Nama “Itati” cukup dikenal di sebagian besar wilayah Argentina, karena di kota kecil ini terdapat Gua Maria, sebagai tempat peziarah untuk mengenang dan menghormati Bunda Maria. Dalam sejarah Kota Itati, masuk dalam wilayah Provinsi Corrientes, Bunda Maria-lah yang melindungi orang orang atau penduduk dari serangan kelompok lain yang ingin menguasai Itati.
Saya bekerja di Paroki Santa Maria Itati sebagai pastor rekan. Paroki ini terletak di Kota Resistencia, Ibukota Provinsi Chaco. Sejak berdirinya, 4 Juni 1968, Bapa Uskup mempercayakan kepada para imam Dehonian (SCJ).

Tiga Wilayah dengan 10 Kapel Stasi
Jumlah umat paroki yang mencapai lebih dari 50.000 jiwa ini terbagi dalam 3 zona atau wilayah pelayanan. Dalam setiap wilayah terdapat beberapa komunitas atau stasi. Setiap komunitas memiliki kapel sebagai pusat kegiatan pastoral, terutama perayaan sakramen-sakramen. Setiap komunitas mendapatkan pelayanan Ekaristi Minggu satu kali pada Sabtu sore atau Minggu; dan 1 kali dalam sepekan untuk misa harian.

Di paroki ini terdapat 4 imam yang melayani di bawah kepemimpinan Rm Atilio Zorzetti SCJ sebagai kepala paroki. Pria berusia 82 tahun ini berasal dari Italia. Dua pastor rekan berasal dari Argentina, yaitu Rm Leonardus Zampa SCJ (51 tahun) dan Rm Marcelo Reynoso SCJ (40 tahun); serta saya sendiri dari Indonesia.

Secara geografis, Paroki Santa Maria Itati ini berada di pinggiran ibukota Provinsi Chaco. Sepuluh stasi yang termasuk dalam lingkup pelayanan paroki ini berada di tempat-tempat yang tidak jauh dari pusat paroki. Stasi paling jauh berjarak kira-kira 6 km dari pusat paroki.

Di paroki ini terdapat bermacam-macam aktivitas pastoral yang didampingi oleh masing-masing imam bersama totok-tokoh umat. Bentuk bentuk pelayanan pastoral adalah pelayanan sakramental, pelayanan administratif (sekretariat paroki), pendampingan masing-masing komunitas atau stasi, pendampingan kelompok kategorial dan devosional, pendampingan para katekis akar rumput, persiapan penerimaan sakramen-sakramen, pastoral kunjungan keluarga, orangtua (lansia) dan orang sakit, karya sosial karitatif, pastoral panggilan dan orang muda, kerasulan misioner orang muda, pendampingan para pelayan ekaristi (misdinar, prodiakon, petugas musik, koor)
Negara Mayoritas Penduduk Beragama Katolik
Sebagai salah satu negara Amerika Latin, semua warganya berbahasa Spanyol. Dari total jumlah penduduk 47.327.000 jiwa, 63% warga Argentina beragama Katolik Roma. Mereka terbagi dalam 74 keuskupan yang tersebar di 24 provinsi. Fransiskus ini. Selebihnya, penduduk beragama Kristen Protestan 15% dalam berbagai denominasi, Yahudi dan kelompok Muslim hanya sebagian kecil; dan 19% adalah mereka yang menyatakan tidak beragama. (Sumber: Wikipedia).

Kendati mayoritas beragama Katolik, namun prosentasi umat yang rutin menghadiri misa di gereja dan terlibat aktif dalam kegiatan pastoral atau ikut ambil bagian dalam aktivitas kerohanian sangat kecil. Dapat diperkirakan bahwa hanya sekitar 5% saja umat yang masih rutin mengikuti perayaan Ekaristi Mingguan. Kehadiran umat dalam perayaan Ekaristi tersebut terdiri dari anak-anak, orang muda, orangtua maupun sebagian para lansia.

Meski jumlah umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi sangat sedikit kita dapat menemukan adanya aktivitas kerohanian lainya. Aktivitas kerohanian yang rutin berjalan adalah kegiatan rohani pendampingan anak-anak usia di bawah 10 tahun (di Indonesia kita biasa menyebutnya Sekolah Minggu). Kemudian ada Persiapan Komuni Pertama (selama 2 tahun) persiapan Sakramen Krisma (2 tahun). Lalu ada pendampingan katekumen dewasa, kelompok-kelompok kategorial seperti Legio Mariae, Karismatik dan Devosi Sakramen Mahakudus.

