Mukjizat Usai 13 Jam Operasi dan 8 Hari di ICU

Sukacita dan kegembiraan sejati dialami oleh Romo Yohanes Bosco Sumisran Pr, menyongsong 25 tahun imamatnya sore itu, Rabu (16/11).

Romo Yohanes Bosco Sumisran Pr | Foto: dokumentasi KOMSOS KAPal & Majalah FIAT

Sukacita itu diterima dan dihidupi melalui mukjizat yang diterimanya.

“Mukjizat itu terjadi kalamana saya selesai bedah kepala. Pada 22 Mei 1999, dengan proses yang begitu panjang. Yang saya ingat kala itu, saya berjumpa dengan kakaknya Romo Avien. Saya dibawa ke ruang operasi, lalu dia mengatakan, ‘Romo mana lengannya?’ Tatkala saya berikan lengan, beliau mengatakan, ‘Sakit sedikit, Romo.’ Dan setelah itu, saya tak sadarkan diri,” kata Romo Misran mengawali ceritanya.

Romo Yohanes Bosco Sumisran Pr menerima hadiah dari Romo Dhani SCJ | Foto: dokumentasi KOMSOS KAPal & Majalah FIAT

Romo Misran mengidap tumor yang bersarang di otaknya waktu itu.

“Karena saya tidak sadarkan diri, maka saya di ruang operasi 13 jam. Nggak tahu apa yang dilakukan tenaga medis. Lalu masuk ICU, perkiraan saya 3 atau 4 hari, rupanya 8 hari. Masuk dalam alam ketiadaan,” kisah imam yang sekarang melayani sebagai pastor rekan di Paroki Katedral Santa Maria Palembang ini.

Sesadarnya Romo Misran, dia tidak langsung pulih. “Dan ketika sadar apa yang terjadi? Semuanya yang saya lihat, saya rasakan, terjungkir semua. Semua terbalik. Lalu yang berikutnya inilah yang luar biasa, bahwa selain Tuhan itu juga setia, tapi Tuhan juga berbelas kasih,” pungkasnya.

Romo Yohanes Bosco Sumisran Pr paling kanan | Foto: dokumentasi KOMSOS KAPal & Majalah FIAT

Belas kasih Tuhan hadir dalam orang-orang yang setia merawat dan mendoakannya. Kala itu, dua orang biarawati Carolus Borromeus, mendoakannya setiap jam 3 sore.

“(Mereka) setiap (hari) hadir jam 15 kurang 5 menit. Kalau tidak memegang tangan saya, memegang kaki saya. Mereka berdua mengatakan, ‘Romo kita berdoa.’ Saya tidak tahu doa apa. Tapi setelah 3 hari, baru saya pahami, ternyata mereka doa Koronka Kerahiman Ilahi,” katanya.

Di hari ke-9, Romo Misran mengalami mukjizat.

“Pada hari ke-9 saya rasakan ada sebuah sinar kemerahan dan kebiruan, menyinari kepala saya sampai ke kaki. Dan pada saat itu, badan saya, yang pakai pakaian rumah sakit, basah kuyup. Lalu tiba-tiba saya bisa melompat dari tempat tidur,” kenangnya.

Mukjizat ini menjadikan Romo Misran sebagai pribadi pendoa. Ketika para imam di komunitas Katedral Santa Maria Palembang sudah siap sarapan pukul 07.00 WIB, usai Misa Harian, Romo Misran masih melanjutkan doanya di ruang doa pastoran. **

Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.