Jangan Pernah Menyesal Menjadi Imam

“Saya bersyukur bahwa saya bisa menghayati panggilan imamat saya sampai 25 tahun. Dan saya juga semakin meyakini bahwa imamat menjadi panggilan saya, menjadi imam adalah panggilan saya. Saya merasa bahagia, saya bersukacita menjadi imam,” tutur Romo Simon Margono tentang pengalamannya mengawali permenungannya pada Perayaan Ekaristi Syukur atas 25 tahun imamatnya sebagai imam diosesan Keuskupan Agung Palembang.

Perayaan ini dilaksanakan di pelataran rumah Bapak Kornelius Miswanto, orangtua Romo Simon Margono, Kamis (21/7) lalu. Rumah ini berada tak jauh dari tepian jalan Lintas Timur di Desa Muara Burnai I, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Daerah ini sebelumnya dikenal dengan sebutan Jamantras.

“Menjalani imamat selama 25 tahun tentu tidak selalu mulus, terkadang berhadapan dengan pergumulan, pergulatan, godaan, kesulitan, dan beragam tantangan. Selain karena komitmen pada imamat saya, saya juga selalu mengingat pesan dalam kotbah Mgr. Soudant yang menahbiskan saya, ‘kamu jangan pernah menyesal telah memilih menjadi imam’. Hingga saat ini saya sungguh bahagia dan tidak pernah menyesal memilih panggilan menjadi imam,” tandas Romo Simon yang saat ini berkarya sebagai Pastor Kepala Paroki St. Paulus Plaju Palembang ini.

Dalam sharingnya, ia mengatakan bahwa ia sungguh merasakan rahmat panggilan. “Saya sungguh merasakan rahmat panggilan imamat begitu kuat bekerja dalam hidup saya. Itulah juga yang memampukan saya untuk melalui aneka pergumulan dan tantangan dalam hidup saya sebagai imam,” kata imam yang ditahbisan pada 2 Juli 1997 ini.

“Saya sungguh menyadari bahwa Tuhan sangat mencintai dan mengasihi saya. Saya berusaha untuk juga mewujudkan motto tahbisan saya sebagai imam, yaitu Tuhan Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau,” tutur imam yang pernah menjadi pendamping calon imam diosesan Regio Sumatera di Tahun Orientasi Rohani St. Markus Pematangsiantar, Sumatera Utara, ini.

Perayaan Syukur 25 tahun imamat Romo Simon Margono ini dipimpin oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Palembang, didampingi oleh Romo Eduardus Ngutra MSC (Pastor Paroki Kristus Raja Tugumulyo), Romo Simon Petrus Kaize MSC, Romo Kristiadji Raharjo MSC dan Romo Felix Astana Atmaja SCJ (Vikjen KAPal) dan belasan imam konselebran lainnya. Tampak pula para biarawan-biarawati dari beberapa kongregasi yang turut hadir bersama ratusan umat yang dengan khidmat mengikuti perayaan ini.

Romo Simon Margono merupakan imam pertama yang berasal dari Paroki Kristus Raja Tugumulyo. Selain Romo Simon, sekarang telah ada beberapa imam, biarawan-biarawati dan calon imam yang berasal Paroki Tugumulyo yang saat ini dilayani oleh para imam tarekat MSC ini.

Perayaan syukur imamat Romo Simon ini juga sekaligus menjadi perayaan bersama seluruh umat menyambut kedatangan Romo Kristiadji Raharjo MSC yang akan menjadi Pastor Rekan menemani Romo Eduardus MSC dan juga perayaan syukur imamat Romo Simon Petrus Kaize MSC yang dulu menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral di Tugumulyo. Kini sebagai imam, ia menjalani tugas pastoral di Manado.

Usai Perayaan Ekaristi kegiatan dilanjutkan dengan acara ramah tamah dengan suasana penuh keakraban dan persaudaraan. Ramah-tamah ini diisi dengan sejumlah sambutan dan penampilan kesenian tradisional seperti Tari Tanggai Sumatera Selatan dan Tari Panyembrana dari Bali persembahan pelajar SMA Negeri I Lempuing Jaya, OKI.

“Tidak ada hal yang lebih baik, tidak ada hal yang lebih hebat di antara kita semua. Yang paling hebat dan yang paling baik di antara kita semua adalah jika kita bisa bekerja sama dan menjaga kebersamaan serta menjaga kerukunan antarumat beragama. Kalau kita semua bisa mengembangkan semangat ini, maka di negara kita akan terwujud suasana yang damai, hidup rukun berdampingan,” kata Karni, tokoh agama, dalam sambutannya mewakili masyarakat Muslim di Desa Muara Burnai I.

Hal senada juga disampaikan oleh Firdaus, Kepala Desa Muara Burnai I. Dalam sambutannya, ia juga menyampaikan apresiasi atas kerukunan dan kebersamaan masyarakat yang telah terjalin dengan baik. “Kami mengambil tema bahwa perbedaan itu indah, maka di sini berjalan lancar tidak ada satu pun halangan karena perbedaan itu. Kami berharap dan berdoa agar Romo Simon Margono tetap setia dalam tugasnya sampai akhir dan mengharumkan desa ini,” tuturnya.

Kebersamaan dan kerukunan itu nyata. Masyarakat dengan antusias dan penuh persaudaraan bergotong-royong dalam persiapan hingga pelaksanaan perayaan syukur ini.

“Buka lapak jual kelapa di Mojosongo, tak lupa juga ketupat dan rempah-rempah, selamat pesta perak pada Romo Simon Margono. Semoga bahagia, sehat dan berkat melimpah,” pesan Mgr. Yohanes Harun Yuwono. **

Rm. Titus Jatra Kelana

Leave a Reply

Your email address will not be published.