya dari rasa cemas. Sampai ia lupa bahwa sewaktu-waktu hidupnya bisa saja berakhir dan membuat semua “lumbung pencapaian” yang telah ia timbun terasa sia-sia dan tak berarti.

Perumpamaan Injil hari ini menceritakan seorang kaya yang terlalu sibuk membangun lumbung untuk menampung hartanya. Namun, Allah berkata kepadanya, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu.” Yesus ingin meruntuhkan ilusi kenyamanan duniawi yang sifatnya sementara, sembari menunjukkan seberapa kaya kita dimata dunia saat ini, namun sangat miskin di hadapan Allah.

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus mengingatkan bahwa manusia tanpa Allah sejatinya adalah mati dalam kedosaan dan hidup menurut hawa nafsu dunia. Keselamatan dan hidup yang sejati itu bukanlah hasil jerih payah atau hasil tumpukan harta duniawi yang dapat binasa, melainkan karunia Cuma-Cuma dari Allah agar semua orang hidup dalam kerendahan hati kepada Allah lewat diri sesamanya manusia.

Saudara-saudari, St. Paulus dari Salib yang diperingati hari ini memberikan contoh nyata bagi kita, dengan penuh kerelaan mereka melepaskan kenyamanan, martabat, bahkan nyawa mereka demi mewartakan kasih Allah dan memeluk saalib Kristus. Hal ini membuktikan bahwa kekayaan sejati bukanlah apa yang selama ini kita kumpulkan untuk kesenangan kita sendiri, melainkan seberapa besar kasih yang kita curahkan bagi sesama. Inilah saatnya kita untuk bermenung kembali dan memperbaiki diri menunjukkan seberapa kaya kita dihadapan Allah, bukan dihadapan dunia. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Fr. Natalius Alan Dwi Putra Sihombing
Tingkat 2

Leave a Reply

Your email address will not be published.