Pastoral orang muda dilakukan dalam beberapa bentuk, yaitu pertemuan OMK berkala, kelompok koor, kelompok misioner orang muda. Selain itu terdapat kegiatan rekoleksi kelompok seperti rekoleksi para bapak, rekoleksi para ibu dan rekoleksi orang muda. Hal lain yang bersifat berkala antara lain Kursus Persiapan Perkawinan, Pelayanan Karitatif (Kelompok Caritas) yang memberikan pelayanan khusus bagi mereka yang miskin dan kurang beruntung.
Tantangan dan Peluang
Paroki Santa Maria Itati berusaha memberikan pelayanan pastoral sebaik mungkin, agar kawanan umat beriman ini tumbuh berkembang dalam iman, kasih dan kesetiaannya mengikuti Yesus Kristus. Gereja Katolik Argentina pada umumnya dan Paroki Santa Maria Itati secara khusus, hidup di tengah jaman yang dipengaruhi oleh perkembangan dunia modern. Tantangan dan peluang seperti apakah yang dihadapi Gereja di Argentina? Bagaimana Gereja hadir untuk mengejewantahkan ‘Wajah Allah’ di tengah arus jaman yang tidak serta merta mudah ini?

Gereja di Tengah Situasi Sekularisme dan Individualisme
Dalam pembicaraan bersama Padre Juan Domingo Griffone SCJ (Provinsial SCJ), beliau mengungkapkan bahwa Gereja harus keluar dari “sakristi” dan mau mendengarkan masyarakat dan umat di tengah dunia yang tuli di mana banyak orang hidup dengan “hanya mendengarkan wacananya sendiri”. Artinya, berpusat pada sikap hidup yang individualis.
Gereja dan ajarannya tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang penting dan berguna. Ada mentalitas sekuler yang sangat mengakar di sebagian besar kelompok maupun pribadi. Pandangan-pandangan yang mengedepankan “sekularisme” dinyatakan dengan lugas di beberapa media, yang tidak segan-segan menggunakan disinformasi, fitnah dan pencemaran nama baik untuk menyerang Gereja dan Paus. Bahkan sekelompok orang berusaha meminggirkan orang-orang yang beraliran agamis (baca: orang yang masih setia pada ajaran Gereja Katolik Roma) dan bahkan “mengusir atau membuang” mereka dari ruang publik Argentina. Penyalahgunaan obat-obat terlarang di kalangan orang-orang muda (bahkan sebagian kecil anak-anak) juga merupakan situasi atau masalah besar yang dihadapi Gereja di tengah masyarakat.

Gereja harus terus-menerus membuka kedok ekstremisme tersebut tanpa membiarkan diri kita dikalahkan oleh sekularisme yang begitu mementingkan keduniawian dan membaca tanda-tanda zaman dengan benar. Tantangan Gereja Argentina hari ini adalah perlunya menanggapi usulan Paus Fransiskus, yang diungkapkan dalam Evangelii Gaudium, Laudato Si’ dan Fratelli Tutti. Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium berkata, “Saya memimpikan misionaris yang mampu mengubah segalanya (bdk. EG 27). Gereja melayani untuk tujuan tunggal ini, untuk menginjili.”
Untuk itu, hal pertama yang harus dilakukan oleh Gereja adalah mendengarkan. Setiap misi dimulai dengan mendengarkan mereka, yakni umat atau masyarakat. Bersama dengan seluruh Umat Allah yang menginjili, kita harus melaksanakan pertobatan pastoral: menjadi Gereja yang mendengarkan. Gereja Argentina juga harus menghadapi kenyataan ini dalam konteks pasca-pandemi. Kita harus, seperti yang dikatakan Paus Fransiskus, “menjadi gereja yang ramah”, keluar dari zona nyaman kita dan mencari mereka yang terjauh, di pinggiran masyarakat.

Melalui Sinode yang digaungkan oleh Paus, kita dipanggil untuk saling menginjili; kita semua adalah anak, semua saudara, semua diurapi dan semua diutus. “Tidak perlu membuat Gereja lain (Gereja Baru), tetapi membuatnya berbeda atau berubah (berkembang),” kata Paus Fransiskus yang asal Argentina ini.
Padre Juan mengatakan ada empat tantangan penting lain yang dihadapi Gereja Argentina. Pertama, perlunya memperkenalkan Ajaran-ajaran Sosial Gereja dan melatih generasi baru umat Kristiani, agar mereka mengetahui dan mempraktekkannya di tengah situasi masyarakat yang didominasi oleh semangat sekularisme.

Kedua, kurangnya kepedulian sebagian besar orangtua terhadap pendampingan dan pendidikan iman katolik anak-anak. Banyak keluarga tidak peduli akan hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan iman katolik. Umumnya anak-anak dibaptis pada saat bayi, namun kurang adanya dorongan yang berkelanjutan sesudah pembaptisan. Bahkan banyak keluarga katolik yang acuh tak acuh terhadap kebutuhan rohani dan hidup menggereja.
Ketiga, mendampingi setiap usaha untuk mencintai dan membela kehidupan (pro-life), dari pembuahan hingga kematian yang alami dan mempertahankan serta menjaga ciptaan dalam segala manifestasinya (sesuai semangat Laudato Si’).

