Pastor Schnabel, Vikaris Patriark untuk Migran dan Pencari Suaka dari Patriarkat Latin Yerusalem, menyoroti bahwa para migran sering terpinggirkan dan didiskriminasi, tetapi mereka benar-benar dekat dengan Tuhan.
Setahun yang lalu, Pastor Nikodemus Schnabel, seorang biarawan Benediktin dari Dormition Abbey di Gunung Sion, diangkat sebagai Vikaris untuk Migran dan Pencari Suaka dari Patriarkat Latin Yerusalem. Dengan demikian ia memimpin sebuah struktur yang dibuat pada tahun 2018 oleh Patriark Latin Yerusalem, Pierbattista Pizzaballa, untuk mengurus para migran dan pencari suaka – lebih dari seratus ribu umat Katolik – dalam semua aspek, mulai dari pelayanan pastoral, pendidikan hingga sakramen.
Ini adalah vikariat keenam, di samping orang-orang Siprus, Israel, Yordania, Palestina dan untuk orang-orang Kristen berbahasa Ibrani. “Ini adalah vikariat besar dengan sekitar 100.000 umat Katolik,” jelas Pastor Schnabel kepada Vatican News, “sebuah angka yang hanya dapat disimpulkan, karena banyak dari pekerja migran, 90 persen di antaranya adalah perempuan, telah masuk secara ilegal, atau telah kedaluwarsa visa, atau telah masuk sebagai turis dan kemudian melakukan pekerjaan ilegal.” Tantangan sebenarnya, bagi Pastor Schnabel, adalah membuat yang tidak terlihat menjadi terlihat.

Klandestinitas dan Eksploitasi
Komunitas Pastor Schnabel mencakup semua bangsa, mulai dari Filipina, Sri Lanka, India, China, dan kemudian Ukraina, Polandia, Rumania, Inggris, dan Afrika yang berbahasa Prancis – komunitas yang berbeda adat istiadat dan ritual yang berbeda.
Adapun pencari suaka, mereka terutama berasal dari Eritrea dan Ethiopia, “mereka yang melarikan diri dari teror dan perang dan hidup dalam limbo, dalam ruang hampa,” ia menjelaskan lebih lanjut, “mereka bukan pengungsi, mereka adalah pencari suaka. Artinya, mereka berharap bisa move on. Bagi mereka saat ini, surga adalah Kanada. Kelompok ini menyusut.”
Kelompok lainnya – para pekerja migran – juga berkembang. Mereka adalah orang-orang yang mencari masa depan yang aman bagi diri mereka sendiri dan anak-anak mereka. “Sangat sering, seorang ibu meninggalkan anak dan suami di rumah, ketika yang terakhir juga di negara lain, anak-anak dibesarkan oleh kakek-nenek. Orangtua kemudian akhirnya melihat anak-anak mereka, selama bertahun-tahun, hanya melalui Skype dan Zoom.”
Para pekerja migran ini bekerja di tiga sektor, kata Pastor Nikodemus lebih lanjut. Perempuan dipekerjakan di rumah tangga atau pertanian, dan laki-laki di konstruksi. “Banyak,” tambah imam Benediktin ini, “mulai tinggal secara legal, ada kesepakatan antara Israel dan Sri Lanka, Israel dan India, Israel dan Filipina, tetapi kondisi kerja genting. Ini berarti jika tidak berhasil dengan majikan, dan dalam banyak kasus, kami mendengar tentang kekerasan dalam rumah tangga, eksploitasi seksual dan banyak jurang lainnya yang tidak ingin diketahui Eropa, kemudian orang-orang ini pergi ke bawah tanah dan terus bekerja, sering tinggal dengan 20 atau 25 orang di sebuah ruangan, bekerja sebagai pembersih, yang merupakan bidang pekerjaan klasik untuk imigran ilegal, atau dengan keluarga yang kemudian mempekerjakan mereka di luar pembukuan.”
Pendampingan dan Perlindungan bagi Ibu dan Anak
Situasi orang-orang ini dibuat lebih genting oleh fakta bahwa mereka tidak dapat menikah. Memiliki suami, istri atau anak-anak secara efektif ditolak. “Hak azasi berkeluarga ditangguhkan, karena yang menikah otomatis menjadi ilegal. Dan perempuan tidak dapat memiliki anak. Melahirkan juga berarti ilegal. Artinya, drama-drama terkait kehamilan yang tidak diinginkan adalah pengalaman sehari-hari saya dalam penggembalaan, seperti halnya pemikiran bunuh diri dari para wanita lajang ini. Dan orang dapat dengan mudah menebak bahwa wanita-wanita ini sering tidak hamil atas keinginan mereka sendiri dalam hubungan cinta. Ada juga nasib yang merupakan akibat dari tragedi,” tutur Pastor Nikodemus.
Ketika orang Kristen, kemudian, mengatakan ya untuk hidup tanpa kompromi, ini memiliki konsekuensi praktis untuk amal. Ibu hamil membutuhkan setiap bantuan, setiap perlindungan. Itulah sebabnya Pastor Schnabel, bersama sejumlah wanita religius, telah mendirikan puluhan tempat penitipan anak bagi wanita migran di Tanah Suci. Beberapa dari ibu-ibu ini bahkan bekerja di sana, dikeluarkan dari pasar tenaga kerja yang brutal, kata Pastor Schnabel, sehingga mereka dapat merawat anak-anak mereka sendiri dan anak-anak perempuan lain dalam situasi yang sama.
Imam migran ini juga mengelola rumah untuk anak-anak – Rumah Malaikat Pelindung. Dia menceritakan bahwa “ayah mereka tidak hadir dan para ibu begitu kewalahan dengan hidupnya sendiri, oleh perjuangan untuk bertahan hidup, sehingga kami mengambil anak-anak dan mereka juga. Kami menjaga mereka, kami ada untuk mereka 24 jam sehari. Ini adalah anak-anak yang juga membutuhkan perawatan psikologis dan sosial. Ini adalah aspek yang sangat penting dari pekerjaan kami. Jadi, agar konsisten: jika saya mendorong kehidupan, saya juga harus menghadapi konsekuensinya.”

