Inspirasi Homili Minggu, 06 November 2022 – Hari Minggu Biasa XXXII

“Adakah Kebangkitan Sesudah Kematian?”

2Mak 7,1-2.9-14; 2Tes 2,16-3,5; Luk 20,27-38

Kita telah memasuki bulan November dalam siklus tahunan dariKalender Masehi. Itu berarti kita sudah berada dekat di akhir tahun. Selaras dengan siklus tahunan ini, Kalender Liturgi kita juga mengarahkan perhatian kita kepada hal-hal terakhir dari kehidupan ini. Liturgi Gereja membantu kita memikirkan dan merenungkan secaralebih intensif tujuan akhir perjalanan hidup kita. Oleh karena itu di awal bulan November liturgi Gereja mengingatkan panggilan hidup kita kepada kesucian dengan merayakan secara meriah kenangan akansemua orang kudus, yakni mereka yang telah berbahagia di surga. 

Sesudah merayakan kenangan akan mereka yang telah mulia di surga, liturgi Gereja mengarahkan ingatan kita kepada saudara-saudari kitayang telah meninggal dunia, yang masih menantikan saatdiperkenankan masuk dalam sukacita surgawi. Mereka berada di “tempat” pemurnian yang kita sebut sebagai purgatorium atau apipenyucian. Mungkin salah satu dari mereka adalah anggota keluargakita, kerabat dan kenalan kita. Selanjutnya, kita yang masih berziarahdi dunia ini diajak kembali merenungan hidup kita sekarang dalam kaitannya dengan hal-hal terakhir: kebangkitan, surga, neraka, api penyucian.

Pertanyaan tentang kuasa Yesus

Yesus sudah berada di kota Yerusalem. Ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala serta para tetua orang Yahudi di Yerusalem sudah lama menanti saat untuk menghancurkan reputasi Yesus yang selama ini ‘viral’ di mana-mana. Begitu melihat Yesus di Yerusalem, pertanyaanpertama mereka kepada Yesus adalah, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu, siapa yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?” (Luk 20,2). Yesus tidak memberikan jawaban langsung, sebaliknya Dia bertanya tentang kuasa Yohanes Pembaptis. Merekatidak mampu menjawab pertanyaan Yesus. Perumpamaan Yesustentang penggarap kebun anggur yang jahat menyinggung perasaanahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala. Dan sejak saat itu, diskusiantara Yesus dengan para ahli Taurat, imam-imam kepala serta tetuaorang-orang Yahudi di Yerusalem semakin memanas. Merekaberusaha untuk menangkap Yesus tetapi mereka gagal karena takutkepada orang banyak (Luk 20,19). 

Pertanyaan tentang membayar upeti kepada Kaisar

Para lawan Yesus tidak berhenti untuk berperkara. Mereka terusmengamati-amati Yesus dan mencari celah untuk menyerang-Nya. Ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala menyuruh orang lain untuk menjerat Yesus dengan pertanyaan yang menjebak. Suatu pertanyaandiajukan, “Apakah kami (orang Israel) diperbolehkan membayar pajakkepada Kaisar atau tidak?” (Luk 20,22). Dalam pertanyaan ituterkandung niat untuk membenturkan Yesus dengan penguasa romawi. Para lawan Yesus berharap dapat menangkap Yesus berdasarkanjawaban-Nya atas pertanyaan mereka. Yesus bisa dituduh makar dan mengobarkan kebencian terhadap pemerintah Romawi jika Diamenjawab “orang Israel tidak boleh membayar upeti”. Sebaliknya, Diajuga akan dituduh sebagai pro-penjajah asing dan tidak nasionalis jikamenjawab “orang Israel wajib membayar upeti kepada Kaisarromawi”. Jawaban Yesus sungguh mengejutkan dan menghancurkanplot jahat lawan-Nya. Lukas mencatat bahwa lewat jawaban-Nya yang jenius, Yesus mengajar murid-murid dan para pendengar-Nya untuk menjadi warga yang taat, baik kepada Kerajaan Allah maupun kepadapemerintah yang sah di bumi ini (Luk 20,25).

Orang-orang Saduki Yerusalem

Cerita-cerita tentang bagaimana Yesus membungkam ahli-ahli Tauratdan imam-imam kepala membuat banyak orang heran. Yerusalemtelah dipenuhi dengan cerita-cerita tentang Yesus dan ajaran-Nya. Sekarang, tampillah beberapa orang Saduki yang penasaran dan merasa terusik oleh kehadiran Yesus di Yerusalem. Mereka itumerupakan kelompok yang sangat konservatif dalam masyarakatIsrael. Orang-orang Saduki menolak semua perkembangan dogmatisberdasarkan tradisi lisan. Mereka lebih mempertahankan doktrin-doktrin Israel yang lebih tua. Karenanya, mereka menyangkalkeabadian jiwa, kebangkitan badan, dan keberadaan para malaikat (lih.Kis 4,1–2; 23,6–9). Dalam hal prinsipial ini mereka sangat berbedadengan orang-orang Farisi. 

