Renungan Harian Minggu, 25 Oktober 2026

Hari Minggu Biasa XXX

Kel. 22:21-27; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab; 1Tes. 1:5c-10; Mat. 22:34-40; BcO Keb 1:1-15

Kasih yang Mengalir

Saudara-saudari Sahabat yang terkasih, ketika mendengar perintah Yesus, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu” dan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” kita mungkin langsung berpikir tentang doa, misa, atau pelayanan di Gereja. Semua itu memang penting. Namun, Yesus mengingatkan bahwa kasih kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama. Kasih itu justru terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari: di dalam keluarga, di tempat kerja, di lingkungan, di sekolah, di paroki, bahkan dalam perjumpaan sederhana dengan orang yang mungkin berbeda dengan kita.

Bacaan pertama mengingatkan agar kita tidak menindas dan menyakiti orang yang lemah. Artinya, iman kita juga dipanggil untuk membuat orang lain merasa dihargai, diperhatikan, dan diterima. Kadang kita tidak perlu melakukan sesuatu yang besar. Menyapa tetangga, mendengarkan orang yang sedang memiliki masalah, membantu orang yang kesulitan, tidak ikut menyebarkan gosip, atau memberikan waktu bagi orang yang membutuhkan kehadiran kita, semuanya dapat menjadi bentuk kasih kepada Tuhan melalui sesama.

Saudara-saudari terkasih, saya sendiri, mengalami bahwa belajar mengasihi tidak selalu mudah ketika hidup bersama dalam komunitas seminari. Kami datang dari daerah dan latar belakang yang berbeda, dengan karakter dan kebiasaan yang juga berbeda. Ada kalanya saya merasa kesal karena teman tidak melakukan tugasnya, ada saatnya terjadi perbedaan pendapat, atau kita merasa lelah lalu lebih memilih memikirkan diri sendiri. Tetapi justru dalam situasi seperti itu saya belajar bahwa kasih bukan hanya soal perasaan. Kasih berarti tetap menghargai orang lain ketika kita sedang tidak setuju, mau membantu ketika sebenarnya kita sedang lelah, berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan mau mengampuni ketika disakiti. Pengalaman kecil di seminari itu sebenarnya juga terjadi dalam kehidupan kita semua.

Di dalam keluarga mungkin ada perbedaan pendapat antara suami dan istri, orang tua dan anak. Di lingkungan mungkin ada tetangga yang tidak selalu cocok dengan kita. Di tempat kerja kita bisa berhadapan dengan rekan yang berbeda cara berpikir. Di tengah umat pun kita dapat menemukan perbedaan pilihan, kebiasaan, dan cara pandang. Di situlah perintah Yesus untuk mengasihi sungguh-sungguh diuji.

Saudara-saudari terkasih, sejenak kita bertanya dirii: apakah orang-orang yang hidup bersama saya dapat merasakan kasih Tuhan melalui diri saya? Mengasihi Tuhan berarti belajar menghadirkan kasih-Nya dalam hal-hal sederhana setiap hari. Mari kita saling mengasihi mulai dari orang yang Tuhan tempatkan paling dekat dengan kita. Sebab ketika kasih kepada Tuhan sungguh hidup dalam hati, kasih itu akan mengalir dan dirasakan oleh sesama. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Fr. Paulus Dannis Cahya Putra

Tingkat 5

Leave a Reply

Your email address will not be published.