PW. St. Ignatius dari Antiokhia, Uskup dan Martir (M)
Efesus 1: 15-23; Mzm. 8:2-3a.4-5.6-7; Lukas 12: 8-12; BcO Sir 24:1-22
Berani Menjadi Saksi Kristus

Saudara-saudari yang terkasih, dalam Injil hari ini Yesus mengajak kita untuk berani mengakui-Nya di hadapan manusia. Mengakui Kristus bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui kehidupan yang mencerminkan iman kita. Di tengah dunia yang sering membuat kita takut berbeda, kita dipanggil untuk tetap berpegang pada kebenaran dan nilai-nilai Injil. Kesaksian iman dapat kita tunjukkan melalui kejujuran, kasih, pengampunan, kepedulian, dan kesediaan menolong sesama. Sebab iman yang hanya kita simpan dalam hati, belum sungguh menjadi kesaksian. Tuhan menghendaki agar iman yang kita terima bertumbuh dan menghasilkan buah dalam kehidupan sehari-hari.
Hari ini kita memperingati Santo Ignatius dari Antiokhia, Uskup dan Martir. Ia adalah seorang gembala yang sungguh mencintai Kristus dan umat-Nya. Kesetiaannya kepada Kristus membuatnya berani menghadapi penderitaan tanpa meninggalkan iman. Teladan Santo Ignatius mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut Kristus membutuhkan keteguhan hati. Kita mungkin tidak mengalami penderitaan seperti yang dialaminya, tetapi setiap hari kita juga menghadapi berbagai tantangan: masalah dalam keluarga, pekerjaan, hubungan dengan sesama, godaan untuk berbuat tidak jujur, atau bahkan rasa kecewa dan putus asa. Dalam keadaan seperti itu, kita dipanggil untuk tetap memilih Kristus dan tidak membiarkan kesulitan membuat iman kita menjadi lemah.
Saudara-saudari, marilah sejenak kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kehidupan saya sudah menunjukkan bahwa saya sungguh percaya kepada Kristus? Jangan sampai iman kita hanya tampak ketika berada di gereja, tetapi hilang ketika kita kembali ke tengah keluarga dan masyarakat. Santo Ignatius mengajarkan kepada kita, bahwa kesetiaan kepada Kristus harus diwujudkan dalam keberanian dan ketekunan. Kita tidak harus melakukan sesuatu yang besar, tetapi dengan kesetiaan dalam doa, kesabaran dalam keluarga, mengampuni orang yang bersalah, membantu mereka yang membutuhkan, dan tetap berbuat baik ketika tidak dihargai pun merupakan bentuk kesaksian iman. Semoga melalui sabda Tuhan dan teladan Santo Ignatius, iman kita semakin kuat dan hidup kita sungguh menjadi tanda kehadiran Kristus bagi orang-orang di sekitar kita. Iman yang sejati bukan hanya diakui dengan mulut, tetapi dibuktikan melalui kehidupan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Norbertus Prestus Bido
Tingkat 2