Keempat, membangun Gereja sebagai saudara: Konteks langsung dari pandemi telah meninggalkan jejak kemarahan, kesedihan, kekecewaan, dan ketakutan yang mendalam. Seharusnya kita bisa keluar dari pandemi dengan lebih baik, namun tidak demikian. Semua konsekuensi dari akibat pandemi harus membawa kita kepada usaha membangun gereja persaudaraan yang sejati (Fratelli Tutti).
Realita kehidupan iman umat dan aktivitas menggereja di Argentina tetap membutuhkan penginjilan, mewartakan Kabar Gembira Yesus Kristus. Gereja mesti hadir sebagai Gereja yang menyapa, yang bersaudara, bukan menghakimi seperti keadaan yang terjadi saat ini.

Hal positif yang cukup menggembirakan yang dapat ditemukan saat ini adalah kuatnya semangat umat dalam hal devosi kepada Santa Maria dan orang-orang kudus. Aktivitas umat berziarah ke gua-gua Maria cukup banyak dan terlihat antusias, meski mayoritas umat jarang pergi ke gereja pada hari Minggu.
Suasana kekatolikan juga terlihat dengan jelas dengan banyaknya tempat khusus di banyak sudut jalan kota dan desa di mana diletakkan patung Bunda Maria maupun orang kudus. Kebiasaan lain yang terlihat sangat umum terjadi adalah orang akan membuat tanda salib saat melewati sebuah kapel atau gedung gereja (saat jalan kaki atau mengendarai kendaraan apa pun).
Kehadiran SCJ di Tengah Gereja Lokal
Dari awal berdirinya hingga sekarang ini, Paroki Santa Maria dilayani oleh para imam Dehonian (SCJ). Apa yang dihadapi oleh Gereja Argentina secara umum juga menjadi bagian dari tantangan paroki ini dan sekaligus tantangan bagi para SCJ di provinsi ini. SCJ hadir di 8 paroki yang berada di wilayah teritorial tiga negara, yaitu Argentina, Uruguay dan Paraguay.
Ada empat tantangan khusus yang dihadapi oleh Provinsi SCJ Argentina ini. Pertama, penuaan bertahap sebagian besar anggota provinsi. Jumlah anggota SCJ saat ini adalah 27 orang: 9 orang di antaranya sudah berusia antara 75 hingga 88 tahun; 2 orang di atas 60 tahun; dan di ambang usia 40 hingga 60 tahun sebanyak 16 orang.

Kedua, kebutuhan untuk membangun provinsi baru yang ditandai dengan multikulturalisme. Saat ini Provinsi SCJ Argentina terdiri dari tujuh negara asal yang berbeda (Argentina, Italia, Brazil, Uruguay, Paraguay, Indonesia, dan India atau berasal dari tiga benua (Amerika, Eropa dan Asia).
Ketiga, pentingnya bekerja untuk persatuan dalam keragaman provinsi baru ini yang tersebar di tiga negara berbeda (Argentina, Uruguay dan Paraguay). Masing-masing negara di mana SCJ hadir ini memiliki karakteristik sendiri.
Keempat, kurangnya panggilan lokal, yang harus membawa kita untuk menjadi kreatif dan berkomitmen dalam mempromosikan panggilan dan dalam pelayanan atau pendampingan orang-orang muda. Panggilan orang-orang muda untuk menjadi imam, biarawan maupun biarawati di Argentina sekarang ini mengalami banyak kemunduran. Artinya, sudah sangat sulit untuk mendapatkan orang-orang muda yang mau menjadi imam, biarawan maupun biarawati. Hal ini tidak hanya dialami oleh SCJ, melainkan juga semua Kongregasi dan keuskupan mengalami hal yang sama. SCJ Argentina sudah hampir 10 tahun tidak pernah ada lagi tahbisan imam baru.
Demikianlah sekelumit gambaran situasi real di mana SCJ hadir dan diutus untuk melayani Gereja, mewartakan Injil Sukacita Allah. Semoga dengan perantaraan Sang Bunda, Gereja Argentina dapat berkembang subur dalam iman dan tumbuh berkembang panggilan-panggilan orang muda untuk menjadi imam, biarawan-biarawati. Santa Maria, Doakanlah kami! **
Benediktus Mulyono SCJ

Selamat dlm pelayanan di negeri jauh tapi tetap satu saudara ya mo Kristus tetap semangat ,sehat selalu salam doa kami selalu
VCJ-PCM