“Mungkin melihat seseorang yang Anda cintai menderita dapat mengajari Anda lebih dari sekadar menderita,” kata Dodie Smith.
Qianqian adalah seorang anak perempuan berumur tiga tahun asal Ruzhou, Provinsi Henan, Tiongkok. Pada saat anak-anak sebayanya sedang asyik bermain, balita ini mesti merawat ibunya, Wang Huixian, yang lumpuh. Sang ibu tidak bisa berjalan lagi setelah menjadi korban tabrak lari.
Nenek dan kakek Qianqian telah meninggal dunia, sedangkan ayahnya yang sudah bercerai dari ibunya pergi entah ke mana. Ia pun mengurus ibunya sendirian.
Layaknya orang dewasa yang mengurus orang sakit, Qianqian pun mengambilkan makanan dan menyuapi sang ibu. Ia memberinya minum, bahkan membuang kotoran. Kondisi seperti ini membuat sang ibu menangis. Dia tidak tega membiarkan putrinya melakukan hal-hal tersebut untuknya, tapi dia tidak punya pilihan lain.
Untungnya, ada seseorang yang merekam kisah Qianqian dan membagikannya ke media sosial. Video tersebut kemudian viral dan banyak warganet tergerak hati untuk membantu bocah malang itu. Hasil donasi yang terkumpul digunakan untuk biaya operasi Wang, agar cepat sembuh, sehingga Qianqian bisa menjalani kehidupan normal layaknya anak seusianya.

Butuh Kesetiaan
Pengorbanan seseorang bagi orang yang dicintai merupakan suatu keutamaan yang bernilai tinggi. Apalagi pengorbanan itu dilakukan di saat-saat yang luar biasa. Orang yang berani berkorban itu orang yang memiliki jiwa besar. Orang yang cintanya tiada batas dan tidak dibatasi oleh sekat-sekat.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk berani mengorbankan hidup kita bagi orang-orang yang kita cintai. Qianqian yang masih berusia tiga tahun memiliki kepekaan yang tinggi untuk membantu sang ibu yang lumpuh. Dia memberinya makan dan minum, sementara dirinya sendiri masih harus dibantu. Dia menumbuhkan kepekaannya dari pengalaman cinta sang ibu.
Kita hidup dalam dunia yang lebih didominasi oleh egoisme. Orang begitu peduli terhadap diri sendiri. Akibatnya, demi kepentingan diri suami tega meninggalkan istri atau sebaliknya. Keutamaan perkawinan dan hidup berkeluarga mereka campakkan begitu saja. Padahal ketika menikah, mereka berjanji saling setia.
Karena itu, yang dibutuhkan dari kita adalah membangun kesetiaan dalam hidup yang nyata. Kesetiaan itu membutuhkan korban. Ada yang mesti berani mengalah demi hidup yang harmonis. Mari kita terus-menerus memperjuangkan kesetiaan dalam hidup ini. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