Doa Online
Ini adalah hal eksistensial yang tidak pernah bosan dibicarakan oleh Paus Fransiskus. Meskipun demikian, kehidupan iman para migran di Tanah Suci itu kuat.
“Sisi positif inilah yang sangat mengguncang saya,” tutur Schnabel, “mereka bersaudara seiman, karena tidak ada baptisan Jerman, baptisan India, atau baptisan Sri Lanka, hanya ada satu baptisan, dan ini adalah benar-benar saudara-saudaraku. Ini berarti bahwa ketika saya berbicara tentang mereka, selain berbicara tentang persaudaraan di antara semua orang, saya berbicara tentang rekan-rekan baptis saya yang sepenuhnya milik gereja saya sendiri. Dan ketika saya melihat kondisi di mana mereka hidup dan bertahan, dan kemudian lihat dengan intensitas apa mereka menjalani iman mereka, sungguh, ini sangat menyentuh saya.”
Pastor Nikodemus melaporkan lusinan kelompok doa digital pada pukul sebelas malam atau tengah malam – digital bukan karena kenyamanan tetapi karena keinginan murni. “Semuanya juga streaming. Wajar saja kalau kebaktian langsung live di YouTube, Facebook atau Instagram. Digitalisasi itu berkah bagi mereka, karena merespon keinginan mereka untuk mau ke Ekaristi setiap hari, tapi mereka tidak bisa dan, lebih buruk lagi, bahkan pada hari Minggu. Ada keinginan yang luar biasa untuk menghidupi iman, misalnya di antara orang India: mereka memiliki banyak program Alkitab untuk belajar lebih banyak tentang Alkitab. Dan ketika saya berkotbah, saya selalu terkejut bahwa ketika saya mengutip Alkitab, mereka menyahut bagian itu!”
Pastor Schnabel juga berurusan dengan komunitas migran yang sangat khusus: pekerja konstruksi China. “Komunitas ini, meskipun mereka tidak takut dideportasi, karena mereka semua berada di Israel secara legal, sebagai pekerja konstruksi, namun mereka mempraktikkan keyakinan mereka dalam persembunyian. Ini sebenarnya adalah salah satu kelompok di mana saya secara teratur melakukan pembaptisan dewasa.”

Iman dan Ibadah
Intensitas keimanan saudara-saudara pendatang di Tanah Suci sangat menyentuh pastor. “Ketika saya berada di altar,” dia menyimpulkan, “dan saya melihat mereka, budak modern ini, terpinggirkan dan didiskriminasi, ketika saya melihat dengan sukacita dan intensitas apa mereka bergabung dalam ibadah, saya menahan air mata, di setiap perayaan, berpikir bahwa saya memiliki hak istimewa sebagai seorang imam, sebagai seorang biarawan, sebagai seorang doktor teologi, tetapi orang-orang ini lebih dekat dengan Tuhan daripada saya,” tutur Pastor Schnabel. **
Gudrun Sailer dan Francesca Sabatinelli (Vatican News)
