MUSI RAWAS — Keuskupan Agung Palembang (KAPal) merayakan Hari Pangan Sedunia (HPS) tahun ini dengan konsep yang berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya peringatan HPS dipusatkan di tingkat keuskupan, kali ini kegiatan diselenggarakan di masing-masing dekanat. Langkah ini diambil agar perayaan HPS dapat menyentuh masyarakat luas secara langsung dan mempererat relasi sosial di luar lingkup internal umat.

Dekanat Lubuk Linggau menggelar rangkaian acara HPS selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (16–18 Oktober 2026), bertempat di Paroki St. Maria Bunda Allah Tugumulyo, Musi Rawas. Kegiatan yang mengusung tema “Sinodalitas: Dekanat Linggau Mengayomi dan Bertransformasi Mendengarkan Suara Bumi dan Penghuninya” ini dibuka dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Paroki Penyelenggaraan Ilahi sekaligus Dekan Dekanat Lubuk Linggau, Romo Makarius Samandi, Jumat (16/10/2026) sore.
Hadir mendampingi sebagai konselebran adalah Ketua Komis Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) KAPal, Romo Laurentius Rakidi, Pastor Paroki St. Maria Lahat, Romo Paulus Tugiyo, dan Pastor Rekan Paroki Tugumulyo, Romo Andreas Suko SCJ,
Dalam khotbahnya, Romo Samandi menegaskan pentingnya aksi nyata di tengah masyarakat. Ia menggarisbawahi agar kegiatan ini juga memberi dampak yang luas bukan hanya di lingkungan gereja, tetapi juga di tengah masyarakat.
“Harapannya, acara ini tidak hanya sampai pada tingkat paroki, tetapi setiap paroki mampu memberikan ruang untuk bisa berinteraksi dengan masyarakat, demi mencapai hidup sehat dan kita sama-sama mendengarkan suara bumi,” ujarnya.
Pertobatan Ekologis dan Gerakan Pangan Sehat
Mengawali sesi materi, Ketua Komisi PSE KAPal, Romo Laurentius Rakidi, menjelaskan bahwa HPS merupakan wujud panggilan iman yang tidak sekadar dirayakan dalam ibadat, tetapi dirayakan dalam tindakan konkret.
“Iman kita tidak hanya dirayakan, tetapi juga diwujudkan. PSE dan kita semua sama-sama membuka hati untuk mendengarkan bumi dan penghuninya dengan cara pertobatan ekologis. Kita adalah bagian dari bumi dan bumi adalah kita,” tegasnya.

Kegiatan ini mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah desa setempat. Kepala Desa Mataram, Hendi Mochtar, menyambut hangat pelaksanaan HPS di wilayahnya.
“Kegiatan ini sangat cocok dilakukan di Desa Mataram, karena 90% masyarakat Mataram adalah petani sawah,” kata Hendi.
Selain aspek kerohanian dan lingkungan, panitia menghadirkan sesi edukasi kesehatan bersama Direktur RS Siloam Lubuk Linggau, dr. Susanti Abdiwidjaja, yang membawakan materi mengenai pangan sehat dan gizi seimbang.
“Mari kita hidup seimbang dan tidak mudah terhasut oleh makanan siap saji. Kandungan gizi dan zat pengawet pada makanan siap saji akan memberikan daya kerja ginjal yang semakin keras,” imbau Susanti.

Tak ketinggalan, edukasi mengenai kedaulatan pangan organik juga diberikan oleh Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Musi Rawas.
Sebagai tindak lanjut, setiap paroki merumuskan program kerja nyata agar semangat HPS terus berlanjut. Dalam diskusi antar-imam, Romo Rakidi menganjurkan agar aksi HPS dipantau secara berkala.
“HPS bisa menjadi salah satu agenda pertemuan dekanat, sehingga ada laporan, diskusi, dan informasi yang saling memperkaya, sehingga dapat berjalan dan sesuai dengan harapan kita bersama.” anjur Romo Rakidi.

Puncak Syukur: Hasil Bumi dan Panggilan Merawat Alam
Puncak perayaan HPS berlangsung meriah pada perayaan Ekaristi Penutup yang dipimpin Romo Laurentius Rakidi dan dihadiri umat dari Wilayah 1 hingga 6 Paroki Tugumulyo, Minggu (18/10/2026) pagi. Suasana penuh sukacita tampak saat warga mengarak dan mempersembahkan hasil bumi dalam bentuk gunungan.
Dalam pesan penutupnya, Romo Rakidi kembali mengajak umat untuk konsisten menjaga lingkungan dan saling mengulurkan tangan, berjalan bersama merawat bumi. Menurutnya, merawat bumi adalah bagian integral dari panggilan kita sebagai umat beriman. Panggilan itulah yang kemudian menjadi bentuk partisipasi kita dalam melanjutkan misi Kristus di dunia.
“Mari saling memberikan diri dan saling membantu. Agar dengan acara ini, kita menjadi pionir-pionir yang berada di garda depan dalam menyuarakan semangat mendengarkan suara bumi dan penghuninya,” pungkasnya.

Rangkaian acara diakhiri dengan ramah tamah dan pesta rakyat di lapangan belakang gereja yang dimeriahkan dengan beragam penampilan sebagai ungkapan syukur atas kelimpahan hasil bumi dan berkat Tuhan.
***Fr. Deodantus Ola Atarodang SCJ (Kontributor Musi Rawas)