Ajaran moral orang-orang Saduki itu sangat ketat dan kaku menuruthukum tertulis dengan perhatian utama pada pelaksanaan dan pemeliharaan ibadah atau ritual lahiriah. Secara politis mereka adalah orang-orang dengan pemikiran pragmatis. Mereka menyesuaikan diridengan Herodes Agung dan kemudian berteman dengan dominasiRomawi. Di bawah kepemimpinan keluarga Hanas, yang menjabatimam agung selama bertahun-tahun, mereka lebih sukamempertahankan status quo dan tinggal di zona nyaman mereka. 

Pertanyaan tentang kebangkitan badan

Beberapa orang Saduki datang kepada Yesus dan mempertanyakanajaran tentang kebangkitan. Dengan mengutip hukum Musa dalam Ulangan 25,5 dan Kej 38,8 tentang kewajiban menikahi istri saudarauntuk melahirkan ahli waris keluarga, beberapa orang Saduki itumengajukan suatu contoh kasus keluarga. 

“Ada tujuh bersaudara. Yang pertama menikah dan meninggal tanpameninggalkan ahli waris. Yang keduamengikuti peraturan yang adamenikahi istri saudara laki-laki ini dan meninggal tanpameninggalkan ahli warisSaudara-saudara yang tersisa semuamemenuhi tanggung jawab merekatetapi tidak ada yang meninggalkan ahli waris. Pada saat kebangkitandia akan menjadiistri siapa?” Orang Saduki tahu bahwa baik Yesus maupun orang Farisi tidak akan menjawab, “Akan menjadi istri ketujuh saudarasecara bersamaan”, jadi mereka merasa yakin bahwa seluruh doktrinkebangkitan harus ditolak karena tidak masuk akal.

Yesus membantah premis orang-orang Saduki bahwa situasi dan kondisi di dunia sekarang ini akan berlanjut seperti ini di dunia yang akan datang sesudah kematian. Di zaman yang baru itu tidak akan adalagi kematian dan kebutuhan untuk berkembang biak melaluiperkawinan akan berhenti. Selanjutnya Yesus mendasarkan ajarantentang kebangkitan pada Hukum Musa, yang merupakan otoritastertinggi bagi orang Saduki. Dia merujuk pada kisah semak bernyaladalam Kel 3,6, di mana Tuhan, yakni Yahweh, menyebut Diri-Nya sendiri sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Jika setelah lama mereka meninggal Tuhan masih tetap menjadi Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, maka mereka pasti masih hidup, karena orang mati tidakdapat memiliki Allah. Hanya orang yang masih hidup yang bisamemiliki. Lebih penting lagi Yesus menegaskan bahwa “Tuhanbukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup” (Luk 20,38). 

Serangan Saduki terhadap kebangkitan adalah serangan terhadapkehidupan setelah kematian secara umum, karena mereka tidak hanyamenyangkal kebangkitan tetapi juga kehidupan setelah kematian. BagiYesus, sebagaimana dicatat oleh penginjil Lukas, kebangkitan orang mati jelas merupakan peristiwa masa depan (Luk 14,14; Kis 23,6; 24,15, 21). Namun demikian Yesus dalam Injil Lukas juga percayabahwa para leluhur masih hidup pada saat ini. Demikian juga Yesusmengajarkan bahwa ada kehidupan segera sesudah kematian dan kebangkitan di akhir zaman (lih. 16,19-31; 23,39-43). Karena Abraham, Ishak, dan Yakub masih hidup sekarang, ketidakpercayaanorang Saduki akan kehidupan setelah kematian disangkal; dan karenakeberadaan tanpa tubuh para bapa bangsa saat ini belum lengkap, mereka harus menemukan pemenuhannya dalam kebangkitan badan di akhir zaman.

Pesan Singkat

Seperti dalam perikop sebelumnya, Lukas berusaha menunjukkanhikmat dan pengetahuan Yesus yang luar biasa karena hikmat-Nya lebih besar daripada kebijaksanaan semua manusia. Lukas juga mengingatkan dalam Luk 20,35a bahwa tidak semua orang akanberpartisipasi dalam berkat kebangkitan. Sebaliknya, hanya merekayang “dianggap layak” yang akan mengalami kebangkitan. Siapa yang dianggap layak untuk kebangkitan itu?

Penginjil Lukas tidak menganggap perlu untuk menggambarkanbagaimana seseorang “dianggap layak”. Dia mengandaikan para pembacanya akan mengingat pengajaran-pengajaran dan tuntutan-tuntutan Yesus yang telah disampaikan sepanjang perjalanan merekamenuju Yerusalem. Misalnya, mengingat kisah Luk 18,14, di mana pemungut cukai yang rendah hati dan bertobatlah yang dibenarkan, yaitu dinyatakan benar. 

Quezon City 2022@donjustin

Leave a Reply

Your email address will not be published.