Kunjungan Persaudaraan Seminari Menengah Santo Paulus Palembang ke Pondok Pesantren Ar Rahman Plaju

Perkembangan zaman yang semakin cepat dengan segala kecanggihan, keunggulan, sekaligus kekurangan, menyajikan suatu kompleksitas yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia. Hampir semua segi kehidupan seperti sosial, ekonomi, politik, budaya, dan agama terpengaruh dengan perkembangan yang ada saat ini. Tantangan-tantangan dalam menciptakan tatanan atau harmoni dalam hidup manusia pun semakin kompleks di bumi ini, yang adalah rumah kita bersama. Tantangan itu muncul karena adanya konflik, peperangan, ketidakadilan, penindasan, dan diskriminasi antarsuku, agama, ras, dan antargolongan. Dalam situasi seperti itulah, Gereja Katolik ditantang menjadi pewarta kabar sukacita Injil kepada semua orang.

Paus Fransiskus menangkap situasi dunia dan mendorong umat Katolik terlibat dalam menciptakan dunia yang dipenuhi dengan kasih. Seruan Apostolik Evangelii Gaudium merupakan seruan apostolik pertama yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada awal masa jabatannya. Melalui EG, Paus mengundang bahkan mendesak agar seluruh anggota Gereja terlibat dalam mewartakan sukacita Injil kepada semua orang. Pewartaan itu juga mencakup usaha untuk membangun dan mengembangkan dialog antar agama.

Kalimat pembuka pada bagian dialog antaragama dalam art. 250 menjadi inti ajakan dari Evangelii Gaudium untuk terus mengusahakan dialog antaragama. Paus menjelaskan bahwa “Sikap keterbukaan terhadap kebenaran dan terhadap kasih harus menjadi ciri dialog dengan para pengikut agama non-Kristiani, meskipun ada berbagai kendala dan kesulitan, terutama bentu-bentuk fundamentalisme pada kedua belah pihak, dialog antaragama merupakan syarat yang perlu untuk perdamaian dunia, dan dengan demikian menjadi tugas bagi umat kristiani serta komunitas-komunitas religius lainnya” (EG. art. 250).

Apa yang dikehendaki oleh Evangelii Gaudium dalam dialog antaragama tersebut mengandung unsur keterbukaan dan kerelaan untuk menerima orang lain dan cara hidup, berpikir, dan berbicara. Keterbukaan itu harus mengandung sikap yang tetap teguh pada keyakinan sendiri dengan identitas yang mendalam, sementara pada saat yang sama “terbuka untuk memahami tradisi-tradisi dan pendirian-pendirian keagamaan dari pihak lain dan mengetahui bahwa dialog dapat memperkaya pihak masing-masing” (EG, art. 251).

Seminari Menengah Santo Paulus Palembang berusaha terlibat aktif dalam menanggapi seruan Bapa Suci untuk membangun dialog dengan agama lain. Usaha keterlibatan seminari terungkap dalam kunjungannya ke Pondok Pesantren Ar Rahman Plaju, Palembang pada Sabtu (15/10/2022) yang lalu. Kunjungan ini bertajuk “kunjungan persaudaraan”. Kunjungan ini sebagai tindak lanjut dari Seminari Moderasi Beragama yang diselenggarakan oleh Seminari pada akhir bulan Agustus yang lalu. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian acara puncak 75 tahun Seminari Menengah Santo Paulus Palembang. Para pembicara dalam seminar tersebut mengundang dan mendorong Seminari untuk mewujudnyatakan seminar moderasi beragama di luar ruangan atau dengan kata lain harus ada upaya tindak lanjut atas seminar moderasi beragama.

Selain menindaklanjuti seminar moderasi beragama, seminaris sebagai generasi muda Gereja dan bangsa Indonesia sangat perlu dibekali dengan moderasi beragama, tak hanya teori tetapi juga praktik. Generasi muda saat ini hidup di tengah-tengah arus perkembangan informasi, teknologi, dan komunikasi yang begitu cepat. Selain membawa kemudahan dalam berbagai bidang termasuk bidang agama, perkembangan ini juga memunculkan tantangan yang beragam. Konektivitas tingkat tinggi dan semakin kaburnya batas-batas fisik dan geografis membuat kita saat ini ditarik menuju “keberadaan virtual”. Semua orang yang dapat mengakses dunia virtual (internet) dapat mengekspresikan diri, mengemukakan pendapat atau gagasan tanpa kendali. Apa saja dapat diunggah ke internet khusus media sosial. Dengan kebebasan yang ada, isu-isu dikriminasi SARA yang berbau hoax juga banyak dijumpai di dunia virtual. Oleh karena itu, Seminari Menengah Santo Paulus Palembang melakukan kunjungan persaudaraan ke Pondok Pesantren Ar Rahman.

