Doa Salam Maria dapat dibagi dalam dua bagian, pertama, pujian kepada Bunda Maria, yaitu: Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah Buah Tubuhmu, Yesus. Kedua, permohonan agar Bunda Maria mendoakan kita, yaitu: Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati, Amin.

Sekarang, yuk kita bagi Doa Salam Maria ini menjadi 4 bagian, untuk melihat apakah doa Salam Maria ini alkitabiah atau tidak.
Pertama: Salam Maria, penuh Rahmat, Tuhan sertamu. Dalam Injil Lukas, dikisahkan Malaikat Gabriel datang kepada Bunda Maria lalu berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”
“Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: ‘Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.’” (Lukas 1:28).

Malaikat Gabriel menyapa Bunda Maria dengan kata salam. Dulu, sapaan ‘salam’ biasanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan. Melalui sapaan ini, Malaikat Gabriel mau memperkenalkan kepada dunia bahwa Maria adalah seorang bunda bagi Raja Surga yang akan lahir.
Lalu “yang di karuniai” atau dalam doa dikatakan ‘penuh rahmat’. Ingin menegaskan kehadiran Allah secara khusus dalam rahimnya. Kehadiran Allah ini membawa rahmat dan karunia bagi Bunda Maria tentunya, dan juga bagi dunia.
Maka dengan mendoakan “Salam Maria, penuh Rahmat, Tuhan sertamu” orang Kristen mengenangkan kembali karya keselamatan yang dimulai Allah dalam diri Bunda Maria.

Kedua: Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah Buah Tubuhmu, Yesus.
Lagi dalam Injil Lukas saat Bunda Maria mengunjungi Elisabeth, Elisabeth yang dipenuhi oleh Roh Kudus berseru dengan suara nyaring. “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.” (Lukas 1:42).
Dan Elisabeth mengatakan ini bukan dari dirinya sendiri, tapi Roh Kuduslah yang menuntunnya mengatakan ini.

Ketiga: Santa Maria, Bunda Allah.
Well, lanjut dari perkataan Santa Elisabeth tadi, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Lukas 1:43)
Perkataan Santa Elisabeth menunjukkan kepada kita siapa yang dikandung Bunda Maria, yaitu Yesus yang adalah Allah Putera, pribadi kedua Allah Tritunggal Mahakudus. Maka ketika kita berdoa Santa Maria, Bunda Allah, kita tidak hanya memuji Bunda Maria, tapi mengakui iman terindah kita, yaitu Yesus yang adalah Allah.

Keempat: Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati, amin.
Kita semua orang berdosa. Sebagai tubuh mistik Kristus, Santo Yakobus menganjurkan agar kita saling mendoakan agar sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (bdk. Yakobus 5:16).
Well, Gereja mengenal siapa yang sungguh layak mendoakan kita. Seorang yang penuh rahmat, disertai Tuhan, dan Bunda Tuhan. Maka Gereja memohon Bunda Maria mendoakan kita kepada Yesus puteranya.
Yesus telah memberikan semua kepada kita saat Dia disalib, yaitu hidup-Nya. Maka Dia juga memberikan ‘yang terbaik’ yang ia miliki. Siapa ‘yang terbaik’ itu? Dia adalah ibunya, teladan kesetiaan, penuh kehangatan dan cinta.

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Yesus mengatakan kepada Bunda Maria, “Ibu, inilah, anakmu!” (bdk. Yohanes 19:26) dan mengatakan kepada Santo Yohanes, yang mewakili Gereja, kita semua, “Inilah ibumu!” Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya (bdk. Yohanes 19:27). Yohanes adalah murid Yesus, maka kita yang mengaku murid Yesus juga semestinya menerima Bunda Maria dalam hati kita.
Ingat. Hanya ada satu perantara antara kita dan Allah Bapa. Dia adalah Yesus! Tapi untuk sampai kepada Yesus, kita bisa meminta doa dari mereka yang lebih dahulu dekat dengan-Nya. Jika Yesus mengabulkan permohonan bundanya saat pesta pernikahan di Kana, maka dia juga akan mengabulkan permohonan ibu yang mendoakan kita. **
Kristiana Rinawati
