PF St. Yohanes Paulus II
Ef. 3:14-21; Mzm. 33:1-2.4-5.11-12.18-19; Luk. 12:49-53; BcO Sir 38:24-39:11
Menyala dalam Kasih

Saudara-saudari Sahabat yang terkasih, mari kita bayangkan Paulus dalam bacaan pertama, ia bertekuk lutut di hadapan Bapa dan berdoa agar umat beriman dikuatkan dalam batin serta berakar dan berdasar dalam kasih Kristus. Allah yang adalah kasih “Deus Caritas Est” menyalurkan kasihnya kepada kita manusia sebagai ciptaannya. Bila mana Kodrat Allah adalah Kasih, maka sebagai manusia sudah semestinya juga mengasihi sesama kita dengan menjadi lilin di tengah kegelapan zaman ini, melalui tindakan kita dalam setiap perjumpaan terhadap sesama.
Sekarang coba kita memposisikan sebagai seorang anak muda pada hari ini. Suatu malam dikamar yang sunyi seorang anak muda Tengah mengengam hp nya di tangan, ia melihat kehidupan orang lain di media sosial. Ada yang sukses, bahagia, punya banyak teman. Lalu seketika muncul sebuah pertanyaan, “Mengapa hidupku tidak seperti mereka? Aku sebenarnya mau jadi apa? Bagaimana masa depanku?” Itulah gambaran gundah-gulana hati kita pada zaman ini.
Saudara-saudari, Paulus mengingatkan, “jangan mencari dasar hidup hanya dari apa yang dikatakan dunia. Berakarlah dalam kasih Kristus”. Berakar tidak berarti tidak pernah di terpa badai. Justru karena ada badai, akar semakin dibutuhkan. Demikian juga iman kita. Menjadi orang beriman tidak berarti kita tidak pernah overthinking, tidak pernah takut, tidak pernah bingung dengan masa depan. Iman berarti ketika semua itu datang, kita mempunyai tempat untuk kembali kepada kasih Kristus.
Dalam Injil hari ini Yesus berkata,” Ia datang untuk melemparkan api ke bumi.” Bayangkan api kecil di tengah malam. Ia tidak langsung menghilangkan seluruh kegelapan, tetapi cukup untuk memberi cahaya dan menunjukkan jalan. Begitu pula iman kita. Tuhan tidak selalu langsung menghilangkan kegelisahan kita, tetapi Ia memberikan api dan kekuatan untuk melewatinya.
Saudara-saudari Sahabat yang terkasih, mungkin kita belum tahu masa depan kita dan bahkan kita masih bingung dengan diri sendiri. Percayalah kita tidak berjalan sendirian. Maka ketika gundah-gulana datang, jangan bertanya hanya, “Apa yang akan terjadi dengan hidupku?” Tetapi bertanyalah, “Tuhan, apa yang ingin Engkau nyalakan dalam diriku hari ini?” Sebab hidup kita tidak harus langsung menjadi terang besar. Cukuplah menjaga api kecil iman itu tetap menyala. Berakar dalam kasih Kristus, dan berani menjadi api bagi dunia. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Antonius Vianto Jefri Ansa
Tingkat II
