Untuk pertama kalinya, aku diminta untuk memberikan Sakramen Pengakuan Dosa di salah satu penjara di Hong Kong dua Minggu yang lalu. Ini bukan permintaan dari pengelola penjara untuk memberikan pelayanan rohani kepada para napi, tetapi permintaan dari salah satu napi melalui seorang suster agar dikunjungi oleh seorang imam untuk pengakuan dosa.
Oleh karenanya, aku mengunjungi penjara melalui jalur kunjungan personal, yang sejajar dengan kunjungan dari anggota keluarga atau kenalan terdekat. Proses untuk masuk (kunjungan) menjadi begitu rumit, dengan pemeriksaan yang berlapis, yang memakan waktu hampir dua jam, tapi kesempatan untuk bertemu seorang napi hanyalah 30 menit, dan itu pun dibatasi oleh kaca pembatas yang tebal, dengan petugas mondar mandir di belakangku.
Ketika memasuki ruang sempit untuk pertemuan, aku sedikit bergetar. Suasana dan interior ruangannya mirip dengan apa yang aku lihat dalam film-film. Aku mengawali langkah dengan gentar dan “Wuih… seram juga ya,” kata hatiku.
Dalam perjalanan di lorong menuju jendela (counter) nomor 5, aku sempat melirik ke bagian dalam. Kulihat beberapa napi sudah duduk di nomornya masing-masing untuk menunggu orang yang akan mengunjunginya. Di saat yang sama dengan kunjunganku, memang ada sekitar 6 pengunjung.
Sepintas, napi-napi itu tidak seseram yang kubayangkan. Bahkan baju coklat lengan panjang yang kupakai, kok mirip dengan seragam napi-napi tersebut, jadi aku malah kemudian merasa dekat dan menjadi bagian dari mereka.

Sampailah aku di jendela nomor lima. Sempat canggung menyapa dan memulai obrolan, juga karena suara napi di depanku tidak begitu jelas, meskipun sudah menggunakan alat telepon. Aku berdiri untuk mendekatkan telinga di jendela, tapi segera dihardik petugas untuk duduk.
Di sebelah kananku, omongan pengunjungnya keras sekali, membuatku semakin tidak bisa fokus untuk mendengarkan yang aku kunjungin. Di depanku ada tiga alat telepon, aku coba semua, tapi suaranya hanya sayup-sayup. Tidak ada jalan lain, selain waktu terus berjalan, aku segera meminta yang aku kunjungi untuk mengaku dosa dan aku berusaha keras untuk bisa mendengarkan. Setelah pengakuan dosa selesai, ada sekitar sepuluh menit untuk ngobrol hal-hal yang lain.
Tiga puluh menit serasa cuma tiga menit. Ketika suasana baru mulai cair dan enak untuk berbicara dengan terbuka, aku harus pamitan. Ketika sedang semangat-semangatnya ia untuk berkisah, kami harus segera berpisah. Ketika masih sangat ingin ia ditemani, waktunya sudah habis. Itulah hidup! Kata-kata “Hidup itu hanya sekedar mampir ngombe,” terasa banget dalam momenku tersebut.
Namun ketika aku terbayang, bahwa ia harus mendekam dalam penjara selama 7 tahun, dan masih harus menjalani selama 3 tahun lagi, “Hidup itu hanya sekedar mampir ngombe” terasa menjadi hambar.
Di balik matanya yang berkaca-kaca, aku bisa sedikit merasakan tekanan berat batinnya untuk merindukan udara bebas. Ia sangat merindukan keluarga, istri dan anak-anaknya, dan kampung halamannya.
Mengingat sebulan lagi akan ada perayaan Natal, Ia mengungkapkan betapa merindukan merayakan Natal bersama keluarga. Kerinduan Natal bersama keluarga sangat bisa aku rasakan, karena aku sendiri semenjak masuk seminari pada tahun 1993 sampai hari ini tidak lagi bisa merayakan Natal di tengah keluarga. Tiga tahun terasa masih sangat panjang dan hari demi hari berjalan sangat lambat. Siapa bilang hidup itu sekedar mampir ngombe? Ungkapan itu akan terasa sangat pahit bagi dirinya.
Aku sendiri tidak tertarik dan tidak ingin tahu mengapa ia dipenjara, kalau ia sendiri tidak menceritakannya sendiri. Pertemuan selama 30 menit memang belum bisa untuk mengenali banyak hal, meskipun ia sudah kelihatan sangat bebas dan terbuka untuk berkisah tentang apa saja yang berkaitan dengan dirinya. Namun apa pun kesalahannya, aku tidak akan memperhitungkannya untuk kemudian menilai dan menyikapinya.
Semoga kehadiranku, yang mungkin akan ditindaklanjuti dengan kunjungan-kunjungan berikutnya, akan membuatnya merasa bahwa waktu berjalan begitu cepat. Semoga tak akan terasa bagi dirinya bahwa kemudian pesawat akan segera menerbangkannya ke Nigeria untuk melepaskan dahaga pada keluarga dan kampung halamannya, khususnya jerit bahagia anak puterinya di dalam pelukannya. Tuhan memberkatimu, hai temanku bernomor 6503.
** Agustinus Guntoro SCJ – Shatin, 22 November 2022
