Orang Muda Kunci Kehidupan Masa Kini dan Masa Depan

“Di luaran, banyak kita baca, kesalahan menggunakan alat-alat digital menjadikan seseorang fatal hidupnya. Terlalu lincah menggunakan jari-jarinya atau tidak bisa mengontrol jari, membuat hidupnya hancur, masa depannya habis. Saya sangat berharap bahwa OMK tidak akan tergelincir oleh kebiasaan buruk yang terjadi di luaran,” kata Uskup Agung Palembang Mgr. Yohanes Harun Yuwono Jumat sore, (29/7) lalu di Gereja Paroki St. Stephanus Martir, Curup, membuka rangkaian acara Temu Akbar Kaum Muda (TAKM) Distrik Tugumulyo, Lubuk Linggau, dan Curup (Tugulucu). Curup yang terletak di Provinsi Bengkulu, merupakan salah satu daerah pelayanan Keuskupan Agung Palembang, bersama dengan Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi.

Vakum dua tahun akibat pandemi Covid-19, akhirnya tahun ini diselenggarakan kembali TAKM. Mengusung tema Mewartakan Kasih di Era Digital, acara yang melibatkan hampir 400 Orang Muda Katolik (OMK) ini dilangsungkan di Kompleks Xaverius Curup.

Orang muda, bagi Uskup Harun, menjadi subyek yang penting dalam Gereja. Tidak hanya Gereja, bahkan untuk masyarakat dan negara. “Kuncinya ada pada kaum muda. Andaikan kaum muda hidupnya baik-baik, dunia masa depan akan tetap baik, tetapi dunia masa kini pun juga akan baik-baik,” katanya dalam Ekaristi pembukaan TAKM distrik Tugulucu yang berlangsung Jumat-Minggu (29-31/7).

Jangan Jadi Korban ‘ATM Seksual’

Maksud Mgr. Harun, kaum muda haruslah menjadi pribadi bermoral di tengah kemajuan zaman. Dia menyoroti fenomena ‘ATM Seksual’.

“Yang saya maksudkan ini. Kenal di sosmed dengan gampang mengirim gambar-gambar vulgar setelah chat yang tidak baik. Ketika yang satu ingin melakukan yang lebih, (sementara) yang satu sadar bahwa hal itu tidak baik dan ingin menolak, gambar vulgar yang dikirimkannya menjadi kartu truf. ‘Kalau tidak mau, saya sebarkan ini.’ Pastilah akan sangat malu, kalau gambar dirinya yang kurang sopan itu disebarkan di medsos dan maka terpaksa menuruti ajaran yang tidak baik itu. Pada mulanya mungkin sekali ini saja. Tapi setelah sekali ingin dua kali, ingin tiga kali. Seseorang karena kebodohannya, telah dijadikan ATM seksual bagi para predator. Pada akhirnya barangkali bisa lapor polisi, tetapi itu berarti setelah dirinya hancur, setelah masa depannya hancur.”

Moral yang dangkal menjadi penyebab kejadian ini. Mirisnya, pelanggaran moral seperti ini dilakukan tidak hanya oleh para predator. “Entah oleh guru, entah oleh pemimpin agama, entah bahkan oleh orangtua sendiri. Semakin banyak terjadi di luaran, semakin kita dipanggil pada kekudusan,” tutur Mgr. Harun.

Makin Dunia Modern, Moral Makin Dibutuhkan

Uskup agung mengutip surat apostolik Paus Fransiskus Gaudete et Exultate dan Christus Vivit.

“Dalam dua surat itu, mengungkapkan bahwa dalam setiap diri manusia ada panggilan kekudusan. Panggilan hidup saleh. Betapa celakanya dunia ini kalau orang tidak lagi menganggap kesalehan sesuatu yang harus dihidupi dan dikejar. Dunia akan hancur kalau tidak ada lagi pribadi-pribadi yang mengejar kesalehan atau menganggap kehidupan moral sebagai kehidupan kuno yang harus ditinggalkan. Makin dunia modern, makin orang harus menghidupi nilai-nilai luhur tradisional mengenai iman, mengenai kesusilaan, mengenai kemanusiaan. Dengan itu dunia akan tetap terjaga sebagai tempat hidup kita bersama yang nyaman dengan masa depan yang baik,” jelas Mgr. Harun dalam homilinya.

Subyek yang harus bermoral baik menurut Mgr. Harun adalah kaum muda.

“Andaikan kaum mudanya tidak baik-baik, pecandu narkoba misalnya, atau tidak baik-baik dalam kehidupan moral, bukan hanya dunia masa depan yang akan hancur, tetapi dunia masa kinipun sudah hancur,” katanya.

Dia melanjutkan, “Maka benar Bapa Suci, dunia ini menjadi gelap kalau orang tidak lagi merasa terpanggil untuk menghidupi kesucian. Dan sekali lagi, kuncinya terletak pada kaum muda. Kaum muda adalah kunci kehidupan masa kini, sekaligus masa depan, bukan hanya masa depan tetapi masa kini dan masa depan.”

OMK: Hiduplah Dalam Kristus

Kekudusan adalah panggilan hidup Kristiani dan hanya didapatkan dalam Kristus.

“Mari kita menghidupi panggilan itu dengan sungguh-sungguh. Allah dalam Christus Vivit mencintaimu dan ingin engkau mencintai Kristus. Kristus tidak pernah meninggalkanmu, maka peganglah Dia. Bapa Suci mengatakan, tetaplah di dalam Dia agar hidupmu baik. Di luar Dia, di luar pokok anggur yang benar itu, kita tidak berbuah apapun,” ajak Mgr. Harun, yang sekaligus menutup homilinya.

Ekaristi konselebrasi yang dipimpin oleh Mgr. Harun juga diikuti oleh beberapa orang imam yang berkarya di Keuskupan Agung Palembang. Mereka adalah RD Thomas Sagino, RD Paulus Tugiyo, RP Bernardus Chandra Wahyudi SCJ, RP Anselmus Amo MSC, RD Adrianus Vian Dharma, RD Laurentius Rakidi, RP Frans de Sales SCJ, dan RD Paulus Kristanto. Ekaristi berlangsung khusyuk. Usai Ekaristi diselenggarakan opening ceremony yang mengundang jajaran pemerintahan Kabupaten Rejang Lebong.

** Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.