Perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) merupakan agenda tahunan Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Palembang (PSE KAPal). Bersama Gereja dan seluruh umat manusia, tahun ini, kita merayakan HPS ke-41, Minggu (16/10). Adapun tema umum yang diangkat dalam HPS tahun ini adalah Membangun Ketahanan Pangan dan Gizi. Sedangkan subtemanya, Mencintai Pangan Lokal yang Aman dan Sehat.

Bertempat di Aula Gereja Katolik St. Yoseph Palembang, sebanyak lebih dari 100 umat Katolik dari berbagai kelompok, mengikuti dua seminar yang bertemakan lingkungan hidup. Seminar pertama, mengajak kita membuat dan memanfaatkan ProMic, yang sangat berguna untuk kehidupan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan.

Mengenal ProMic
Probiotik sendiri merupakan istilah yang digunakan mikroorganisme hidup, yang berefek baik. Ivonne Setiawati, narasumber seminar menjelaskan bahwa tidak semua bakteri itu jahat. Ada juga bakteri baik yang sangat diperlukan untuk tubuh kita.

“ProMic merupakan sari buah fermentasi, yang menghasilkan konsorsium microba (probiotik) baik yang melengkapi microbioma tubuh kita. ProMic adalah pengembangan fermentasi dari umbi, buah, bunga, daun-daun yang digunakan dan dikembangkan selama 20 tahun secara alamiah. Tidak menggunakan gula atau tambahan kimia atau kultur, vegan, dan halal,” jelas Ivonne, yang mendapat penghargaan dari Gubernur Provinsi Sumatera Selatan tahun 2021, atas upayanya mengolah sampah dengan metode Biowash ProMic.

ProMic adalah cairan unik, yang dapat dikonsumsi manusia, maupun menjadi obat, serta pupuk. “ProMic dapat diminum langsung atau dijadikan sebagai starter untuk membuat aneka makanan dan minuman fermentasi,” jelas Ivonne. Misalnya membuat yogurt dan roti.
ProMic juga dapat digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti stroke, penyakit kulit, gagal ginjal, dan asam lambung. Selain itu, ProMic juga dapat digunakan untuk menyelaraskan mikroba lingkungan hidup. Misalnya saja tanah tandus yang diberi ProMic, akan menjadi gembur.

Bahaya Dunia Tanpa Mikroba
“Microba yang seharusnya melindungi kita, membentuk imunitas tubuh kita, perlahan dimatikan dengan penggunaan bedak, sabun, obat-obatan, antibiotik, desinfektan, dan kimia lainnya. Sehingga membuat tubuh manusia semakin rentan,” jelas Ivonne.
Hilangnya mikroba dari dunia ini, boleh dikatakan sebagai musibah. Pasalnya, virus akan merajalela. Virus, hanya dapat disembuhkan dengan imunitas atau kekebalan tubuh. “Mikroba mengendalikan imun sistem, otak, pola makan/selera makan, kecerdasan, mood. Penelitian lebih lanjut menyebutkan ada hubungan antara microba dengan penyakit syaraf seperti autism, parkinson,” papar Ivonne.
Ivonne juga mengajarkan bagaimana cara membuat ProMic dan menggunakannya.


Seminar kedua dipaparkan Yulia, yang ahli membuat pupuk kompos. Dia mengajak peserta yang hadir siang itu, untuk melakukan pertobatan ekologis. “Ada tiga dosa ekologis manusia. Pertama, manusia cenderung malas, membuang sampah sembarangan, konsumtif, menjadi penikmat saja. Kedua, manusia serakah dengan menebang hutan, mengakibatkan polusi udara, tidak mengola lahan tidur. Ketiga, membunuh dengan menggunakan pupuk dan pestisida sintesis, menggunakan deterjen berlebihan, menggunakan 7P pada makanan, penggunaan kemasan makanan dan minuman,” kata Yulia, mengawali materinya.

Ketiga dosa ini menurut Yulia, membahayakan lingkungan hidup. Oleh karena itu, pertobatan ekologis sangat dibutuhkan. Ia menawarkan beberapa cara, yaitu dengan mengolah sampah organik dan an-organik. Sampah organik, kata Yulia, dapat dijadikan eco-enzyme, sedangkan sampah an-organik dapat diolah untuk membuat ecobrick, semacam bata yang ramah lingkungan.

“Pertobatan ekologis dapat memulihkan bumi kita. Ini tanaman buah anggur saya. Bukan ambil di google,” kata Yulia, yang disambung tawa peserta.

Selain menyejukkan dan memulihkan bumi, serta menyehatkan tubuh, pertobatan ekologis juga dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Hari Pangan Sedunia digagas oleh salah satu badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), yaitu Food and Agriculture Organization, di Roma, Italia. Sejak tahun 1981, setiap 16 Oktober, dunia memperingati sebagai HPS. Setahun setelahnya, 1982 Gereja Katolik Indonesia ikut ambil bagian dalam HPS sebagai aktualisasi iman Kristiani dalam menghargai pangan yang sehat, memuliakan lingkungan hidup yang lestari, dan menghormati petani sebagai penyedia bahan pangan.

Adapun gerakan konkret HPS adalah bersolidaritas dengan menghimpun dana untuk mengatasi situasi rawan pangan, yang terjadi di berbagai tempat di tanah air. Di KAPal, ada tiga acara yang diselenggarakan tahun ini, yaitu Perayaan Ekaristi, lomba sajian pangan lokal non beras, dan seminar.

Romo Bonifasius Djuana, Ketua Komisi PSE KAPal, berharap dengan event ini, kita bisa mengola pangan dan bumi ini dengan lebih baik lagi, sehingga hidup manusia lebih sejahtera. **
Kristiana Rinawati