Dalam kunjungan persaudaraan itu, tidak semua seminaris dapat ikut sehingga hanya 20 seminaris yang mewakili kunjungan itu. Dari pihak pondok pesantren pun, juga diwakili oleh beberapa santriwan dan santriwati. Dinamika yang terjadi selama acara kunjungan dipenuhi dengan suasana persaudaraan. Para seminaris sangat antusias karena baru pertama kali ini berkunjung ke pondok pesantren dan melihat kegiatan mereka. Antuasiasme juga tampak dari para santriwan dan santriwati karena baru pertama kali ini juga mereka bertemu dengan seminaris dan mengetahui seminari itu apa.

Beberapa kegiatan yang dilakukan selama kunjungan itu adalah perkenalan dari Seminari dan juga pihak pondok pesantren, penampilan dari seminaris dan santriwan/santriwati, keliling kompleks pondok pesantren, dan pertandingan persahabatan bola voli antara Seminari melawan tim voli MA Ar Rahman. Yang menarik adalah baik ketika seminari memperkenalkan diri yang diwakili oleh Romo Jatra maupun ketika pondok pesantren memperkenalkan diri yang diwakili oleh Ustad Rizal, seminaris maupun para santri menunjukkan ekspresi keheranan dan kekaguman. Dari acara perkenalan ini, terselip suatu studi banding antara seminari dengan pondok pesantren. Kedua lembaga bisa saling belajar satu sama lain.

Selama berdinamika bersama, baik seminaris maupun para santri menunjukkan suatu kedekatan yang baik. Memang awalnya mereka masih sungkan untuk saling menyapa. Situasi itu berubah ketika ada di antara para santri yang kemudian mengajak para seminaris untuk tidak sungkan atau segan berinteraksi dengan para santri. “Kita adalah saudara,” ungkap seorang santri.

Seiring berjalannya waktu kunjungan, para seminaris dan para santriwan/santriwai dapat berinteraksi dengan baik dan hangat. Dari kunjungan dan perjumpaan dengan para santri, tentu saja diharapkan para seminaris dapat belajar dari para santri, menimba semangat dari mereka untuk dibawa pulang ke seminari dan dibagikan kepada seminaris yang lain. Banyak hal yang dapat dipetik oleh para seminaris, misalnya saja soal kebersihan lingkungan, kebijakan pondok pesantren yang tidak mengizinkan pemakaian hp, dan rutinitas para santri yang dimulai sejak pkl. 04.00. Selain itu, para staf seminari berharap bahwa dalam diri para seminaris tumbuh kecintaan terhadap dialog antar agama yang sangat penting bagi kehidupan dan masa depan mereka sebagai calon imam.

Tak hanya sebagai calon imam tetapi jati diri seminaris yang adalah orang beriman Kristiani juga didorong untuk mewartakan sukacita injil kepada banyak orang. Hal itulah yang digemakan oleh Bapa Fransiskus. Dengan mulai mengenal dialog antar agama sejak di tahap seminari, seminaris diharapkan mulai terbuka terhadap keadaan dunia saat ini dengan kompleksitas yang ada di dalamnya. Dari perjumpaan ini pula, semoga seminaris mulai memiliki disposisi yang baik terhadap agama lain dan tetap mengakuinya sebagai saudara. Hal itu juga akan membantu para seminaris dalam menyikapi berbagai isu SARA khususnya di dunia virtual dengan bijak. Dengan demikian, seminaris semakin menyadari bahwa mereka harus ambil bagian dalam mengusahakan perdamaian dengan salah satu caranya adalah dialog antar agama.  (Fr. Andreas Suko Ari Wasono SCJ)

Leave a Reply

Your email address will not be published.